Aku berteriak, "Jangan! Jangan sengat aku. Aku tak ingin disakiti!"
Tapi, anehnya, tiba-tiba lebah itu berbicara kepadaku.
"Aku tidak akan menyengatmu. Aku hanya ingin berteman denganmu."
"Benarkah?" tanyaku.
"Kenalkan, aku seekor lebah pekerja. Aku tinggal di dalam batang
pohon itu, bersama dengan ribuan temanku."
"Wah! Temanmu banyak sekali! Apa saja yang kalian lakukan sehari-hari?"
"Kami membersihkan sarang, mengumpulkan makanan dan membawanya
ke sarang, membuat madu, menghangatkan sarang dan menjaganya..."

Semua lebah madu di dalam sarang mengerjakan
tugas yang berlainan. Sebagian mengumpulkan makanan sementara
yang lain membersihkan sarang atau menghasilkan madu. |
"Tidakkah kalian lelah mengerjakan itu semua?"
"Ah, tidak. Kami tidak pernah merasa lelah. Kami lebah pekerja
saling berbagi tugas. Aku, misalnya, sekarang sedang membangun kotak-kotak
untuk menyimpan madu..."
"Aku jadi penasaran, bagaimana kalian dilahirkan?"
"Pernahkah kamu mendengar ada seekor ratu di setiap masyarakat
lebah madu? Sang ratu adalah lebah paling besar di antara lebah-lebah
betina. Ia bertelur pada waktu-waktu tertentu. Tetapi kami tidak
muncul dari telur begitu saja. Yang keluar dari telur adalah ulat-ulat
putih yang disebut larva. Larva itu tanpa mata dan sayap atau kaki.
Kemudian, dalam beberapa waktu mereka terbungkus sebagai kepompong.
Sementara itu, mereka diberi makan dan akan keluar dari kepompong
dengan rupa seperti aku."
"Hebat sekali! Tapi, kalian sangat banyak, tidakkah terjadi kekacauan
di dalam sarang?
"O, tidak pernah. Sarang kami sangat teratur. Ribuan lebah hidup
bersama secara
damai dengan tugasnya masing-masing."
"Sungguh menarik! Aku masih belum tahu bagaimana kalian dapat
teratur meskipun jumlahnya sangat banyak. Ayahku seorang manajer
perumahan, tapi ia sulit menjaga ketertiban di sana. Tetapi kamu
katakan kalian tidak mempunyai masalah seperti itu!
| Telur yang dikeluarkan oleh lebah ratu di dalam kamar pada
awalnya berbentuk serupa ulat (larva) pada gambar di bawah.
Larva ini akan tumbuh dan berubah bentuk menjadi lebah. Gambar
besar di bawah menunjukkan lebah pekerja yang berkumpul di sekeliling
lebah ratu. |
"Kamu pantas terkejut! Para ilmuwan pun juga terpesona dengan
hal ini. Mereka mencari tahu bagaimana keteraturan bisa dijaga.
Bagaimana setiap lebah tahu tugasnya. Bagaimana lebah sebanyak itu
dapat bekerja sama dengan baik. Aku dapat memberikan jawabannya
dengan singkat. Setiap kami mempunyai tugas tertentu; kami bekerja
keras dan melakukan tugas kami dengan sungguh-sungguh. Kami juga
berusaha agar tidak mengganggu ketertiban di dalam sarang."
Aku masih mendengarkan lebah pekerja itu dengan kagum. Tiba-tiba
Ibuku memanggil, "Umar! Umar! Di mana kau, nak? Kita sudah mau pulang."
 |
Lebah madu saling memberi makan. (samping)
Lebah mengipasi sarang dengan sayapnya. (bawah)Lebah pekerja
memberi makan larva di dalam kamar. (samping) Lebah berkerumun
pada batang sebuah pohon.
|
 |
"Ibu memanggilku. Aku harus pergi sekarang. Aku senang bertemu
denganmu. Terima kasih atas semua ceritamu!"
