|
BAB I
MENGAPA SEBAGIAN KAUM MUSLIMIN
MENDUKUNG TEORI EVOLUSI?
Charles Darwin
|
Sepanjang sejarah, manusia sudah memikirkan alam semesta
dan asal-muasal kehidupan ini, dan sudah mengajukan berbagai gagasan
tentang hal ini. Kita dapat membagi gagasan-gagasan itu menjadi
dua kelompok: yang menjelaskan alam semesta ini dari sudut pandang
materialis, dan yang melihat bahwa Tuhan menciptakan alam semesta
dari ketiadaan, yakni, kebenaran penciptaan.
Dalam pengantar buku ini, telah kita lihat bahwa teori
evolusi didirikan pada filsafat materialis. Pandangan materialis
menyatakan bahwa alam semesta terdiri atas materi, dan materi adalah
satu-satunya hal yang ada. Karena itu, materi ada selama-lamanya,
dan tidak ada kuasa lain yang mengaturnya. Kaum materialis percaya
bahwa faktor ketidaksengajaan (kebetulan) yang buta menyebabkan
alam semesta membentuk diri, dan makhluk hidup muncul secara bertahap,
berevolusi dari zat-zat tak-hidup. Dengan kata lain, semua makhluk
hidup di dunia ini muncul sebagai akibat berbagai pengaruh alam
dan ketidaksengajaan.
Filsafat
materialis menggunakan teori evolusi, yang keduanya saling melengkapi,
untuk menjelaskan timbulnya makhluk hidup. Kesatuan ini, yang lahir
di zaman Yunani kuno, kembali disebarluaskan saat ilmu pengetahuan
masih terbelakang di abad ke-19, dan, karena teori itu dianggap
mendukung paham materialisme, tak perduli secara ilmiah absah atau
tidak, teori ini segera dirangkul oleh kaum materialis.
Fakta penciptaan bertentangan dengan teori evolusi.
Menurut pandangan kreasionis (penciptaan), materi tidaklah ada sejak
dan untuk masa yang tak terhingga, dan karena itu, dikendalikan.
Allah menciptakan materi dari ketiadaan dan memberinya keteraturan.
Semua makhluk, hidup maupun tak-hidup, ada karena diciptakan Allah.
Rancangan, perhitungan, keseimbangan, dan keteraturan yang tampak
di alam semesta dan dalam makhluk hidup merupakan bukti nyata akan
hal ini.
Semenjak awal, agama telah mengajarkan kebenaran penciptaan,
yang dapat dipahami semua orang melalui penggunaan akal dan pengamatan
pribadi. Semua agama samawi telah mengajarkan bahwa Allah menciptakan
alam semesta dengan berfirman "Jadilah!", dan bahwa bekerjanya alam
semesta secara sempurna tanpa cela merupakan bukti daya ciptaNya
yang agung. Banyak ayat Al Qur'an juga mengungkapkan kebenaran ini.
Misalnya, Allah mengungkapkan bagaimana Dia secara ajaib menciptakan
alam semesta dari ketiadaan:
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak
(untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan
kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia. (QS. Al Baqarah, 2: 117)
Allah juga mengungkapkan yang berikut:
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan
benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah,
lalu terjadilah", dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu
sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan
Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An'aam,
6: 73)
Ilmu pengetahuan mutakhir membuktikan ketidak-absahan
pernyataan materialis-evolusionis, dan menegaskan kebenaran penciptaan.
Berlawanan dengan teori evolusi, semua bukti penciptaan yang mengelilingi
kita menunjukkan bahwa faktor kebetulan tidak berperan dalam terwujudnya
alam semesta. Setiap rincian yang tampak saat kita mengamati langit,
bumi, dan semua makhluk hidup dimaksudkan sebagai bukti kebijaksanaan
dan kekuasaan Allah yang agung.
Perbedaan mendasar antara agama dan paham ateisme
adalah, yang pertama mempercayai Allah, sedangkan yang terakhir
mempercayai materialisme. Ketika Allah bertanya kepada mereka yang
ingkar, Dia menarik perhatian terhadap pernyataan yang mereka ajukan
untuk menolak penciptaan: Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu
pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (QS.
Ath Thuur, 52: 35) Sejak zaman bermula, mereka yang mengingkari penciptaan
senantiasa menyatakan bahwa manusia dan alam semesta tidaklah diciptakan,
dan selalu berusaha membenarkan pernyataan tak masuk akal itu. Dukungan
yang terbesar bagi mereka tiba di abad ke-19, berkat teori Darwin.
