EPISODE PEMBENTUKAN ATOM
Alam semesta, dengan dimensi yang luasnya tak
terjangkau pemahaman manusia, berfungsi pada keseimbangan yang sensitif
tanpa pernah gagal. Alam semesta juga berfungsi dengan keteraturan terencana,
dan sudah demikian sejak awal pembentukannya. Bagaimana alam raya yang
luas ini terwujud, akan menuju ke mana, dan bagaimana hukum-hukum alam
bekerja mempertahankan keteraturan dan keseimbangan di dalamnya, selalu
menjadi perhatian manusia sejak dulu sampai sekarang. Para ilmuwan telah
melakukan penelitian tak terhitung banyaknya mengenai subjek ini dan menghasilkan
pelbagai teori dan pendapat. Bagi para ilmuwan yang mengukur rancangan
dan keteraturan alam semesta dengan menggunakan akal dan kesadaran mereka,
tidaklah susah sama sekali untuk menjelaskan kesempurnaan ini. Ini karena
Allah, Zat Mahakuasa, Penguasa seluruh jagat raya, yang menciptakan rancangan
sempurna ini. Dan ini sangatlah jelas bagi semua orang yang mau berpikir
dan bernalar. Allah menyebutkan kebenaran nyata ini dalam ayat Al Quran:
"Sesungguhnya dalam penciptaaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal." (QS. Ali 'Imran, 3: 190)
Akan tetapi, para ilmuwan yang tidak mengindahkan
bukti penciptaan itu mengalami kesulitan besar dalam menjawab pertanyaan
yang tak ada habisnya ini. Mereka tidak ragu menggunakan segala cara seperti
menghasut, membuat teori-teori palsu tanpa dasar ilmiah apa pun. Bila
tersudut, mereka bahkan menipu untuk mempertahankan teori-teori yang bertentangan
sepenuhnya dengan kenyataan. Namun seluruh perkembangan ilmu pengetahuan
yang terjadi hingga awal abad ke-21, membawa kita pada sebuah fakta tunggal;
alam semesta diciptakan dari ketiadaan oleh Allah yang Mahakuasa dan Maha
Mengetahui.
Penciptaan Alam Semesta
Selama berabad-abad, orang mencari jawaban untuk
pertanyaan "bagaimana asal-usul alam semesta". Beribu-ribu model alam
semesta telah diajukan dan beribu-ribu teori telah dihasilkan di sepanjang
sejarah. Namun tinjauan terhadap semua teori ini mengungkapkan bahwa pada
intinya mereka hanya terbagi dalam dua model berbeda. Yang pertama adalah
konsep alam semesta tak terbatas tanpa permulaan, yang tidak lagi memiliki
dasar ilmiah apa pun. Yang kedua adalah bahwa alam semesta diciptakan
dari ketiadaan, yang sekarang ini dikenal dalam masyarakat ilmiah sebagai
"model standar".
 Sir Fred Hoyle |
Model pertama, yang telah terbukti tak dapat
bertahan, menyatakan bahwa alam semesta telah ada sejak waktu yang tak
terbatas dan akan terus bertahan dalam keadaannya yang sekarang ini. Gagasan
alam semesta tak terbatas ini telah berkembang sejak zaman Yunani kuno,
dan telah menyebar ke dunia barat sebagai hasil filosofi materialistis
dan telah dibangkitkan kembali dengan Renaisans. Inti Renaisans adalah
pengkajian kembali hasil kerja para pemikir Yunani kuno. Jadi, filosofi
materialis dan konsep alam semesta tak terbatas yang dididukung oleh filosofi
ini dicomot dari rak sejarah yang berdebu oleh kepentingan ideologis dan
filosofis, dan disampaikan pada manusia sebagai fakta-fakta ilmiah.
Penganut materialisme seperti Karl Marx dan
Friedrich Engels dengan penuh semangat merangkul gagasan itu, yang jelas
menyediakan dasar-dasar kuat untuk ideologi materialistis mereka. Dengan
demikian keduanya memainkan peran penting dalam memperkenalkan model ini
pada abad ke-20.
Menurut model "alam semesta tak terbatas"- yang
sangat populer di paro pertama abad ke-20 - alam semesta tidak memiliki
awal maupun akhir. Alam semesta tidak pernah diciptakan dari tidak ada
menjadi ada, tidak pula akan hancur. Menurut teori ini, yang juga menjadi
dasar untuk filosofi materialis, alam semesta memiliki struktur yang statis.
Namun, temuan-temuan ilmiah belakangan menyatakan bahwa teori ini sama
sekali salah dan tidak ilmiah. Alam semesta tidak akan ada tanpa awal;
alam semesta ini bermula dan telah diciptakan dari ketiadaan.
Gagasan bahwa alam semesta ini tak terbatas,
yaitu tidak berawal, selalu menjadi titik awal ateisme dan ideologi yang
mengingkari Allah. Ini karena dalam pandangan mereka, bila alam semesta
ini tak berawal, berarti tidak ada yang menciptakan. Namun ilmu pengetahuan
segera mengungkapkan bukti pasti bahwa argumen-argumen materialis ini
tidak berlaku, dan alam semesta diawali dengan sebuah ledakan dahsyat
yang disebut Big Bang. Muncul dari sesuatu yang tidak ada hanya berarti
satu hal: "Penciptaan". Allah, Yang Mahakuasa, menciptakan seluruh alam
semesta.
Ahli astronomi Inggris ternama, Sir Fred Hoyle,
adalah salah seorang ilmuwan yang penasaran dengan fakta ini. Dengan teori
"steady-state"-nya, Hoyle menerima bahwa alam semesta mengalami perluasan,
tetapi tetap berkeras bahwa alam semesta tidak terbatas dalam skalanya
dan tanpa awal maupun akhir. Menurut model ini, ketika alam semesta meluas,
materi muncul secara spontan dan dalam kuantitas sebesar yang dibutuhan.
Teori ini, yang berlandaskan pada premis-premis yang sangat tidak praktis
atau sulit, dan yang diajukan dengan kepentingan tunggal untuk mendukung
gagasan "alam semesta tak terbatas tanpa awal atau akhir", bertolak belakang
dengan teori Big Bang. Padahal teori Big Bang secara ilmiah telah terbukti
dengan sejumlah besar pengamatan. Hoyle dan yang lainnya terus mengingkarinya,
namun semua perkembangan ilmu alam menyatakan sebaliknya.
Big Bang dan Perluasan Alam Semesta

Alam semesta terbentuk melalui sebuah ledakan besar (Big Bang).
Kesempurnaan sistem alam semesta saat ini berawal dari hamburan
partikel dan gaya yang tersusun dalam keharmonisan dan keteraturan
yang luar biasa sejak tahap awal ledakan besar ini.
|
Pada abad ke-20, terjadi lompatan besar di bidang
astronomi. Pertama, pada tahun 1922, eorang ahli fisika Rusia, Alexandre
Friedmann, menemukan bahwa alam semesta tidak memiliki struktur yang statis.
