|
PERTANYAAN 21
Bagaimana cara mengetahui tindakan kita yang mana yang diridhai Allah?
Pada orang yang takut kepadaNya, Allah selalu memberi tahu tindakan mana
yang paling tepat melalui hati nurani. Dalam sebuah ayat, Allah berfirman:
Hai orang-orang beriman! Jika engkau takut (bertaqwa)
kepada Allah, niscaya Dia memberimu furqon (yang dengannya engkau membedakan
yang benar dari yang salah) dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni
dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surat Al-Anfal:
29)
Mesti diingat bahwa suara pertama yang didengar individu di dalam hatinya
adalah suara nurani yang membantunya membedakan yang benar dari yang salah.
Suara ini lah yang memberitahukan perbuatan yang diridhai Allah. Orang
yang takut kepada Allah sampai kepada kebenaran dengan jalan mendengarkan
kepada hati nuraninya.
PERTANYAAN 22
Adakah suara lain di dalam hati selain suara hati nurani?
Semua alternatif lain yang muncul setelah kata hati adalah
“suara hawa nafsu” yang berusaha menghapus kata hati. Hawa nafsu berusaha
sekuat tenaga untuk mencegah seseorang untuk melakukan perberbuatan yang
benar dan mendorong kepada perbuatan buruk.
Suara ini mungkin tidak nampak jelas. Bisa muncul berupa
serangkaian alasan yang nampaknya masuk akal. Pengaruhnya bisa menyebabkan
seseorang berpikiran “semua ini (hati nurani) tak berarti sama sekali”.
Kenyataan ini disebutkan Allah dalam Al-Qur’an:
“Dan jiwa yang Allah sempurnakan dan ilhamkan padanya
pengetahuan akan dosa dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang-orang yang
menyucikan jiwa.” (Surat Asy-Syams: 7-9)
Ayat di atas menyatakan bahwa manusia merupakan sasaran dosa (hawa nafsu),
namun diberi kesadaran bahwa ia mempunyai kewajiban untuk menghindarinya.
Manusia diuji untuk memilih antara kebaikan dan keburukan.
PERTANYAAN 23
Bagaimana cara mata melihat?
Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu tanpa mengetahui
sesuatu apapun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati, agar
kamu bersyukur. (Surat An-Nahl: 78)
Proses penglihatan terjadi secara bertahap. Saat mata melihat
benda, kumpulan cahaya (foton) bergerak dari benda menuju mata. Cahaya
ini menembus lensa mata yang selanjutnya membiaskannya dan menjatuhkannya
secara terbalik di retina mata – bagian belakang mata. Sinar yang jatuh
di retina mata ini di ubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan
oleh syaraf-syaraf neuron ke sebuah bintik kecil di bagian belakang otak
yang disebut pusat penglihatan. Di dalam pusat penglihatan inilah, sinyal
listrik ini diterima sebagai sebuah bayangan setelah mengalami sederetan
proses. Dalam bintik kecil inilah sebenarnya penglihatan terjadi, di bagian
belakang otak yang sama sekali gelap dan terlindung dari cahaya.
Saat mengatakan “kita melihat”, sebenarnya kita hanya melihat
efek-efek impuls yang sampai ke mata kita dan diteruskan ke otak kita
setelah diubah menjadi sinyal-sinyal listrik. Jadi, saat kita mengatakan
“kita melihat”, sebenarnya kita hanya melihat sinyal-sinyal listrik di
dalam otak kita.
Buku yang sedang Anda baca serta pemandangan yang terbentang
di kaki langit termuat dalam ruang kecil di dalam otak ini. Hal yang serupa
terjadi dengan persepsi lain yang Anda tangkap melalui keempat indra lainnya.
PERTANYAAN 24
Apa maksud pernyataan bahwa materi merupakan “kumpulan
persepsi-persepsi”?
Seluruh informasi yang kita miliki tentang dunia luar, sampai
kepada kita melalui kelima indra kita. Dunia yang kita tahu terdiri dari
apa yang kita lihat dengan mata, yang kita dengar lewat telinga, yang
kita cium dengan hidung, yang kita rasa dengan lidah, dan yang kita rasa
lewat sentuhan kulit. Riset modern mengungkapkan bahwa persepsi kita hanyalah
respons-respons otak terhadap sinyal-sinyal listrik. Berdasarkan hal ini,
orang yang kita lihat, warna-warna, rasa keras melalui sentuhan, dan segala
sesuatu yang kita miliki dan yang kita terima sebagai dunia luar, hanyalah
sinyal-sinyal listrik yang sampai ke otak kita.