Kaum muslimin tidak boleh mengadakan jalan tengah dalam
masalah ini. Memang, orang boleh berpikir sesukanya, dan boleh percaya
apa pun yang ingin dipercayainya. Akan tetapi, tidak ada jalan tengah
bagi teori yang mengingkari Allah dan ciptaanNya, sebab hal itu
berarti tawar-menawar dalam unsur dasar agama. Tentu, berbuat demikian
sama sekali tak bisa diterima.
Para evolusionis, karena sadar betapa jalan tengah
seperti itu akan merusak agama, mendorong orang-orang beriman agar
berusaha memperolehnya.
Kaum Darwinis Menganjurkan Pandangan
Penciptaan-melalui-Evolusi
Para ilmuwan yang mendukung teori evolusi secara buta,
kini semakin tersudut oleh berbagai kemajuan ilmiah baru, yang kian
lama kian banyak dan kian terbuka bagi orang awam. Menyadari bahwa
setiap penemuan baru adalah bertentangan dengan teori ini, serta
menegaskan kebenaran penciptaan, maka demagogi (tindakan menghasut
masyarakat) pun berperan lebih penting daripada bukti ilmiah dalam
berbagai naskah evolusionis. Di sisi lain, majalah-majalah ilmiah
pendukung teori evolusi yang paling terkemuka sekalipun, seperti
Science, Nature, Scientific American atau New Scientist, terpaksa
mengakui bahwa beberapa segi dalam teori Darwin sudah menghadapi
jalan buntu. Para ilmuwan yang mendukung paham penciptaan memenangkan
berbagai debat ilmiah ini, dan dengan demikian, menyingkapkan berbagai
pernyataan tak berdasar yang diajukan kaum evolusionis.
Di sinilah, pandangan penciptaan lewat evolusi menjadi
penolong bagi kaum materialis. Ini merupakan salah satu taktik yang
digunakan kaum evolusionis untuk melunakkan sikap para pendukung
paham penciptaan (atau "Rancangan Cerdas"), dan melemahkan posisi
intelektual mereka dalam melawan dogma Darwinisme. Walaupun tidak
mempercayai Tuhan karena telah mendewakan faktor kebetulan atau
ketidaksengajaan, dan menentang habis fakta penciptaan, kaum evolusionis
menganggap bahwa teori mereka akan lebih dapat diterima jika mereka
berdiam diri tentang gagasan kaum beragama yang sekaligus mendukung
teori evolusi, bahwa Allah menciptakan makhluk hidup lewat evolusi.
Malah, mereka menganjurkan jalan tengah antara teori ini dan agama,
sehingga evolusi lebih dapat diterima dan kepercayaan akan penciptaan
melemah.
Melihat ini, kaum Muslimin harus mengerti bahwa adalah
salah sepenuhnya apabila kita percaya bahwa Allah menciptakan alam
semesta, namun sekaligus mendukung teori evolusi sekalipun tidak
ada bukti ilmiah yang meyakinkan. Lebih jauh lagi, adalah sama salahnya
apabila kita menyatakan bahwa evolusi selaras dengan Al Qur'an,
dengan cara mengabaikan semua peringatan dalam kitab suci itu sendiri.
Kaum Muslimin yang bersikap seperti itu perlu menyadari bahwa mereka
sedang mendukung sebuah gagasan yang dirancang untuk membantu filsafat
materialis dan, setelah tahu hal ini, harus segera menarik kembali
dukungan mereka.
Menolak Evolusi Tidak Berarti
Menolak Ilmu Pengetahuan
Jumlah Muslim yang percaya bahwa semua makhluk hidup
muncul melalui evolusi tidaklah boleh diremehkan. Kesalahan mereka
berdasarkan pada kurangnya pengetahuan serta berbagai sudut pandang
yang keliru, khususnya yang terkait dengan berbagai masalah ilmu
pengetahuan. Kesalahan yang utama adalah gagasan bahwa evolusi adalah
fakta ilmiah dan sudah terbukti kebenarannya.