Berpijak pada Teori Relativitas Einstein, Friedmann menghitung bahwa sebuah
impuls kecil saja dapat mengakibatkan alam semesta meluas atau mengerut.
Georges Lemaître, salah seorang ahli astronomi terkenal Belgia, adalah
yang pertama kali menyadari pentingnya hitungan ini. Hitungan ini membawanya
pada kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal dan terus-menerus meluas
sejak permulaan. Ada hal penting lainnya yang diangkat Lemaître: menurutnya,
seharusnya ada kelebihan radiasi yang tertinggal dari Big Bang dan ini
dapat dilacak. Lemaître yakin bahwa penjelasannya benar walaupun pada
awalnya tidak mendapat banyak dukungan dari kalangan ilmuwan. Sementara
itu, bukti lebih lanjut bahwa alam semesta meluas mulai bermunculan. Pada
waktu itu, Edwin Hubble, seorang ahli astronomi dari Amerika, yang mengamati
bintang-bintang dengan teleskop raksasanya, menemukan bahwa bintang-bintang
memancarkan cahaya geser merah (red shift) tergantung jarak mereka. Dengan
temuan ini, yang diperolehnya di Observatorium Mount Wilson, California,
Hubble menantang seluruh ilmuwan yang mengajukan dan membela teori "keadaan-tetap"
(steady-state), dan mengguncangkan pondasi model alam semesta yang dianut
saat itu.

Georges Lemaître |
Temuan-temuan Hubble bergantung pada aturan
fisika bahwa spektrum cahaya yang bergerak menuju titik pengamatan cenderung
mendekati ungu, sementara spektrum cahaya yang bergerak meninggalkan
titik pengamatan cenderung mendekati merah. Ini menunjukkan bahwa benda-benda
angkasa yang diamati dari Observatorium Mount Wilson California bergerak
menjauhi bumi. Pengamatan selanjutnya mengungkapkan bahwa bintang dan
galaksi tidak hanya bergerak menjauhi kita tetapi juga saling menjauhi
satu sama lain. Pergerakan benda-benda angkasa ini sekali lagi membuktikan
bahwa alam semesta meluas. Dalam buku Stephen Hawking's Universe, David
Filkin menyatakan gagasan menarik tentang perkembangan ini:
Dalam dua tahun, Lemaître
mendengar berita yang selama ini berharap pun dia tak berani. Hubble telah
mengamati bahwa cahaya dari galaksi adalah geser merah, dan menurut efek
Doppler, ini berarti bahwa alam semesta meluas. Kini, ini hanya soal waktu.
Einstein tertarik pada kerja Hubble dan memutuskan untuk mengunjunginya
di Observatorium Mount Wilson. Pada saat yang sama, Lemaître memberikan
kuliah di Institut Teknologi California, dan berhasil menyudutkan sekaligus
Hubble dan Einstein. Dia mengajukan teori "atom primitif"-nya dengan hati-hati,
selangkah demi selangkah, meyakinkan bahwa seluruh alam semesta telah
diciptakan "pada hari yang tidak memiliki hari kemarin". Dengan sangat
saksama, dia menjelaskan seluruh perhitungan matematikanya. Ketika selesai,
dia tidak dapat memercayai telinganya sendiri. Einstein berdiri dan menyatakan
bahwa apa yang baru saja didengarnya adalah "interpretasi yang paling
indah dan paling memuaskan yang pernah kudengar" dan selanjutnya mengakui
bahwa menciptakan "konstanta kosmologis" adalah "kesalahan terbesar" dalam
hidupnya.1
|

Bawah: Analisis cahaya dua bintang Alpha Centauri selama beberapa
waktu menunjukkan serangkaian perubahan pada spektrumnya.
Perubahan cahaya geser merah dan biru menunjukkan gambar dua
bintang yang menyelesaikan orbit mengitari satu sama lain
sekali setiap 80 tahun.
|
Kiri: Edwin Hubble |
Fakta yang telah mengejutkan Einstein, yang
dianggap sebagai salah satu ilmuwan terpenting dalam sejarah, adalah bahwa
alam semesta mempunyai permulaan.

Albert Einstein, ketika berkunjung ke Observatorium Wilson, tempat
Edwin Hubble melakukan pengamatannya.
|
Pengamatan lebih jauh pada perluasan alam semesta
telah membuka jalan bagi pendapat-pendapat baru. Sejak saat itu, para
ilmuwan sampai pada model alam semesta yang semakin kecil apabila seseorang
kembali ke masa lampau, dan pada akhirnya mengerut dan konvergen pada
satu titik, seperti yang dikemukakan Lemaître. Kesimpulan yang dapat diturunkan
dari model ini adalah bahwa pada suatu masa, semua benda alam semesta
memadat dalam sebuah titik-massa tunggal yang memiliki "volume nol" karena
gaya gravitasinya yang sangat besar. Alam semesta kita menjadi ada sebagai
hasil dari ledakan titik-massa yang memiliki "volume nol" ini. Ledakan
ini disebut "Big Bang".
 |
Menurut efek Doppler, bila galaksi berjarak
tetap dari bumi, spektrum gelombang cahaya akan muncul pada posisi
standar (atas). Bila galaksi bergerak menjauhi kita, gelombang
itu akan tampak meregang dan geser merah (tengah). Bila galaksi
bergerak menuju kita, gelombang akan tampak menciut dan geser
biru (bawah) |
Big Bang menunjukkan hal lain. Mengatakan bahwa
sesuatu memiliki volume nol itu berarti sama dengan mengatakan bahwa
sesuatu itu "tidak ada". Seluruh alam semesta ini diciptakan dari sesuatu
yang "tidak ada" ini. Selanjutnya, alam semesta ini memiliki awal, bertolak
belakang dengan pandangan materialisme, yang beranggapan bahwa "alam semesta
adalah kekal".
Big Bang dengan Bukti
Begitu ditetapkan kenyataan bahwa alam semesta
mulai terbentuk setelah sebuah ledakan besar, para ahli astrofisika mencapai
kemajuan pesat dalam penelitian-penelitian mereka. Menurut George Gamow,
apabila alam semesta terbentuk dalam ledakan besar dan tiba-tiba, pastilah
tertinggal sejumlah radiasi dari ledakan tersebut yang menyebar rata
di seluruh alam semesta.
Pada tahun-tahun setelah hipotesis ini disampaikan,
temuan-temuan ilmiah susul-menyusul terjadi, dan semuanya membuktikan
kebenaran Big Bang. Pada tahun 1965, dua orang peneliti bernama Arno
Penzias dan Robert Wilson menemukan suatu bentuk radiasi yang hingga
saat itu tak teramati, yang disebut sebagai "radiasi latar belakang kosmis".