"Aku juga senang menemanimu. Mungkin kita bisa bertemu lagi! Bagaimana
kalau kita bertemu lagi di sini pekan depan? Jika kamu mau, aku
bisa membawamu ke sarang kami dan memperlihatkan kamar-kamar madu
kami."
 |
Lebah madu mengumpulkan pucuk buah berlendir untuk memproduksi
propolis. |
"Wah, pasti akan menyenangkan! Semoga orang tuaku bersedia datang
lagi pekan depan.
"Baiklah, sampai jumpa pekan depan.
Sesampai di rumah, aku segera membuka ensiklopedi binatang hadiah
ulang tahunku dari ayah. Segera aku buka halaman-halamannya dan
kutemukan bagian mengenai lebah madu. Aku melihat gambar seekor
lebah madu. Aku rindu teman kecilku…"
Aku membaca buku itu dengan penuh kekaguman. Aku sangat terpesona
hingga tidak merasakan berlalunya waktu. Ibuku menjadi bertanya-tanya
mengapa aku diam di kamar begitu lama. Dengan penuh semangat aku
langsung bercerita kepada beliau tentang lebah.
"Ibu tahu tidak kalau lebah madu itu benar-benar menakjubkan?
Coba Ibu dengarkan bagian akhir dari yang kubaca ini. Lebah madu
betina bertugas membersihkan kamar-kamar sarang. Mereka mengeluarkan
kotoran yang ditinggalkan lebah-lebah yang menetas dari kepompong
mereka, lebah-lebah yang mati di dalam sarang dan segala sesuatu
yang bukan menjadi bagian dari sarang. Tahukah Ibu apa yang mereka
lakukan kalau menemukan kotoran yang terlalu besar untuk diangkut
ke luar sarang? Mereka membungkus kotoran itu dengan zat yang disebut
"propolis". Zat ini dapat mencegahnya menjadi sumber bakteri yang
akan membahayakan kesehatan lebah lain di sarang. Sulit dipercaya,
tetapi propolis adalah zat anti bakteri, yaitu zat yang mencegah
bakteri untuk tumbuh…
Tahukah Ibu darimana mereka mendapatkan zat ini? Bagaimana makhluk
mungil ini bisa mengetahui sifat kimia suatu zat begitu banyaknya?
Sampai di situlah aku membaca. Aku akan ceritakan bagaimana mereka
membuat zat itu…"
"Lebah memang kecil tetapi sangat cerdas… Namun, kecerdasaan itu
bukanlah hasil usaha mereka. Ada Sang Pencipta yang mengajari apa
yang mereka kerjakan. Ketika seusiamu, Ibu juga membaca buku tentang
lebah. Ibu kagum seperti dirimu. Jika kamu suka, bacalah terus.
Ibu akan senang mendengarnya," kata ibu.
Ibu keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam. Pertanyaan
itu masih ada dalam pikiranku: dari mana lebah madu memperoleh zat
yang disebut propolis? Dari mana mereka belajar kegunaannya? Aku
lanjutkan membaca dengan penuh rasa ingin tahu.
Buku itu juga menceritakan bagaimana lebah madu menghasilkan propolis.
Pertama, memakai rahang bawahnya, mereka mengumpulkan zat yang disebut
resin dari tunas berlendir pada pohon-pohon tertentu. Mereka kemudian
membuat propolis dengan mencampur resin tersebut dengan air liur
mereka, dan mengangkutnya ke sarang dalam kantung khusus pada kaki
mereka.
Lebah madu membungkus semua benda yang tak dapat mereka keluarkan
dari sarang dengan zat itu. Dengan cara ini, benda-benda itu tidak
akan menjadi tempat tumbuh bakteri sehingga tidak membahayakan.
Pekerjaan ini mirip dengan pembuatan mumi.
Tapi siapakah yang mengajari lebah madu mengerjakan itu semua?
