|
Bab 2
Tentang Apakah Manusia Biasanya Berfikir?
Dalam bab terdahulu telah disebutkan bahwa kebanyakan manusia tidak berpikir
sebagaimana seharusnya mereka berpikir dan tidak mengembangkan sarana
dan potensi berpikir mereka. Namun ada satu hal lagi yang penting untuk
dijelaskan di sini. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal tertentu selalu
terlintas dalam benak manusia setiap saat sepanjang hidupnya. Hampir tidak
ada masa, kecuali ketika tidur, dimana pikiran manusia benar-benar kosong.
Sayangnya, sebagian besar dari pikiran-pikiran ini tidak berguna, "sia-sia"
dan "tidak perlu", sehingga tidak akan bermanfaat di akherat
kelak, tidak menuntun ke arah yang benar dan tidak mendatangkan kebaikan
kepadanya.
Andaikata seseorang berusaha untuk mengingat apa-apa yang
telah dipikirkannya pada suatu hari, lalu mencatat dan memeriksanya dengan
seksama di penghujung hari tersebut, ia akan melihat betapa sia-sianya
kebanyakan dari apa yang telah ia pikirkan. Andaikata ia menemukan sebagian
dari padanya bermanfaat, maka boleh jadi ia tertipu. Sebab secara keseluruhan,
pikiran-pikiran yang menurutnya benar adakalanya ternyata tidak akan mendatangkan
keuntungan sedikitpun di akhirat.
Seperti halnya membuang waktu dengan melakukan pekerjaan
yang sia-sia dalam kehidupan sehari-hari, manusia adakalanya pula menghabiskan
waktunya secara sia-sia dengan terbawa oleh pikiran-pikiran yang tidak
bermanfaat. Dalam ayat: "Sesungguhnya beruntunglah
orang-orang yang beriman…yaitu…(dan) orang-orang yang menjauhkan diri
dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna" (QS. Al-Mukminun,
23 :1&3) Allah mengajak manusia agar bersungguh-sungguh dalam
masalah ini. Sudah pasti bahwa perintah Allah di ayat tersebut juga berlaku
dalam hal berpikir. Sebab pikiran-pikiran yang tidak terkendali akan terus-menerus
mengalir dalam benak seseorang. Seseorang dengan sadar mengalihkan pikirannya
dari satu hal ke hal lain. Ketika sedang dalam perjalanan pulang ke rumah,
seseorang memikirkan rencana untuk berbelanja. Mendadak kemudian ia berpikir
tentang hal lain, yakni apa-apa yang pernah dikatakan temannya satu atau
dua tahun yang lalu. Pikiran yang tidak terkontrol dan tidak berguna ini
dapat berlangsung terus-menerus sepanjang hari. Padahal, yang kuasa mengontrol
pikiran-pikiran tersebut adalah dirinya sendiri. Setiap orang memiliki
kemampuan untuk memikirkan sesuatu yang dapat memperbaiki keadaan dirinya;
meningkatkan keimanan, kemampuan berpikir, perilaku; serta memperbaiki
keadaan sekelilingnya.
Dalam bab ini akan diuraikan beberapa hal yang pada umumnya cenderung
dipikirkan oleh mereka yang berada dalam kelalaian. Alasan mengapa masalah
tersebut dijelaskan secara panjang lebar adalah agar orang-orang yang
lalai, dan yang membaca buku ini, segera menyadari bahwa ketika di kemudian
hari peristiwa yang sebagaimana disebutkan di buku ini terlintas dalam
benak mereka ketika dalam perjalanan ke tempat kerja atau ke sekolah;
atau ketika sedang melakukan pekerjaan yang rutin, mereka tidak lagi berpikir
tentang hal-hal yang sia-sia. Sebaliknya mereka akan mampu mengendalikan
pikiran-pikiran mereka dan berpikir segala sesuatu yang benar-benar berguna
bagi diri mereka.
Khayalan yang tidak bermanfaat.