Radiasi ini tidak seperti benda-benda alam semesta lainnya karena keseragamannya
yang luar biasa. Radiasi ini tidak terlokalisasi, juga tidak memiliki
sumber yang jelas; justru tersebar merata di mana-mana. Segera disadari
bahwa radiasi ini adalah peninggalan Big Bang, yang masih memancar sejak
ledakan besar itu terjadi. Gamow telah meneliti frekuensi radiasi tersebut,
dan menemukan bahwa besarnya mendekati nilai yang telah diramalkan oleh
para ilmuwan. Penzias dan Wilson dianugerahi Penghargaan Nobel atas temuan
mereka itu.
| |
| Tanduk Antena
raksasa di Laboratorium Bell di mana Arno Penzias dan Robert
Wilson menemukan radiasi latar belakang kosmis. Penzias dan
Wilson menerima penghargan Nobel untuk temuan ini pada tahun
1978. |
George Smoot dan tim NASA-nya hanya membutuhkan
waktu delapan menit untuk mencocokkan tingkatan-tingkatan radiasi yang
dilaporkan oleh Penzias dan Wilson, berkat satelit ruang angkasa COBE.
Sensor-sensor yang sensitif pada satelit berhasil memberikan kemenangan
baru bagi teori Big Bang. Sensor-sensor itu membenarkan keberadaan suatu
bentuk yang rapat dan panas sisa dari Big Bang. COBE memotret sisa-sisa
nyata dari Big Bang, dan kelompok ilmuwan dipaksa mengakuinya.
Bukti lainnya berhubungan dengan jumlah relatif
Hidrogen dan Helium di alam semesta. Perhitungan menunjukkan bahwa proporsi
gas hidrogen-helium di alam semesta cocok dengan hitungan teoretis dari
apa yang seharusnya tersisa setelah Big Bang.
Penemuan bukti penting ini menyebabkan teori
Big Bang diterima sepenuhnya oleh dunia ilmiah. Dalam sebuah artikel di
Scientific American yang terbit bulan Oktober 1994 disampaikan bahwa "model
Big Bang adalah satu-satunya model yang diakui pada abad ke-20".
Satu persatu, pengakuan
mulai berdatangan dari nama-nama yang mempertahankan konsep "alam semesta
tak terbatas" selama bertahun-tahun. Dennis Sciama, yang mempertahankan
teori "steady-state" bersama Fred Hoyle, menggambarkan situasi mereka
setelah pembuktian Big Bang. Dia berkata bahwa mulanya dia mendukung
Hoyle tetapi, setelah bukti mulai menumpuk, dia harus mengakui bahwa permainan
ini telah selesai dan teori steady-state harus dibuang.2

Peluncuran satelit COBE mensubstansikan lebih lanjut bahwa alam
semesta terbentuk dari suatu ledakan besar.
|
Allah Menciptakan Alam Semesta dari Ketiadaan
Dengan banyaknya bukti yang ditemukan sains,
pendapat yang berhubungan dengan "alam semesta tak terbatas" disingkirkan
ke tumpukan sampah sejarah gagasan ilmiah. Namun, pertanyaan-pertanyaan
yang lebih penting bermunculan: Apa yang ada sebelum sebelum Big Bang?
Kekuatan apa kiranya yang dapat menyebabkan ledakan raksasa yang menghasilkan
alam semesta yang sebelumnya tidak ada?
Ada satu jawaban yang dapat diberikan untuk
pertanyaan apa yang ada sebelum Big Bang: Allah, Yang Mahakuasa, yang
menciptakan bumi dan langit dalam keteraturan sempurna. Banyak ilmuwan,
terlepas dari mereka beriman atau tidak, terpaksa mengakui kebenaran ini.
Walaupun mereka mungkin menolak untuk mengakui kenyataan ini dalam media
ilmiah, pengakuan mereka secara tersirat membongkar rahasia mereka. Anthony
Flews, seorang filosof ateis terkenal, berkata:
Jelas sekali, pengakuan itu
baik bagi jiwa. Oleh karena itu, saya akan mulai dengan mengakui bahwa
penganut ateis Stratonis harus merasa malu dengan konsensus kosmologis
dewasa ini. Karena tampaknya para ahli kosmologi menyediakan bukti ilmiah
untuk apa yang dianggap St. Thomas tidak terbukti secara filosofis; yaitu,
bahwa alam semesta mempunyai permulaan. Selama alam semesta dapat dengan
mudah dianggap tidak hanya tanpa akhir, namun juga tanpa permulaan, akan
tetap mudah untuk mendesak bahwa keberadaannya yang tiba-tiba, dan apa
pun yang ditemukan menjadi ciri-cirinya yang paling mendasar, harus diterima
sebagai penjelasan akhir. Meskipun saya mempercayai bahwa teori itu (alam
semesta tanpa batas) masih benar, tentu saja tidak mudah atau nyaman untuk
mempertahankan posisi ini di hadapan kisah Ledakan Besar. 3
Sebagian ilmuwan seperti H. P. Lipson, fisikawan
Inggris yang materialis, mengakui bahwa mereka terpaksa menerima teori
Big Bang:
Jika benda hidup bukan
disebabkan oleh interaksi atom-atom, gaya-gaya alam, dan radiasi, bagaimana
dia muncul? … Namun saya rasa, kita harus … mengakui bahwa satu-satunya
penjelasan yang paling masuk akal adalah penciptaan. Saya tahu ini aib
bagi para fisikawan, termasuk saya, tapi kita tidak boleh menolak apa
yang tidak kita sukai bila bukti-bukti eksperimental mendukungnya.4
Kesimpulannya, sains menunjuk pada suatu
realita tunggal apakah para ilmuwan materialis menyukainya atau tidak.
Benda dan waktu diciptakan oleh Pencipta, Yang Mahakuasa, dan yang menciptakan
langit, bumi dan segala sesuatu yang berada di antaranya: Mahakuasa Allah.
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit
dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui
bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah,
ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." (QS. Ath-Thalaaq, 65: 12)
Tanda-Tanda Al Quran
Selain menjelaskan alam semesta, model Big Bang
mempunyai implikasi penting lain. Seperti yang ditunjukkan dalam kutipan
dari Anthony Flew di atas, ilmu alam telah membuktikan pandangan yang
selama ini hanya didukung oleh sumber-sumber agama.
Kebenaran yang dipertahankan oleh sumber-sumber
agama adalah realitas penciptaan dari ketiadaan. Ini telah dinyatakan
dalam kitab-kitab suci yang telah berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi
manusia selama ribuan tahun. Dalam semua kitab suci seperti Perjanjian
Lama, Perjanjian Baru, dan Al Quran, dinyatakan bahwa alam semesta dan
segala isinya diciptakan dari ketiadaan oleh Allah.
