|
Bab 1
Berfikir secara Mendalam
Banyak yang beranggapan bahwa untuk "berfikir
secara mendalam", seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak
tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian
dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap "berfikir
secara mendalam" sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan.
Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan "filosof".
Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam
pendahuluan, Allah mewajibkan manusia untuk berfikir secara mendalam atau
merenung. Allah berfirman bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada manusia untuk
dipikirkan atau direnungkan: Ini adalah
sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran
orang-orang yang mempunyai pikiran" (QS. Shaad, 38: 29).
Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara
ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berfikir.
Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau
berusaha untuk berfikir mendalam akan terus-menerus hidup dalam kelalaian
yang sangat. Kata kelalaian mengandung arti "ketidakpedulian (tetapi
bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan, tidak menghiraukan,
dalam kecerobohan". Kelalaian manusia yang tidak berfikir adalah
akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan
diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang
sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka. Berkenaan
dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk
dalam golongan orang-orang yang lalai:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam
hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan
suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang
yang lalai." (QS. Al-A’raaf, 7: 205)
Dan berilah mereka peringatan
tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus.
Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman." (QS.
Maryam, 19: 39)
Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan tentang
mereka yang berfikir secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya
sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya,
Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu
mereka secara taklid buta tanpa berfikir, ataupun hanya sekedar mengikuti
kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor
yang tidak mau berfikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang
yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena tidak berfikir,
mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa
takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini sebagaimana digambarkan dalam
Al-Qur'an:
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah
bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan
Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?"
Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya
langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan
Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?"
Katakanlah: "Siapakah yang di
tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi,
tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan
Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah
kamu ditipu (disihir)?"
Sebenarnya Kami telah membawa
kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang
yang berdusta." (QS. Al-Mu’minuun, 23: 84-90)
Berfikir dapat membebaskan seseorang
Dari belenggu "sihir"
Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada
manusia, "…maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir
atau tersihir di sini mempunyai makna kelumpuhan mental atau akal yang
menguasai manusia secara menyeluruh. Akal yang tidak digunakan untuk berfikir
berarti bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan menjadi kabur, berperilaku
sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan di depan matanya, sarana
yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari yang salah menjadi lemah.
Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran yang sederhana sekalipun. Ia
tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk memahami peristiwa-peristiwa
luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu melihat bagian-bagian
rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan masyarakat
secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama ribuan
tahun serta menjauhkan diri dari berfikir sehingga seolah-olah telah menjadi
sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.
Pengaruh sihir yang bersifat kolektif tersebut
dapat dikiaskan sebagaimana berikut:
Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah
lapisan mendidih yang dinamakan magma, padahal kerak bumi sangatlah tipis.
Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah sebagaimana
tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti bahwa
magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah telapak
kaki kita!
Setiap orang mengetahui bahwa di bawah
permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan suhu yang sangat panas,
tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini dikarenakan para orang
tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis artikel di koran
yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka di universitas
tidak juga memikirkannya.
Ijinkanlah kami mengajak anda berfikir
sebentar tentang masalah ini. Anggaplah seseorang yang telah kehilangan
ingatan berusaha untuk mengenal sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
kepada setiap orang di sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana
ia berada. Apakah kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila diberitahukan
bahwa di bawah tempat dia berdiri terdapat sebuah bola api mendidih yang
dapat memancar dan berhamburan dari permukaan bumi pada saat terjadi gempa
yang hebat atau gunung meletus? Mari kita berbicara lebih jauh dan anggaplah
orang ini telah diberitahu bahwa bumi tempat ia berada hanyalah sebuah
planet kecil yang mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa
yang disebut ruang angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya
yang lebih besar dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor
dengan berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan
tidak mungkin meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian
menabraknya.
Mustahil orang ini mampu untuk tidak berfikir
sedetikpun ketika berada di tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap
saat mengancam jiwanya. Ia pun akan berfikir pula bagaimana mungkin manusia
dapat hidup dalam sebuah planet yang sebenarnya senantiasa berada di ujung
tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi
ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang sempurna tanpa cacat
sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki bahaya yang luar
biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan yang sangat
akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak menimpa manusia.
Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan segala makhluk
di atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya dengan kehendak
Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa
cacat yang diciptakan-Nya.
Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan,
atau bahkan trilyunan contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia.
Di bawah ini satu lagi contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami
bagaimana "kondisi lalai" dapat mempengaruhi sarana berfikir
manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya.
Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia
berlalu dan berakhir sangat cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah
laku seolah-olah mereka tidak akan pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan
pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian. Sungguh, ini adalah
sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara turun-temurun.
Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika ada yang berbicara
tentang kematian, orang-orang dengan segera menghentikan topik tersebut
karena takut kehilangan sihir yang selama ini membelenggu mereka dan tidak
berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh hidupnya
untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan kemudian
menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin berfikir
bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil,
rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan
sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk
tidak berfikir tentang kematian.