Ketidakmampuan dalam mengendalikan pikiran ke arah yang baik
akan mengakibatkan seseorang seringkali merasa khawatir atau mengalami
peristiwa-peristiwa yang sebenarnya belum terjadi seolah-olah telah terjadi
dalam benaknya, dan terseret dalam kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan.
Misalnya, orang tua yang mempunyai anak yang tengah belajar
untuk menghadapi ujian kadangkala membuat sebuah skenario sebelum ujian
tersebut berlangsung dalam benaknya: "Apa yang akan terjadi jika
anaknya tidak lulus ujian? Jika anak laki-lakinya tidak memperoleh pekerjaan
yang layak di masa depan, mendapatkan penghasilan yang cukup, maka ia
tidak dapat menikah. Kalaulah ia menikah, bagaimana ia dapat membiayai
pernikahannya? Jika ia tidak lulus ujian, semua uang yang dikeluarkan
untuk persiapan ujian tersebut akan terbuang percuma. Tambahan lagi, ia
akan terhina di mata orang-orang. Apalagi jika anak laki-laki teman dekatnya
ternyata lulus sedang anaknya sendiri gagal…"
Khayalan-khayalan tersebut terus berkembang, padahal anaknya
belum melaksanakan ujian. Seseorang yang jauh dari agama akan mudah terbawa
oleh khayalan sia-sia yang serupa sepanjang hidupnya. Hal ini tentu ada
sebabnya. Al-Qur'an menyebutkan bahwa yang menyebabkan manusia terbelenggu
oleh khayalan atau angan-angan kosong adalah dikarenakan mereka membiarkan
telinga mereka dibisiki oleh syaitan:
"Dan aku (syaitan) benar-benar akan menyesatkan
mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka ..."
(QS. An-Nisaa’, 4: 119)
Sebagaimana termaktub dalam ayat di atas, mereka yang terbawa
oleh khayalan kosong, akan melupakan Allah, tidak berpikir, dan senantiasa
menerima bisikan-bisikan syaitan. Dengan kata lain, jika seseorang yang
tertipu oleh kehidupan dunia tidak menggunakan kekuatan tekad mereka,
tidak bertindak secara sadar dan berusaha meninggalkan kondisi yang demikian,
ia akan berada dalam kendali syaitan secara penuh. Satu diantara pekerjaan
syaitan yang patut diketahui adalah senantiasa menimbulkan keragu-raguan
dan khayalan-khayalan kosong dalam diri manusia. Oleh karena itu, segala
khayalan, perasaan putus asa dan kekhawatiran seperti: "apa yang
akan saya perbuat jika akan terjadi yang demikian" terbentuk dalam
benak seseorang akibat bisikan-bisikan syaitan.
Allah telah memberikan jalan keluar dari keadaan yang buruk
ini. Dalam Al-Qur'an, ketika niatan-niatan jahat syaitan melingkupi manusia,
mereka dianjurkan untuk minta perlindungan kepada Allah dan mengingat-Nya:
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka
ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu
juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang
kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka
tidak henti-hentinya (menyesatkan)" (QS. Al-A’raaf, 7: 201-202)
Sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut, mereka yang berpikir
akan dapat mengetahui mana yang benar, sebaliknya mereka yang tidak berpikir
akan menuju ke arah mana saja syaitan menyeret mereka.
Yang terpenting adalah mengetahui bahwa khayalan-khayalan
semacam ini tidak akan mendatangkan manfaat kepada manusia. Bahkan sebaliknya,
menghambat mereka dari memikirkan tentang kebenaran, hal-hal yang penting;
dan mencegah kebersihan akal dari segala hal yang sia-sia. Manusia mampu
berpikir secara benar jika akalnya telah bebas dari pikiran yang sia-sia
dan tidak bermanfaat. Dengan demikian, mereka "menghindarkan diri
dari apapun yang tidak bermanfaat" sebagaiman Allah perintahkan dalam
Al-Qur'an.
|