Bagaimana mereka mengetahui bahwa lebah yang mati atau kotoran dapat
membahayakan lebah-lebah di dalam sarang? Hal semacam ini tentu
tidak diketahui oleh seekor serangga. Bahkan aku pun baru mempelajari
hal ini sekarang. Aku jadi semakin ingin tahu. Mungkinkah lebah
madu mempunyai kesadaran seperti manusia?
 |
(Kiri) Lebah pekerja bertanggung jawab membuang
semua organisme dan larva mati yang dapat mengganggu keamanan
dan kesehatan sarang.(Kanan) Lebah pekerja mengusir pendatang
asing dari sarang. |
 |
Aku belum tahu jawabannya, aku teruskan saja membaca. Aku berkata
sendiri, "Sekarang aku mengerti bahwa aku belum tahu apa-apa mengenai
lebah! Banyak pertanyaan yang tak kuketahui jawabannya. Tapi aku
yakin akan menemukan jawabannya. Cepat atau lambat."
Buku itu juga menjelaskan bagaimana lebah membuat madu. Sebenarnya
aku sudah tahu kalau lebah madulah yang membuat madu. Tapi aku tak
tahu, bagaimana mereka membangun kamar-kamar madu. Apalagi cara
mereka membangun kamar-kamar itu adalah sebuah keajaiban tersendiri!
Kamar-kamar madu berbentuk segi enam atau heksagonal. Lebah madu
memulai pembuatan kamar itu dari bagian atas sarang. Dimulai dari
beberapa titik, mereka membuat dua atau tiga baris ke bawah. Aku
sungguh tak mengerti bagaimana kamar-kamar tersebut bisa tersusun
sedemikian rapi padahal pembuatannya dimulai dari beberapa titik?
Apalagi, tak ada tanda-tanda penyambungan di antara kamar-kamar
tersebut.
Aku pernah memperhatikan Ibu sedang merajut. Ibu
selalu memulai dari satu titik. Aku membayangkan apa jadinya rajutan
itu jika ibu memulainya dari tiga titik yang berbeda… Boleh jadi
hasilnya akan terlihat kurang bagus! Kalau begitu, lebah madu pastilah
binatang yang sangat teliti…
Aku mengambil selembar kertas dan pensil. Dimulai dari beberapa
tempat, aku mulai menggambar segi enam-segi enam. Aku berusaha mempertemukan
deretan segi enam tersebut di tengah-tengah kertas. Aku menggambar
tanpa bantuan penggaris, jangka dan tanpa membuat perhitungan.

Umar mencoba menggambar segienam-segienam
serapi mungkin sebagaimana sarang lebah madu. Tetapi tanpa bantuan
alat-alat tertentu seperti penggaris dan jangka, ia tidak berhasil
sebagaimana lebah madu. Kalian pun dapat mencobanya sendiri.
|
Aku tahu bahwa itu tak mungkin berhasil. Lalu bagaimana para lebah
madu dapat mengerjakannya? Bagaimana mereka dapat membangun kamar-kamar
segi enam dengan baik?
 |
Tidak ada titik-titik sambungan
yang nampak pada kamar-kamar yang dibuat oleh lebah madu. Kamar
madu adalah satu kesatuan, seolah-olah ia dibangun oleh satu
orang saja.
Hal ini sungguh menakjubkan karena lebah memulai pembuatan kamar-kamar
penyusun sarang dari beberapa tempat yang berbeda. |
 |
 |
 |

Lebah mengumpulkan sari madu dari bunga
dan bakalan buah. |
Hal lain yang menarik adalah bahwa lebah yang lain segera mengerti
sampai dimana pembangunan tersebut. Pada saat lebah-lebah sedang
meneruskan pembangunan sarang, sekelompok lebah yang lain akan bergabung
dan memulai pembuatan kamar dari titik yang lain. Walaupun begitu
tak ada kekacauan dalam bekerja. Lebah tetap menghasilkan bangunan
yang sempurna.