Contohnya sebuah apel: Sinyal-sinyal listrik yang berkenaan
dengan rasa, bau, rupa dan kekerasan buah apel sampai ke otak kita melalui
syaraf-syaraf dan membentuk gambarannya di dalam otak. Jika syaraf menuju
otak terputus, persepsi yang berkenaan dengan buah apel ini akan lenyap.
Yang kita indra sebagai apel, sebenarnya merupakan kumpulan persepsi-persepsi
yang sampai ke otak kita. Kita tak pernah bisa memastikan bahwa “kumpulan
persepsi-persepsi” ini benar-benar ada di luar kita. Kita tak memiliki
kesempatan untuk bisa keluar dari otak kita dan menyentuh sesuatu yang
ada di luar: yang kita miliki hanyalah persepsi-persepsi kita.
PERTANYAAN 25
Apakah keberadaan dunia luar suatu keharusan?
Kita tak pernah tahu apakah dunia luar benar-benar ada, karena setiap
benda hanyalah kumpulan persepsi-persepsi. Dan persepsi-persepsi ini
hanya ada dalam pikiran kita. Maka, satu-satunya dunia yang benar-benar
ada adalah dunia persepsi-persepsi. Satu-satunya dunia yang kita tahu
hanyalah dunia yang ada dalam pikiran kita; dunia yang dirancang, direkam,
dan hidup di sana. Pendek kata, dunia yang diciptakan dalam pikiran kita.
Itulah satu-satunya dunia yang kita yakini keberadaannya.
PERTANYAAN 26
Apakah kita tertipu oleh persepsi-persepsi tanpa ada
korelasi material yang nyata?
Benar, kita tertipu dengan keyakinan pada persepsi-persepsi
tanpa ada korelasi material yang nyata. Demikian ini karena kita tak pernah
bisa membuktikan bahwa persepsi-persepsi yang kita tangkap melalui otak
memiliki korelasi material. Persepsi-persepsi itu bisa saja timbul dari
suatu sumber “buatan”. Kita sering mengalaminya dalam mimpi kita. Kita
seolah mengalami suatu kejadian, melihat orang-orang, benda dan susunan-susunan
yang seolah nyata. Padahal kenyataanya tidak ada, hanya persepsi-persepsi
saja. Tak ada perbedan mendasar antara mimpi dan “dunia nyata”; keduanya
sama-sama dialami dalam otak.
PERTANYAAN 27
Jika semua keberadaan material yang kita tahu hanyalah
persepsi-persepsi, lalu apa itu otak?
Karena otak kita pun merupakan bagian dari dunia fisik seperti halnya
tangan, kaki, atau benda lainnya, maka otak pun merupakan persepsi seperti
yang lainnya. Mimpi merupakan contoh yang baik untuk menjelaskan masalah
ini. Anggaplah kita sedang melihat sebuah mimpi. Dalam mimpi itu, kita
memiliki tubuh khayalan, tangan khayalan, mata khayalan, dan otak khayalan.
Jika dalam mimpi ini, kita ditanya, “Di mana Anda melihat?” Kita akan
menjawab “saya melihat dalam otak saya”. Padahal sebenarnya, tidak ada
otak di sana, melainkan hanya kepala dan otak khayalan. Wujud yang melihat
bukanlah otak khayalan dalam mimpi, melainkan “wujud” yang derajatnya
jauh lebih tinggi dari itu.
PERTANYAAN 28
Lalu siapa atau apa yang mengindra?
Sejauh ini, kita meyakini bahwa yang melakukan pengindraan
adalah otak. Namun jika kemudian kita analisis otak ini, yang kita dapatkan
hanyalah molekul-molekul lemak dan protein, yang juga ada pada organisme-organisme
hidup lain. Artinya bahwa di dalam gumpalan daging yang kita sebut sebagai
“otak” ini, tak ada sesuatu apapun yang bisa mengamati, yang memiliki
kesadaran, atau yang menciptakan wujud yang kita sebut sebagai “diri pribadi”.
Jelas bahwa wujud yang melihat, mendengar dan merasakan ini
bersifat supra-material. Wujud ini “hidup” dan tidak berupa materi ataupun
gambaran dari materi. Wujud ini bersekutu dengan persepsi-persepsi di
depannya dengan menggunakan gambaran tubuh kita.
Wujud ini adalah “ruh”. Allah menyatakannya dalam Al-Qur’an:
Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh
itu termasuk urusan Allah. Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan tentangnya
melainkan sedikit. (Surat Al-Isra’: 85)
PERTANYAAN 29
Karena dunia material yang kita indra hanyalah persepsi-persepsi
yang dilihat oleh ruh, lalu apa yang menjadi sumber persepsi-persepsi
ini?