Orang seperti mereka tidak menyadari bahwa ilmu pengetahuan
telah mengikis habis tingkat kebenaran teori evolusi. Baik di tingkat
molekuler, atau pun dalam biologi dan paleontologi, penelitian telah
membuktikan ketidak-absahan pernyataan makhluk hidup muncul sebagai
hasil proses evolusi. Teori Darwin mampu bertahan, sekalipun bertentangan
dengan kenyataan ilmiah, hanya karena para evolusionis melakukan
segala hal yang mereka bisa, termasuk sengaja menyesatkan orang,
agar teori itu tetap hidup. Tulisan dan ceramah mereka dipenuhi
istilah ilmiah yang tidak dimengerti orang awam. Tetapi bila kata-kata
mereka ditelaah, orang tidak dapat menemukan bukti untuk mendukung
teori mereka.
Pemeriksaan yang seksama atas karya tulis terbitan
kaum Darwinis telah jelas mengungkapkan kenyataan ini. Uraian mereka
hampir tidak pernah berdasarkan bukti ilmiah yang kukuh. Berbagai
bidang mendasar, tempat teori ini runtuh, dipulas dengan beberapa
patah kata, dan banyak uraian aneh ditulis tentang sejarah alam.
Mereka tidak pernah memusatkan perhatian pada pertanyaan-pertanyaan
utama, misalnya bagaimana pertama kali kehidupan timbul dari zat-zat
yang tak-hidup, celah-celah lebar pada catatan fosil, dan sistem
pada makhluk hidup yang rumit. Mereka tidak melakukannya, karena
apa pun yang dapat mereka katakan atau tulis akan berlawanan dengan
tujuan mereka serta mengungkapkan kekosongan teori mereka.
Ketika Charles Darwin (1809-1882), pendiri teori ini,
menelaah salah satu sistem rumit yang terdapat pada makhluk hidup,
yakni mata, ia menyadari bahaya yang mengancam teorinya, dan ia
bahkan mengakui bahwa memikirkan mata membuat sekujur tubuhnya menggigil.
Seperti Darwin, para ilmuwan evolusionis masa kini tahu bahwa teori
mereka tidak memiliki penjelasan tentang sistem rumit serupa itu.
Namun, bukannya mengakui hal ini, mereka justru mencoba menutupi
tiadanya bukti ilmiah, dengan cara menulis berbagai uraian khayal
serta mencekokkan teori ini kepada masyarakat dengan memberinya
sebuah topeng ilmiah.
Cara-cara ini tampak jelas dalam debat tatap muka antara
kaum evolusionis dengan mereka yang meyakini penciptaan, maupun
dalam tulisan dan film dokumenter evolusionis. Sebenarnya, kaum
evolusionis tidak peduli pada hal-hal seperti kebenaran ilmiah atau
akal sehat, karena sasaran tunggalnya adalah membuat orang yakin
bahwa evolusi adalah kenyataan ilmiah.
Dengan cara demikian, kaum Muslimin pendukung evolusi
termakan oleh citra teori ini yang katanya "ilmiah". Khususnya,
mereka tertusuk oleh semboyan Darwinis, seperti: "Siapa pun yang
tidak mempercayai teori evolusi artinya bersikap taklid (meyakini
sesuatu secara buta) atau tidak ilmiah," dan karena itu memberikan
ruang dalam keyakinan mereka yang sebenarnya. Karena terpengaruh
keterangan usang atau tulisan dan pendapat evolusionis, mereka percaya
bahwa hanya evolusi yang dapat menerangkan peristiwa munculnya kehidupan.
Lalu mereka mencoba menyelaraskan agama dan evolusi, karena tidak
mengetahui perkembangan ilmiah mutakhir maupun pertentangan dalam
teori itu sendiri, serta tingkat keyakinan terhadap kebenaran teori
tersebut yang telah lenyap.
Akan tetapi, menimbang bahwa evolusi bertentangan 180
derajat dengan penciptaan, membuktikan kebenaran yang satu akan
berarti menggugurkan yang lainnya. Dengan kata lain, menggugurkan
evolusi berarti membuktikan penciptaan.
Karena alasan-alasan ini, kaum materialis memandang
debat tentang evolusi sebagai sejenis medan perang, semacam perang
terbuka antar paham pemikiran, dan bukan sebagai masalah ilmiah.
Jadi, kaum materialis melakukan semua cara yang mungkin untuk menghalangi
mereka yang meyakini paham penciptaan.
Misalnya, evolusionis Lerry Flank menyarankan agar
kebenaran penciptaan dilawan dengan cara-cara berikut:
Para pengawas terhadap kaum kreasionis
harus ketat mengawasi susunan anggota dewan pendidikan negara bagian.