Dalam satu-satunya kitab Allah yang keutuhannya
bertahan, Al Quran, terdapat pernyataan tentang penciptaan alam semesta
dari ketiadaan, di samping bagaimana kemunculannya, yang sesuai dengan
ilmu pengetahuan abad ke-20, meskipun diungkapkan 14 abad yang lalu.
Pertama, penciptaan alam semesta dari ketiadaan
diungkapkan dalam Al Quran sebagai berikut:
"Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana
Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan
segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu." (QS. Al An'aam, 6:
101)
Aspek penting lain yang diungkapkan dalam Al
Quran empat belas abad sebelum penemuan modern Big Bang dan temuan yang
berkaitan dengannya adalah bahwa ketika diciptakan, alam semesta menempati
volume yang sangat kecil:
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak
mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduannya dahulu adalah suatu
yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan
segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"
(QS. Al Anbiyaa', 22: 30)
Terjemahan ayat di atas mengandung pemilihan
kata yang sangat penting dalam bahasa aslinya, bahasa Arab. Kata ratk
diterjemahkan "suatu yang padu" yang berarti "bercampur, bersatu" dalam
kamus bahasa Arab. Kata itu digunakan untuk merujuk dua zat berbeda yang
menjadi satu. Frase "Kami pisahkan" diterjemahkan dari kata kerja bahasa
Arab, fatk yang mengandung makna bahwa sesuatu terjadi dengan memisahkan
atau menghancurkan struktur ratk. Tumbuhnya biji dari tanah adalah salah
satu tindakan yang menggunakan kata kerja ini.
Mari kita tinjau lagi ayat tersebut dengan pengetahuan
ini di benak kita. Dalam ayat itu, langit dan bumi pada mulanya berstatus
ratk. Mereka dipisahkan (fatk) dengan satu muncul dari yang lainnya. Menariknya,
para ahli kosmologi berbicara tentang "telur kosmik" yang mengandung semua
materi di alam semesta sebelum Big Bang. Dengan kata lain, semua langit
dan bumi terkandung dalam telur ini dalam kondisi ratk. Telur kosmik ini
meledak dengan dahsyat menyebabkan materinya menjadi fatk dan dalam proses
itu terciptalah struktur keseluruhan alam semesta.
Kebenaran lain yang terungkap dalam Al Quran
adalah pengembangan jagat raya yang ditemukan pada akhir tahun 1920-an.
Penemuan Hubble tentang geser merah dalam spektrum cahaya bintang diungkapkan
dalam Al Quran sebagai berikut:
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan
(Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (QS. Adz-Dzaariyat,
51: 47)
Singkatnya, temuan-temuan ilmu alam modern mengarah
pada kebenaran yang dinyatakan dalam Al Quran dan tidak mendukung dogma
materialis. Materialis boleh saja menyatakan bahwa semua itu "kebetulan"
namun fakta yang jelas adalah bahwa alam semesta terjadi sebagai hasil
penciptaan Allah dan satu-satunya pengetahuan yang benar tentang asal
mula alam semesta ditemukan dalam sabda Allah yang diturunkan kepada kita.
Penciptaan Materi dari Momen ke Momen
Seperti yang telah ditunjukkan teori Big Bang
sekali lagi, Allah menciptakan alam semesta dari tidak ada. Ledakan besar
ini melibatkan banyak gradasi dan detail halus, mendorong manusia untuk
berpikir, dan semua materi ini tidak bisa dijelaskan sebagai suatu kebetulan
saja.
suhu pada setiap momen ledakan, jumlah partikel
atom, gaya-gaya yang bekerja, dan intensitasnya, harus memiliki nilai
yang sangat tepat. Bahkan jika satu nilai saja tidak tepat, alam semesta
yang kita tinggali sekarang ini tak akan pernah terbentuk. Akhir seperti
itu tak akan terelakkan jika satu saja dari nilai yang disebutkan di atas
bergeser sedikit yang meskipun secara matematis hanya dinyatakan dengan
nilai mendekati "0".

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa
yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung,
dan pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian
besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah
ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah
maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah
berbuat apa yang Dia kehendaki.
(QS. Al Hajj, 22: 18)
|
Pendek kata, alam semesta dan bahan penyusunnya,
yaitu atom, yang sebelumnya tidak ada menjadi ada segera setelah Big Bang
berkat keseimbangan yang telah diciptakan oleh Allah ini. Para ilmuwan
melakukan banyak penelitian untuk memahami kronologis kejadian-kejadian
yang berlangsung selama proses ini dan pengaturan hukum-hukum fisika yang
bekerja pada setiap fase. Fakta-fakta yang sekarang diakui para ilmuwan
yang telah bergelut di bidang ini adalah sebagai berikut:
Momen "0": "Momen" ini adalah momen ketika
materi dan waktu belum ada, dan ketika ledakan berlangsung, yang dalam
fisika disebut sebagai t (waktu) = 0. Ini berarti bahwa tak ada apa-apa
pada saat t = 0 ini. Untuk mendapatkan gambaran kejadian sebelum "momen"
- ketika penciptaan dimulai - ini, kita harus tahu hukum-hukum fisika
yang ada saat itu, karena hukum-hukum fisika yang berlaku sekarang tidak
mencakup momen awal ledakan.
Kejadian-kejadian yang
mungkin didefinisikan oleh para ahli fisika dimulai pada 10-43 detik,
yang merupakan unit waktu terkecil. Ini adalah frame waktu yang sulit
diterima daya pikir manusia. Apa yang terjadi dalam periode waktu sangat
kecil, yang bahkan tidak bisa kita pahami ini? Para ahli fisika sampai
kini masih belum mampu mengembangkan teori yang menjelaskan dengan detail
lengkap kejadian-kejadian pada momen itu.5
Ini karena para ilmuwan tidak memiliki data
yang dibutuhkan untuk membuat perhitungan. Aturan matematika dan fisika
menemui kebuntuan pada batasan tersebut. Jadi, kejadian sebelum ledakan
dan pada momen pertama ledakan, yang setiap detailnya bersandar pada
keseimbangan rumit, mengandung realita di luar batasan pikiran manusia
dan ilmu fisika.
Penciptaan ini, yang dimulai sebelum adanya
waktu, mengarahkan momen demi momen pada pembentukan materi alam semesta
dan hukum-hukum fisika. Sekarang mari kita cermati peristiwa-peristiwa
yang terjadi dengan ketepatan luar biasa dalam waktu yang sangat singkat
selama ledakan ini.