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, materi tidak memiliki wujud yang
dapat mengatur dirinya sendiri. Materi hanyalah sebuah persepsi, sesuatu
yang sifatnya “artifisial” (buatan). Karenanya, persepsi-persepsi ini
mestinya disebabkan oleh kekuatan lain. Dengan kata lain, persepsi adalah
sesuatu yang diciptakan. Jelas bahwa ada Sang Pencipta. Yang menciptakan
seluruh alam material, yakni kumpulan persepsi-persepsi, yang diciptakanNya
tanpa henti. Pencipta ini adalah Allah Yang Maha Kuasa. Fakta bahwa langit
dan bumi bukanlah sesuatu yang stabil, dan keberadaanya hanyalah karena
diciptakan Allah. Semuanyanya akan lenyap setelah Dia menghentikan penciptaannya.
Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut ini:
Allah lah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.
Sungguh jika keduanya lenyap, tak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya
kecuali Allah. Sungguh Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Surat
Fatir: 41)
PERTANYAAN 30
Apa yang dimaksud dengan Allah meliputi segala sesuatu
dan Dia lebih dekat kepada kita dibanding urat leher kita sendiri?
Materi tersusun hanya dari persepsi-persepsi. Satu-satunya
wujud nyata dan mutlak hanyalah Allah. Artinya, hanya Allah lah yang ada;
segala sesuatu selain dia hanyalah wujud semu. Karenanya Allah “ada dimana-mana”
dan meliputi segala sesuatu. Segala yang ada merupakan gambaran yang Allah
proyeksikan kepada kita.
Karena setiap wujud material merupakan persepsi, maka ia
tak dapat melihat Allah. Sebaliknya, Allah melihat seluruh materi yang
diciptakannya dalam berbagai bentuknya. Artinya, kita tak dapat menangkap
wujud Allah dengan mata kita, namun Allah meliputi kita dari dalam, dari
luar, dalam pandangan dan pikiran. Kita tak mampu mengucapkan perkataan
apapun selain dengan pengetahuan dan ijinNya, bahkan tanpa Dia bernafaspun
tidak akan bisa.
Meskipun kita melihat persepsi-persepsi ini di sepanjang
hidup kita, wujud terdekat kepada kita bukanlah salah satu di antaranya,
melainkan Allah sendiri. Rahasia ayat berikut tersembunyi dalam kenyataan
ini:
“Dia lah yang menciptakan manusia, dan Kami mengetahui
apa yang dibisikkan oleh hatinya; karena Kami lebih dekat kepadanya daripada
urat lehernya (sendiri). (Surat Qaf: 16)
Jika manusia berpikiran bahwa tubuhnya hanya terdiri dari “materi”, ia
tidak akan dapat memahami fakta penting ini. Jika ia menganggap otaknya
sebagai “dirinya”, maka letak dunia luar adalah 20-30 cm dari dirinya.
Namun jika dia mengerti bahwa materi hanya lah imajinasi, maka pengertian
luar, dalam, jauh ataupun dekat tak memiliki arti sama sekali. Allah meliputi
dirinya dan Dia “sangat dekat” kepada dirinya.
PERTANYAAN 31
Apakah cinta saja, kepada Allah, tidak cukup? Apakah
takut kepada Allah itu suatu keharusan?
Menurut Al-Qur’an, cinta sejati menuntut kepatuhan kepada
Allah dan menghindari apa yang tidak diridhaiNya. Jika kita perhatikan
kehidupan dan perbuatan orang-orang yang merasa yakin bahwa cinta saja
sudah cukup, dapat kita lihat bahwa mereka tidak teguh dengan pendiriannya
itu. Sebaliknya, seseorang yang mencintai Allah dengan setulus hati, sangat
patuh kepada perintahNya. Ia menghindari hal-hal yang dilarangNya serta
memelihara dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang diridhai Allah. Ia
menunjukkan cintanya dengan mencari ridha Tuhannya di setiap saat dengan
rasa segan, keyakinan, kepatuhan dan kesetiaan kepadaNya.
Karena sikap prihatinnya itu, ia sangat takut akan kehilangan
ridhaNya atau menimbulkan murkaNya. Mengungkapkan cinta hanya di bibir
saja, namun hidup dengan melewati batas-batas yang dilarang Allah, tentunya
merupakan sikap yang munafik. Allah memerintahkan manusia untuk takut
kepadaNya:
Bertaubatlah kepadaNya dan takutlah kepadaNya, serta
dirikanlah shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang memepersekutukan
Allah. (Surat Ar-Rum: 31)
|