Namun, cepat atau lambat setiap manusia
pasti akan menemui ajalnya. Setelah itu, percaya atau tidak, setiap orang
akan memulai sebuah kehidupan yang kekal. Apakah kehidupannya yang abadi
tersebut berlangsung di surga atau di neraka, tergantung dari amal perbuatan
selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena hal ini adalah sebuah kebenaran
yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa manusia bertingkah
laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir yang telah menutup atau
membelenggu mereka akibat tidak berfikir dan merenung.
Orang-orang yang tidak dapat membebaskan
diri mereka dari sihir dengan cara berfikir, yang mengakibatkan mereka
berada dalam kelalaian, akan melihat kebenaran dengan mata kepala mereka
sendiri setelah mereka mati, sebagaimana yang diberitakan Allah kepada
kita dalam Al-Qur'an :
Sesungguhnya kamu berada dalam
keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang
menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (QS.
Qaaf, 50: 22)
Dalam ayat di atas penglihatan seseorang
menjadi kabur akibat tidak mau berfikir, akan tetapi penglihatannya menjadi
tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung
jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat.
Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin
saja membiarkan dirinya secara sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut.
Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan hal ini mereka akan hidup dengan
tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah bagi seseorang untuk merubah
kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan mental atau akalnya,
sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk mengetahui kenyataan. Allah
telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia yang merenung dan
berfikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu sihir pada saat mereka
masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang hakiki
dari segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan
dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.
Seseorang dapat berfikir kapanpun dan
di manapun

Kerumunan manusia ini mengajak manusia untuk merenungkan ciptaan Allah yang
agung. Sejak dunia ini ada, Allah telah menciptakan milyaran wajah manusia yang
berbeda satu sama lain. |
Berfikir tidaklah memerlukan waktu, tempat
ataupun kondisi khusus. Seseorang dapat berfikir sambil berjalan di jalan
raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer,
menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang
makan siang.
Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil,
seseorang melihat ratusan orang berada di luar. Ketika menyaksikan mereka,
ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai macam hal. Dalam benaknya
tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang disaksikannya
yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang
mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang ini
memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis,
bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat
sangat berbeda satu sama lain. Ketika berfikir sedikit mendalam, ia akan
teringat bahwa:
Allah telah menciptakan bilyunan manusia
selama ribuan tahun, semuanya berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah
bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah.
Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang
dan bergegas menuju tempat tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan
beragam pikiran di benak seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul
di pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu
yang khas dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan, rencana,
cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya
sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa,
mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai
anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi tua, menjadi
nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia. Dilihat dari sudut
pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda;
tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul
atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua
orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun
dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini,
seseorang akan berfikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika
kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan
manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan
dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh
untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan
seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?"
Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini
lah yang dinamakan orang yang berfikir dan mencapai kesimpulan yang sangat
bermakna dari apa yang ia pikirkan.
Sebagian besar manusia tidak berfikir tentang
masalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,"Apakah
yang sedang anda pikirkan saat ini?", maka akan terlihat bahwa mereka
sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan,
sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa
juga "berpikir" hal-hal yang "bermakna", "penuh
hikmah" dan "penting" setiap saat semenjak bangun tidur
hingga kembali ke tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan
dari apa yang dipikirkannya.
Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa
orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala
kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka
pikirkan.
Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Aali ‘Imraan, 3: 190-191).
Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena
orang-orang yang beriman adalah mereka yang berfikir, maka mereka mampu
melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran,
Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.
Berpikir dengan ikhlas sambil menghadapkan
diri kepada Allah
Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat
dan seterusnya menghantarkan kepada sebuah kesimpulan yang benar, maka
seseorang harus berfikir positif. Misalnya: seseorang melihat orang lain
dengan penampilan fisik yang lebih baik dari dirinya. Ia lalu merasa dirinya
rendah karena kekurangan yang ada pada fisiknya dibandingkan dengan orang
tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia merasa iri terhadap orang
tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki Allah. Jika ridha
Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya bentuk rupa
orang yang ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Allah yang sempurna. Dengan
melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan yang Allah ciptakan
akan memberikannya kepuasan. Ia berdoa kepada Allah agar menambah keindahan
orang tersebut di akhirat. Sedang untuk dirinya sendiri, ia juga meminta
kepada Allah agar dikaruniai keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat
kelak. Hal serupa seringkali dialami oleh seorang hamba yang sedang diuji
oleh Allah untuk mengetahui apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan
perilaku serta pola pikir yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.
Keberhasilan dalam menempuh ujian tersebut,
yakni dalam melakukan perenungan ataupun proses berfikir yang mendatangkan
kebahagiaan di akhirat, masih ditentukan oleh kemauannya dalam mengambil
pelajaran atau peringatan dari apa yang ia renungkan. Karena itu, sangatlah
ditekankan disini bahwa seseorang hendaknya selalu berfikir secara ikhlas
sambil menghadapkan diri kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur'an
:
Dia lah yang memperlihatkan kepadamu
tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit.
Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada
Allah)." (QS. Ghaafir, 40: 13).
|