Sebagaimana disebutkan di atas, dalam ilmu fisika,
segala sesuatu dapat dihitung dari 10-43 detik dan seterusnya, dan energi
serta waktu dapat didefinisikan hanya setelah waktu ini. Pada saat terjadinya
penciptaan, suhu men-capai 1032 (100.000.000.000.000.000.000. 000.000.000.000)
Kelvin. Sebagai pemban-dingnya, derajat suhu matahari dinyatakan dalam
satuan juta (108) dan derajat suhu beberapa bintang lainnya yang jauh
lebih besar dari matahari dinyatakan dalam satuan milyar (1011). Bahwa
suhu tertinggi yang dapat diukur saat ini terbatas dalam milyaran derajat,
mengungkapkan betapa tinggi suhu pada 10-43 detik.
l Bila kita meninjau selangkah
ke depan dari periode 10-43 detik ini, kita sampai pada titik ketika
waktu berada pada 10-37 detik. Selang waktu antara dua periode ini tidak
seperti satu atau dua detik saja. Kita berbicara mengenai selang waktu
sesingkat satu per quadrilliun-kali-quadrilliun detik, suhu masih luar
biasa tinggi, yaitu 1029 (100.000.000.000.000.000.000.000.000.000) K.
Tak satu atom pun tercipta pada fase ini.6
l Satu langkah lagi, kita sampai pada 10-2 detik.
Periode waktu ini mengindikasikan seperseratus detik. Saat ini, suhu seratus
milyar derajat. Pada titik ini, "alam semesta awal" mulai terbentuk. Partikel-partikel
seperti proton dan netron yang membentuk inti atom belum lagi muncul.
Hanya ada elektron dan anti-partikelnya, positron (anti-elektron), karena
temperatur dan kecepatan alam semesta pada titik ini hanya memungkinkan
pembentukan partikel-partikel ini. Kurang dari sedetik setelah ledakan
terjadi, terbentuklah elektron-elektron dan positron-positron.
Mulai dari momen ini dan seterusnya, waktu pembentukan
setiap partikel sub-atom sangatlah penting. Setiap partikel harus muncul
pada momen yang tepat sehingga hukum-hukum fisika yang sekarang dapat
terbentuk. Pemilihan partikel apa yang terbentuk terlebih dahulu sangat
penting. Bahkan sedikit saja penyimpangan dalam urutan atau waktu, akan
menggagalkan pembentukan alam semesta menjadi sekarang ini.
Mari kita berhenti sejenak dan berpikir.
Teori Big Bang memberikan bukti keberadaan Allah
dengan menunjukkan bahwa semua materi yang membentuk alam semesta berasal
dari ketidakadaan. Bahkan teori ini menunjukkan bahwa bahan penyusun -
yaitu atom-atom - juga menjadi ada dalam waktu kurang dari satu detik
setelah Big Bang.
Keseimbangan dan keteraturan yang luar biasa
dalam partikel-partikel ini layak dijelaskan. Alam semesta mendapatkan
kondisinya yang sekarang ini berkat keseimbangan ini, yang akan digambarkan
lebih terrinci pada halaman-halaman berikutnya. Keseimbangan ini pula
yang membuat kita hidup damai. Pendeknya, pengaturan yang sempurna dan
hukum-hukum yang konsisten, "hukum-hukum fisika", telah terbentuk dari
ledakan yang biasanya menghasilkan kekacauan dan ketidak-teraturan. Ini
membuktikan bahwa setiap momen yang menyertai penciptaan alam semesta,
termasuk Big Bang, telah dirancang dengan sempurna. Sekarang, mari kita
melihat perkembangan selanjutnya.
l Langkah berikutnya adalah momen ketika waktu
telah berselang 10-1 detik. Pada saat ini, suhu adalah 30 milyar derajat.
Belum lagi satu detik terlewati dari t=0 ke tahap ini. Saat ini, netron,
proton dan partikel atom lainnya mulai muncul. Netron dan proton - struktur
yang akan kita analisis pada bab berikutnya - diciptakan dari yang tidak
ada dalam periode waktu yang bahkan lebih pendek dari satu detik.
l Mari kita perhatikan detik pertama setelah
ledakan. Kerapatan masif/kepadatan (massive density) pada waktu itu memberikan
angka sangat besar. Menurut perhitungan, nilai kepadatan massa pada tahap
ini adalah 3,8 milyar kilogram per liter. Mudah saja menyatakan angka
ini dalam milyaran kilogram secara aritmetik dan menunjukkannya di atas
kertas. Tapi sangatlah tidak mungkin membayangkannya dengan tepat. Untuk
memberikan contoh sederhana agar besarnya angka ini dapat dibayangkan,
kita dapat mengatakan "jika gunung Everest di Himalaya memiliki kepadatan
seperti ini, ia akan menelan bumi kita seketika dengan gaya gravitasi
yang dimilikinya."7
Atom Hidrogen |
Atom Helium |
l Karakteristik paling istimewa dari momen-momen
berikutnya adalah, pada saat itu, suhu telah mencapai tingkat lebih rendah.
Pada tahap ini alam semesta telah berusia kira-kira 14 detik, memiliki
suhu 3 milyar derajat dan terus meluas dengan kecepatan luar biasa.
Ini adalah stadium di mana inti atom yang stabil,
seperti inti Hidrogen dan Helium, mulai terbentuk. Satu proton dan satu
netron untuk pertama kalinya telah menemukan kondisi yang kondusif untuk
kebersamaan mereka. Dua partikel ini yang mempunyai massa kecil sekali
- antara ada dan tidak ada - namun karena gaya gravitasi, mulai menahan
kecepatan perluasan yang sangat hebat. Tampak jelas, sebuah proses yang
dramatis sadar dan terkendali sedang berlangsung di sini. Sebuah ledakan
padat memberikan jalan ke suatu keseimbangan yang hebat dan aturan yang
tepat. Proton dan netron telah mulai berkumpul untuk membentuk atom, balok
penyusun zat. Jelas tidaklah mungkin bagi par-tikel-partikel ini untuk
memiliki kekuatan dan kesadaran untuk membangun keseimbangan yang dibutuhkan
untuk pembentukan zat.
l Dalam periode setelah pembentukan ini, suhu
alam semesta telah turun 1 milyar derajat. Suhu ini enam puluh kali lebih
besar daripada suhu inti matahari kita. Hanya tiga menit dan dua detik
berselang dari momen pertama ke momen ini. Saat ini, partikel sub-atomik
seperti foton, proton, anti-proton, netron, dan anti-netron berjumlah
banyak sekali. Kuantitas semua partikel yang ada dalam fase ini dan interaksi
mereka terhadap satu sama lain sangat kritis. Begitu banyaknya sehingga
penyimpangan sedikit saja kuantitas partikel mana pun akan merusak tingkat
energi yang telah mereka atur dan mencegah perubahan energi menjadi materi.