Aku juga membaca bagian tentang teknik pembuatan madu. Aku sangat
terpesona membaca proses luar biasa ini. Buku itu bercerita bahwa
asal madu adalah nectar yang dikumpulkan lebah dari bunga-bunga
dan bakal buah. Setelah dikumpulkan, nektar ini diubah menjadi madu.
Ada lagi yang penting dalam buku itu. Lebah harus kerja keras untuk
menghasilkan madu. Maksudnya begini, 900 ekor lebah harus bekerja
seharian untuk mengumpulkan setengah kilogram nektar. Bahkan ada
yang lebih mengherankan lagi: 17 ribu ekor lebah harus mengunjungi
10 juta bunga untuk menghasilkan 450 gram madu murni. Sebuah pekerjaan
yang amat berat bagi mereka. Namun demikian, lebah tetap bekerja
keras dan menghasilkan madu yang jumlahnya lebih dari yang mereka
butuhkan. Ditambah lagi, mereka tidak memakai sebagian besar dari
madu tersebut, malahan menawarkannya kepada kita.
Sungguh mengherankan. Meski panjang tubuhnya hanya sekitar tiga
sentimeter, lebah-lebah bekerja sangat menakjubkan. Apa yang menjadi
sumber kesadaran, keterampilan, dan kekuatan ini? Bagaimana mereka
bisa memiliki kebijakan, kesadaran, dan pengetahuan tentang kimia
dan matematika? Mengapa mereka bekerja begitu keras untuk menghasilkan
madu?
Kubawa bukuku kepada Ayah. Aku ceritakan semua yang telah aku pelajari,
dan bertanya bagaimana lebah bisa memperoleh segala kemampuannya
itu. Sambil tersenyum, Ayah mengusap kepalaku dan berkata:
"Kamu benar. Kita melihat pelajaran dan karya seni yang tinggi
dalam kehidupan lebah. Tetapi apakah itu hanya pada lebah? Sebenarnya,
semua binatang memiliki keteraturan yang sempurna. Bahkan dalam
setiap bagian alam semesta ini! Ayah akan membacakan sebuah ayat
dari al Qur'an mengenai lebah. Dengarkan baik-baik!
"Sekarang aku mulai mengerti, Ayah. Allahlah yang menyuruh lebah
untuk bertingkahlaku demikian. Allah sangat sayang kepada kita hingga
Allah meminta lebah untuk membuat madu yang berguna sebagai obat.
Sungguh menyenangkan dapat mengerti kebaikan Allah.
| "Dan Rabbmu mewahyukan
kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon
kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah
dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu
yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar
minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat
obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi
orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl [16]: 68-69) |
 |
"Kamu pasti kagum jika mengamati kesempurnaan semut, nyamuk, unta,
burung, ikan, bunga, pohon, bintang, lautan atau semua yang ada
di muka bumi. Semua ini menunjukkan bahwa setiap bagian alam semesta
ini diatur dengan seni yang indah. Inilah karya seni Allah, yang
menciptakanmu, Ayah dan Ibu, lebah, burung betet, kelinci, tupai,
planet, angkasa, matahari, dan seisi alam semesta. Allahlah tuhan
segala sesuatu.
Segala sesuatu terjadi dengan ijinNya dan atas kehendakNya. Dialah
pencipta lebah madu. Semua yang mereka lakukan adalah dengan ijinNya.
Kehebatan binatang ini menunjukkan kebaikan Allah yang tak tertandingi.
Semua serba ajaib, jika kamu melihat segala sesuatu di sekelilingmu."
Ayahku benar. Segala yang dilihat di sekeliling kita menunjukkan
adanya Allah yang Maha Perkasa. Aku yakin benar, "Allahlah yang
Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Pencipta segala sesuatu."