Ambil elektron dan positron sebagai contoh:
bila elek-tron dan positron bergabung, energi akan dihasilkan. Untuk itu,
jumlah kedua partikel itu sangat penting. Katakanlah bahwa 10 unit elektron
bertemu dengan 8 unit positron. Dalam kasus ini, 8 dari 10 unit elektron
tadi berinteraksi dengan 8 unit positron dan menghasilkan energi. Dan
sebagai hasilnya, dua unit elektron dilepaskan. Karena elektron adalah
salah satu partikel yang membentuk atom, bahan penyusun alam semesta,
maka elektron harus tersedia sejumlah yang dibutuhkan dalam fase ini agar
alam semesta terbentuk. Dari contoh di atas, bila jumlah positron lebih
banyak daripada elektron, maka alih-alih elektron, positronlah yang akan
tersisa sebagai hasil dari energi yang dilepaskan dan alam semesta tidak
akan pernah terbentuk. Bila jumlah positron dan elektron sama, maka hanya
energi saja yang akan dihasilkan dan tidak ada yang tersisa untuk membentuk
alam semesta. Namun, kelebihan jumlah elektron telah diatur sedemikian
rupa sehingga sesuai dengan jumlah proton di alam semesta pada selang
waktu berikutnya setelah momen ini. Dalam atom yang akan terbentuk nanti,
jumlah elektron dan proton akan sama.
Jumlah partikel yang muncul setelah Big Bang
telah ditentukan dengan perhitungan sangat teliti, yang akhirnya menuju
pada pembentukan alam semesta. Profesor Steven Weinberg mengomentari betapa
kritisnya interaksi antara partikel-partikel ini:
Bila alam semesta dalam beberapa
menit pertama benar-benar terdiri dari jumlah partikel dan anti partikel
yang sama, semuanya akan hancur ketika suhu turun di bawah 1.000 juta
derajat, dan tidak akan ada yang tersisa kecuali radiasi. Ada bukti sangat
kuat yang menentang kemungkinan ini - kita ada di sini! Pasti ada kelebihan
jumlah elektron dari positron, proton dari anti-proton, dan netron dari
anti-netron, agar ada yang tersisa setelah penghancuran partikel dan anti-partikel
untuk menyediakan materi bagi alam semesta ini.8
l Sudah 34 menit dan 40 detik berlalu
sejak ledakan. Alam semesta sekarang berusia setengah jam. Suhu telah
turun dari yang semula milyaran derajat menjadi 300 juta derajat. Elektron
dan positron terus memproduksi energi dengan saling bertabrakan. Saat
itu, kuantitas partikel-partikel yang diperlukan telah berimbang sehingga
memungkinkan pembentukan alam semesta.
Ketika kecepatan ledakan menurun, partikel-partikel
ini, yang hampir tanpa massa, mulai saling berinteraksi. Atom hidrogen
pertama terbentuk oleh sebuah elektron yang masuk ke dalam orbit proton.
Pembentukan ini mengenalkan kita pada gaya-gaya dasar yang akan sering
kita temui di alam semesta.
Tidak diragukan lagi, partikel-partikel ini
- yang merupakan rancangan jauh di luar jangkauan pemahaman manusia dan
memiliki struktur unik serta bergantung pada keseimbangan rumit - tidak
mungkin muncul bersama secara kebetulan dan mengarah ke tujuan yang sama.
Kesempurnaan ini menuntun banyak peneliti yang mengkaji topik ini kepada
kesimpulan penting: ini adalah "penciptaan" dan ada pengawasan tiada tara
pada setiap momen penciptaan ini. Setiap partikel yang diciptakan setelah
ledakan dimaksudkan untuk terbentuk pada waktu tertentu, pada suhu tertentu,
dan pada kecepatan tertentu. Tampaknya sistem ini, yang bekerja hampir
menyerupai jam pengatur, telah diprogram dengan sangat tepat sebelum menjadi
aktif. Ini berarti bahwa Big Bang dan alam semesta sempurna yang berasal
dari Big Bang telah dirancang sebelum lahirnya ledakan dan setelah itu
dijalankan.
Dan
Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu.
Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)
(QS. An Nahl, 16:12)
|
Kuasa yang mengatur, merancang, dan mengendalikan
alam semesta ini tentu saja Allah, Pencipta segala sesuatu.
Rancangan ini dapat diamati tidak hanya dalam
atom tetapi juga dalam setiap objek di alam semesta baik besar maupun
kecil. Partikel-partikel ini, yang awalnya terhempas saling menjauh dengan
kecepatan cahaya, tidak hanya menyebabkan formasi atom-atom hidrogen tetapi
juga membangkitkan semua sistem raksasa yang mengisi alam semesta saat
ini. Atom, molekul, planet, matahari dan bintang, tata surya, galaksi,
quasar, dan lain-lain terbentuk menurut rencana yang agung dan dalam keteraturan
dan keseimbangan sempurna. Partikel-partikel yang dibutuhkan untuk membentuk
sebuah atom saja tak mungkin secara tidak sengaja muncul bersama-sama
dan menciptakan keseimbangan yang indah, sehingga lebih tidak beralasan
lagi dan sangat tidak logis untuk menyatakan bahwa planet, galaksi, dan
pendeknya, keseluruhan sistem di alam semesta terbentuk begitu saja dan
mengembangkan keseimbangannya sendiri. Kehendak yang membuat rancangan
unik ini adalah kehendak Allah, sang Pencipta seluruh alam semesta.
Atom-atom lainnya terbentuk setelah atom hidrogen,
yang merupakan keajaiban tersendiri. Pada poin ini pelbagai pertanyaan
muncul di benak, seperti "bagaimana atom-atom lainnya terbentuk? Mengapa
tidak semua proton dan netron membentuk atom hidrogen saja? Bagaimana
partikel-pertikel tersebut memutuskan atom apa yang akan mereka bentuk
dan seberapa banyak?" Jawaban dari pertanyaan ini kembali membawa kita
pada kesimpulan yang sama. Ada suatu kekuatan, kendali dan rancangan
yang hebat dalam pembentukan atom hidrogen dan atom-atom lain berikutnya.
Kendali dan rancangan ini melampaui kapasitas
akal manusia dan menunjukkan bahwa alam semesta jelaslah sebuah "penciptaan".
Hukum-hukum fisika yang berlaku setelah Big Bang tidak berubah sama sekali
selama hampir 17 miliar tahun terlalui. Lebih jauh, hukum-hukum ini didasari
oleh perhitungan yang begitu tepatnya sehingga penyimpangan sekadar milimeter
dari nilai yang sekarang dapat mengganggu struktur dan ketertiban umum
di seluruh alam semesta. Komentar seorang ahli fisika terkenal, Prof.
Stephen Hawkings, tentang hal ini sangat menarik. Hawkings menerangkan
bahwa fenomena-fenomena yang terjadi didasari oleh perhitungan yang jauh
lebih teliti daripada yang dapat kita bayangkan:
Jika satu detik setelah
Big Bang, kecepatan perluasan berkurang walaupun hanya satu bagian dari
seratus ribu juta juta, alam semesta ini dapat hancur kembali sebelum
mencapai ukurannya yang sekarang.9
Big Bang, yang dibangun dengan perhitungan yang
begitu teliti, dengan jelas mengungkapkan bahwa waktu, ruang, dan materi
tidak menjadi ada dengan begitu saja, namun diciptakan oleh Allah. Sama
sekali tidak mungkin, kejadian-kejadian yang disebut di atas berlangsung
karena kebetulan saja yang kemudian mengarah pada pembentukan atom, bahan
penyusun alam semesta.