Akhirnya aku menemukan semua jawaban dari pertanyaanku. Lebah madu
tidaklah memiliki kelebihan seperti yang kamu lihat! Tidak mungkin
bagi mereka untuk mempunyai kelebihan seperti itu! Apa yang mereka
lakukan adalah atas petunjuk Allah, pencipta mereka, sehingga mereka
mampu menampilkan kehebatan yang membuat kita semua kagum.
Sepekan
ini kuhabiskan waktu untuk memberitahu setiap orang yang aku temui
tentang lebah madu. Baik ibu, ayah, keponakan serta teman-temanku.
Di akhir pekan aku meminta Ayah untuk menemaniku ke taman lagi.
"Ayah, akhir pekan ini kita lari santai lagi, kan?"
"Sebenarnya Ayah tidak berencana ke sana akhir pekan ini. Tapi
kalau kamu mau, mengapa tidak?"
Aku sangat senang mendengarnya. Aku bertanya-tanya akankah aku
bertemu lebah madu yang dulu lagi.
Aku semakin gembira, ketika kami sampai di taman. Aku tak sabar
untuk bertemu dengan lebah madu itu lagi. Aku mulai berlari-lari
bersama ayah. Tak berapa lama, kami sampai di tempat aku pertama
kali bertemu dengan lebah itu. Aku katakan kepada Ayah bahwa aku
ingin melihat-lihat di sekitar tempat itu. Ayah mengijinkan, tapi
memintaku agar tidak pulang terlambat. Aku segera berlari ke tempat
pertemuan kami. Temanku ternyata telah ada di sana menunggu. Sepertinya
ia telah menunggu cukup lama.
"Hai! Aku senang bertemu denganmu lagi!"
"Aku juga! Selamat datang! Senang bertemu kamu. Aku akan tunjukkan
sarang lebah hari ini."
"O, ya? Tahu tidak, aku memikirkan kamar madumu yang mengagumkan
itu selama sepekan? Aku tak sabar untuk melihatnya!"
Dari sebuah pohon beberapa langkah dariku, suara dengungan mulai
terdengar. Aku tak berani mendekatinya jika tidak bersama temanku
ini. Lebah mungil itu berjanji bahwa tak akan terjadi apa-apa denganku.
Aku percaya padanya.
Ketika kami semakin dekat dengan batang pohon itu, aku ingat betapa
indah di dalamnya. Bunyi terdengar berdengung-dengung. Lebah madu
adalah salah satu binatang pekerja keras. Mereka bekerja tanpa henti
dan menghasilkan madu yang lezat dan berguna untuk manusia.
Teman mungilku menunjukkan kamar-kamar madu. Kamar-kamar madu itu
tersusun dengan sangat rapi. Setiap orang pasti bertanya-tanya bagaimana
makhluk mungil ini bisa membuatnya.
Aku
melihat kamar-kamar tersebut tersusun atas segienam-segienam yang
sempurna. Dalam pelajaran matematika pekan lalu, aku menanyakan
tentang segienam kepada guruku. Beliau menjelaskan tentang segienam,
tapi aku masih belum mengerti.
Aku tanyakan kepada temanku bagiamana cara pembuatan kamar madu
segienam tersebut. Ia mengatakan kalau lebah madu yang umurnya lebih
tua akan dapat menjelaskannya dengan lebih baik. Ia kemudian meminta
lebah madu tua menjawab pertanyaanku:
"Ketika kami membangun kamar segienam, sudut bagian dalam kamar
adalah hal yang penting. Kami harus membuat setiap sudut 120 derajat.
Selain itu, kemiringan kamar terhadap tanah juga sangat penting.
Jika kami memperhatikan petunjuk yang pertama dan tidak menghiraukan
syarat yang ke dua, kamar itu tak akan terbentuk dengan sempurna.
Semua madu yang kami simpan akan tumpah ke tanah.
"Wah maaf, aku sulit memahaminya. Bagaimana lebah madu dapat melakukan
perhitungan ini tanpa kesalahan? Bagaimana kalian bisa membuat tiap
sudut tepat 120 derajat? Apalagi kalian tidak memakai peralatan
ketika membangun sarang. Aku ingat kertas yang ada bentuk-bentuk
geometris tak beraturan saat aku mencoba membuat susunan segi enam
yang benar... Aku semakin kagum pada kalian!"
"Janganlah kagum pada kami. Kami tidak melakukan itu karena keahlian
kami. Itu semua adalah keahlian bawaan. Artinya, kami dilahirkan
lengkap dengan keahlian itu. Kami tidak memperoleh pelatihan atau
semacamnya."
"Kalian menunjukkan pelajaran yang mulia! Setiap orang perlu belajar
hal-hal yang kalian lakukan. Jika boleh, aku ingin bertanya lagi."
"Silakan..."
"Mengapa kalian membangun kamar madu dalam bentuk segienam?"
"Oh itu… Kamu ingin tahu mengapa kami tidak membuatnya dalam bentuk
bujursangkar, segitiga, segilima atau segidelapan? Jika kami membuatnya
dalam bentuk lain selain segienam, akan ada bagian yang tak terpakai
antar kamar. Bila demikian kami hanya dapat menyimpan sedikit madu
dan perlu lebih banyak lilin untuk menutupi daerah yang kosong.

Ketika membangun kamar-kamar, lebah madu
memperhitungkan besarnya sudut layaknya insinyur yang ahli.
Pada akhirnya, sarang yang terbentuk adalah keajaiban teknik
konstruksi. Tak diragukan lagi bahwa lebah-lebah mungil tersebut
tak dapat melakukan perhitungan-perhitungan semacam itu. Sebagaimana
makhluk lain di alam semesta ini, mereka bekerja berdasarkan
ilham dari Allah. |
Sebenarnya kami dapat menyimpan dalam kamar segiempat atau segitiga.
Tapi segienam adalah bentuk dengan keliling paling pendek. Segienam
membutuhkan lilin lebih sedikit dibandingkan segitiga atau segiempat.
Jadi, kamar segienam dapat menyimpan madu lebih banyak dengan menggunakan
lilin yang sedikit."
Aku tak percaya dengan apa yang kudengar! Aku mendapat pelajaran
teknik dari lebah madu yang mungil dan cantik... Masih ada beberapa
hal yang ingin aku tanyakan. Tetapi hari semakin sore, kami meninggalkan
Lebah Tua dan menemui ayahku.
"Aku telah belajar banyak darimu dan dari lebah madu yang lain.
Sekarang aku sadar bahwa dulu aku tidak menyadari keindahan yang
kulihat! Kamu telah mengajariku bahwa ada keteraturan yang sempurna
di alam semesta.
Mulai sekarang, aku berharap dapat melihat seluruh kesempurnaan
ini. Terima kasih banyak!"
"Tak perlu berterimakasih teman kecilku. Ingatlah, kesempurnaan
ini bukan berasal dari kami. Kami hanya mengerjakan apa yang telah
diajarkan kepada kami. Sampai jumpa!"
Begitu meninggalkan lebah madu tersebut, aku mendengar Ayah memanggilku.
Hari semakin sore. Aku segera kembali menemui ayahku, tetapi aku
masih ingat kepada teman kecilku! Ketika aku memasuki mobil, kumelihat
kupu-kupu. Ia memiliki paduan warna dan bentuk yang indah pada sayapnya.
Aku akan pergi ke perpustakaan besok dan belajar lebih banyak tentang
kupu-kupu.
| Lebah madu mengumpulkan nektar dari bunga untuk memproduksi
madu. |
Tak ada yang mampu menghitung semua keindahan yang diciptakan Allah.
Aku sadar bahwa masih sangat banyak yang harus dipelajari...
"Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah
Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Al Baqarah [2]:
32)
|