Tidaklah mengejutkan, banyak ilmuwan yang meneliti
permasalahan ini telah menerima keberadaan sebuah kekuatan tanpa batas
dan kehendaknya dalam penciptaan alam semesta. Seorang ahli astrofisika
terkenal, Hugh Ross, menjelaskan bahwa sang Pencipta alam semesta ini
melampaui semua dimensi:
Bila didefinisikan, waktu
adalah dimensi di mana gejala sebab akibat berlangsung. Tidak ada waktu,
tidak ada sebab dan akibat. Bila permulaan waktu terjadi bersamaan dengan
permulaan alam semesta, seperti yang dikatakan teori ruang-waktu, maka
sebab dari alam semesta haruslah berupa suatu entitas yang bekerja dalam
dimensi waktu yang sepenuhnya berdiri sendiri dan telah ada sebelum dimensi
waktu kosmos. … Ini mengatakan kepada kita bahwa sang Pencipta adalah
transenden, bekerja diluar batas-batas dimensional alam semesta kita.
Ini mengatakan kepada kita bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri,
Tuhan juga bukan tercakup di dalam alam semesta. 10
Aspek terpenting dari Big Bang adalah, bahwasanya
kejadian ini memberi manusia kesempatan untuk memahami kekuasaan Allah
dengan lebih baik. Asal-muasal alam semesta dengan segala isinya dari
tidak ada, adalah satu dari tanda-tanda besar kekuasaan Allah. Keseimbangan
rumit dalam energi pada momen ledakan adalah tanda yang sangat nyata agar
kita merenungkan ilmu Allah yang tak berbatas.
Gaya-Gaya Fundamental di Alam Semesta
Kita telah menyebutkan bahwa hukum-hukum Fisika
di alam semesta mulai berlaku setelah Big Bang. Hukum-hukum ini didasari
"empat gaya fundamental" yang dikenal fisika modern dewasa ini. Gaya-gaya
ini terbentuk bersamaan dengan pembentukan partikel sub-atomik pertama
pada waktu spesifik segera setelah Big Bang, untuk membentuk seluruh aturan
dan sistem alam semesta. Atom-atom yang menyusun materi alam semesta terwujud
dan tersebar merata di alam semesta berkat interaksi gaya-gaya ini. Gaya-gaya
ini adalah gaya tarik massa atau yang dikenal sebagai gaya gravitasi,
gaya elektromagnetik, gaya nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah. Semua gaya
ini memiliki intensitas dan bidang kerja berbeda. Gaya nuklir kuat dan
gaya nuklir lemah beroperasi hanya pada skala subatomik. Dua gaya lainnya
- gaya gravitasi dan gaya elektromagnetik - mengatur kumpulan atom, atau
yang disebut "materi". Pengaturan tanpa cacat di atas bumi disebabkan
proporsi yang sangat rumit dari gaya-gaya ini. Perbandingan gaya-gaya
ini menghasilkan suatu hal yang menarik. Semua materi yang diciptakan
dan diedarkan ke penjuru alam semesta setelah Big Bang dibentuk oleh efek
gaya-gaya yang sangat jauh berbeda ini. Berikut adalah nilai-nilai keempat
gaya fundamental dengan selisih menakjubkan, dalam satuan standar internasional:
Gaya nuklir
kuat :15
Gaya nuklir lemah: 7,03x10-3
Gaya gravitasi: 5,90x10-39
Gaya elektromagnetik: 3,05x10-12 |
Gaya-gaya fundamental ini memungkinkan pembentukan
alam semesta melalui penyebaran kekuatan dengan sempurna. Proporsi antara
gaya-gaya ini didasarkan pada keseimbangan yang begitu rumit sehingga
menimbulkan efek khusus itu terhadap partikel-partikel pada proporsi ini
saja.
1. Kekuatan Raksasa di Dalam Inti: Gaya
Nuklir Kuat
Sampai di sini, kita telah menyaksikan bagaimana
atom diciptakan, momen demi momen, dan keseimbangan rumit yang berlaku
dalam penciptaan ini. Kita melihat bahwa semua yang ada di sekitar kita,
termasuk diri kita sendiri disusun oleh atom-atom, dan atom-atom ini mengandung
banyak partikel. Lalu, apakah gaya yang tetap menyatukan semua partikel
yang membentuk inti atom itu? Gaya yang menjaga inti tetap utuh, dan yang
merupakan gaya paling dahsyat menurut hukum-hukum fisika, adalah "gaya
nuklir kuat".
Gaya ini menjaga proton dan netron dalam inti
atom tetap di tempatnya. Inti atom dibentuk dengan cara demikian. Gaya
ini sangat kuat sehingga nyaris menyebabkan proton dan netron dalam inti
saling berikatan. Inilah sebabnya partikel-partikel kecil yang memiliki
gaya ini disebut juga "gluon" yang dalam bahasa Latin berarti lem. Kekuatan
ikatan tersebut disesuaikan dengan sangat teliti. Intensitas gaya ini
telah diatur secara spesifik agar proton dan netron tetap berjarak tertentu.
Bila gaya ini sedikit saja lebih kuat, maka proton dan netron akan saling
bertabrakan. Bila gaya ini sedikit saja lebih lemah, mereka akan saling
menjauh. Besarnya gaya ini tepat sesuai dengan yang dibutuhkan untuk membentuk
inti atom setelah detik-detik pertama Big Bang.
Pemboman Hiroshima dan Nagasaki menunjukkan
sedahsyat apa gaya nuklir kuat ini ketika dilepaskan. Satu-satunya alasan
mengapa bom atom sangat efektif adalah pelepasan sejumlah kecil gaya ini
yang tersembunyi di dalam inti atom. Hal ini akan dijelaskan lebih terperinci
pada bab-bab berikutnya.
2. Sabuk Pengaman Atom: Gaya Nuklir Lemah
Salah
satu faktor penting yang menjaga keteraturan di muka bumi ini adalah keseimbangan
di dalam atom. Keseimbangan ini menjaga agar segala sesuatu tidak tiba-tiba
terurai atau memancarkan radiasi berbahaya. "Gaya nuklir lemah" bertanggung
jawab atas keseimbangan antara proton dan netron dalam inti atom. Gaya
ini memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan inti yang mengandung
sejumlah besar netron dan proton.
Sembari keseimbangan ini dijaga, sebuah netron,
bila dibutuhkan dapat berubah menjadi proton. Karena jumlah proton dalam
inti di akhir proses berubah, atom berubah pula dan menjadi atom yang
lain. Di sini hasilnya sangatlah penting. Sebuah atom berubah menjadi
atom berbeda tanpa terurai dan meneruskan eksistensinya. Sabuk pengaman
ini melindungi organisme hidup dari bahaya yang akan muncul jika partikel-partikel
terurai tanpa terkendali dan membahayakan manusia
3. Gaya yang Menjaga Elektron Tetap pada
Orbitnya: Gaya Elektromagnetik
Penemuan gaya ini mengantarkan kita pada era
baru dalam dunia fisika. Baru pada saat itulah dipahami bahwa setiap partikel
mengandung "muatan listrik" menurut karakteristik strukturnya masing-masing
dan bahwa ada gaya di antara muatan-muatan listrik ini. Gaya ini membuat
partikel-partikel yang bermuatan listrik berlawanan saling tarik dan partikel-partikel
bermuatan sama akan saling tolak, sehingga menjamin proton dalam inti
atom dan elektron yang mengorbit di sekelilingnya tarik-menarik. Dengan
cara ini, "inti" dan "elektron", dua elemen dasar atom, tetap di tempat
mereka.
Manusia bisa berada di lingkungan tanpa gravitasi hanya selama
periode tertentu dengan menggunakan perlengkapan khusus. Makhluk
hidup hanya dapat bertahan hidup dalam sistem yang mempunyai gravitasi.
|
 |
Perubahan kekuatan sekecil apa pun pada gaya
ini dapat menyebabkan elektron-elektron terlepas jauh dari inti atau
melekat pada inti. Dalam kedua kasus ini, atom tidak mungkin terbentuk,
sehingga alam semesta pun tidak ada. Tetapi, sejak momen pertama gaya
ini terbentuk, proton-proton dalam inti menarik elektron dengan besar
gaya yang tepat dibutuhkan untuk pembentukan atom.
4. Gaya yang Menjaga Alam Semesta Tetap
Utuh: Gaya Gravitasi
Gravitasi adalah satu-satunya gaya yang dapat
kita rasakan sehari-hari, namun sedikit sekali yang kita ketahui tentangnya.
Gaya gravitasi sesungguhnya disebut "gaya tarik massa". Gaya ini paling
lemah dibandingkan gaya lainnya, namun karena gaya inilah, massa-massa
yang sangat besar tarik-menarik. Gaya inilah yang membuat galaksi dan
bintang-bintang di alam semesta tetap berada pada orbitnya masing-masing.
Bumi dan planet-planet lain tetap di dalam orbit tertentu mengitari matahari,
sekali lagi karena adanya gaya gravitasi. Kita dapat berjalan di atas
bumi karena gaya ini. Bila ada pengurangan dalam nilai gaya ini, bintang-bintang
akan jatuh, bumi akan keluar dari orbitnya, dan kita akan bertebaran ke
luar angkasa. Bila nilainya lebih besar sedikit saja, bintang-bintang
akan bertabrakan, bumi akan bergerak menuju matahari, dan kita akan melesak
ke dalam kerak bumi. Walaupun tampak kecil sekali kemungkinan ini bagi
Anda, semua itu tidak akan terelakkan bila gaya ini bergeser dari nilainya
yang sekarang sekalipun hanya untuk sesaat.
Rancangan
agung dan keteraturan sempurna di seluruh alam semesta diatur
dengan gaya-gaya fundamental ini. Pemilik keteraturan ini, tak
diragukan lagi, adalah Allah, yang menciptakan segalanya dari
ketiadaan tanpa cacat. Issac Newton (1642-1727), Bapak fisika
modern dan mekanika langit, yang dikenal sebagai "salah
satu ilmuwan terbesar di dunia" mengundang perhatian terhadap
kenyataan ini:
"Sistem matahari, planet-planet
dan komet yang sangat indah ini hanya dapat berlangsung dengan
tuntunan dan kendali Zat cerdas dan berkuasa. Zat ini mengatur
segalanya, bukan sebagai sukma dunia, namun sebagai Tuhan bagi
semuanya, dan demi kekuasaan-Nya. Dia biasa disebut Tuhan, Penguasa
semesta alam."
|
Semua ilmuwan yang sedang meneliti subjek ini
mengakui bahwa ketepatan nilai gaya-gaya fundamental ini sangat penting
demi keberadaan alam semesta.
Mengomentari hal ini, seorang ahli biologi molekuler
yang terkenal, Michael Denton menyatakan dalam bukunya Nature's Destiny:
How the Laws of Biology Reveal Purpose in the Universe:
Jika, misalnya, gaya
gravitasi satu triliun kali lebih kuat, maka alam semesta akan jauh lebih
kecil dan sejarah hidupnya jauh lebih pendek. Sebuah bintang rata-rata
akan mempunyai massa satu triliun lebih kecil dari matahari dan masa hidup
sekitar satu tahun. Di lain pihak, jika gravitasi kurang kuat, tidak ada
bintang atau galaksi yang akan pernah terbentuk. Hubungan dan nilai-nilai
lain tidak kurang kritisnya. Jika gaya nuklir kuat sedikit lebih lemah
saja, satu-satunya unsur yang akan stabil hanya hidrogen. Tidak ada atom
lain yang bisa terbentuk. Jika gaya nuklir kuat tersebut sedikit lebih
kuat dalam kaitannya dengan elektromagnetisme, maka inti atom yang terdiri
dari dua proton menjadi yang paling stabil di alam semesta - yang berarti
tidak akan ada hidrogen, dan jika ada bintang atau galaksi yang terbentuk,
mereka akan sangat berbeda dari bentuknya sekarang. Jelas sekali, jika
semua gaya dan konstanta ini tidak mempunyai nilai tepat demikian, takkan
ada bintang, supernova, planet, atom, dan kehidupan.11
Seorang ahli fisika terkemuka, Paul Davies,
menyatakan kekagumannya terhadap penetapan nilai-nilai hukum-hukum fisika
yang berlaku di alam semesta.
Bila seorang melanjutkan studi
kosmologi, keingintahuannya bertambah. Temuan-temuan tentang sejarah kosmos
membuat kita menerima bahwa perluasan alam semesta telah diatur dalam
gerakannya dengan ketepatan yang sangat mengagumkan.12
Rancangan agung dan keteraturan sempurna yang
berlaku di seluruh alam semesta dibangun di atas pondasi yang disediakan
gaya-gaya fundamental ini. Pemilik keteraturan ini, tanpa keraguan, adalah
Allah, yang menciptakan segala sesuatu tanpa cacat. Allah, Raja seluruh
alam, menjaga bintang-bintang tetap berada di orbitnya dengan gaya-gaya
terlemah, dan menjaga keutuhan inti atom dengan gaya-gaya terkuat. Semua
gaya bekerja sesuai dengan "ukuran" yang telah Dia tentukan. Allah menujukkan
keteraturan dalam penciptaan alam semesta dan keseimbangan "yang ditetapkan
dengan serapi-rapinya" dalam salah satu ayat-Nya:
"Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit
dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya
dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia
menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS. Al Furqan, 25:
2)
|