Sebaiknya, mereka yang berminat kepada pendidikan yang bermutu serta
kepada pencegahan langkah kaum fundamentalis yang hendak memakai
sekolah negeri untuk berkhotbah, menjadi mayoritas anggota dewan-dewan
ini … Jika ini gagal, dan buku-buku pelajaran berpaham kreasionis
benar-benar dipakai dan disetujui, maka tindakan hukum menjadi perlu
diambil. 1
Jelaslah dari kata-kata ini bahwa kita bukan sedang
bicara tentang suatu debat ilmiah, melainkan tentang sebuah perang
gagasan, yang dicanangkan oleh kaum evolusionis dalam kerangka kerja
siasat tertentu.
Kaum Muslimin yang mempertahankan evolusi harus menyadari
hal ini. Darwinisme bukan sebuah pandangan ilmiah; melainkan sebuah
sistem berpikir yang dirancang untuk menggiring orang mengingkari
Allah. Karena teori ini tidak berlandasan ilmiah, seorang Muslim
tidak boleh membiarkan diri disesatkan oleh berbagai pendapat dalam
teori ini, dan lalu memberikan dukungan, setulus apa pun niatnya.
Akibat Jika Kaum
Evolusionis Menjadi Mayoritas
Prof. Arda Denkel
|
Muslihat terpenting kaum evolusionis agar teori Darwin
diterima secara luas adalah dengan menandaskan bahwa teori itu diterima
luas di kalangan masyarakat ilmiah. Pendeknya, mereka menyatakan
keabsahan teori ini didasarkan atas anggapan bahwa penganutnya merupakan
mayoritas (berjumlah terbanyak), dan anggapan bahwa pandangan mayoritas
adalah benar dalam setiap masalah. Dengan menggunakan jalan pikiran
itu, serta pernyataan bahwa kebenaran evolusi kian terbukti oleh
penerimaan yang luas di berbagai perguruan tinggi, mereka mencoba
memakai tekanan kejiwaan pada setiap orang, termasuk yang percaya
kepada Allah, untuk menerimanya.
Arda Denkel, seorang evolusionis guru besar ilmu filsafat
di Universitas Bosphorus, mungkin yang paling tersohor di Turki,
bahkan mengakui kelirunya cara ini:
Apakah dengan banyaknya orang, organisasi
atau lembaga terhormat yang mempercayainya, teori evolusi terbukti
benar? Bisakah teori itu dibuktikan dengan keputusan pengadilan?
Apakah jika orang terhormat atau berkuasa mempercayai sesuatu, maka
sesuatu itu akan menjadi benar? Saya ingin mengenang sebuah kenyataan
sejarah. Bukankah Galileo berdiri di hadapan semua orang, pengacara,
dan khususnya ilmuwan terhormat zamannya, dan secara sendirian mengatakan
kebenaran, tanpa dukungan satu orang pun? Tidakkah berbagai sidang
dewan Inkuisisi mengungkapkan suasana serupa? Memperoleh dukungan
dari kelompok terhormat dan berpengaruh tidak menciptakan kebenaran,
dan tidak berkaitan dengan kenyataan ilmiah. 2
Seperti pendapat Denkel, penerimaan luas terhadap sebuah
teori tidak membuktikan kebenarannya. Nyatanya, sejarah ilmu pengetahuan
dipenuhi berbagai contoh teori, yang awalnya diterima oleh sedikit
orang (golongan minoritas) saja, dan baru kemudian diterima kebenarannya
secara mayoritas.
|
|
 |
|
Prof.
Owen Gingerich
|
Prof.
Carl Friedrich von Weizsacker
|
Prof.
Dr. Donald Chittick
|
 |
 |
 |
|
Prof.Robert Matthews
|
Prof.Michael
J.Behe
|
|
|
Prof.
David Menton |
| |
 |
 |
|
|
S. Jocelyn Bell
Burnell
|
William Dembski
|
Banyak ilmuwan masa
kini yang menolak evolusi dan menerima bahwa Allah, Tuhan
Pemilik Segala Kekuatan dan Kecerdasan Tak Terbatas telah
menciptakan alam semesta ini. Beberapa ilmuwan yang menerima
kebenaran penciptaan ini adalah, dari kiri ke kanan, Owen
Gingerich, profesor astronomi dan sejarah ilmu pengetahuan
pada Harvard University; Carl Friedrich von Weizsacker,
profesor fisika pada Germany's Max-Planck-Gasellschaft University;
Donald Chittick, profesor kimia pada Oregon State University;
Robert Matthews, professor fisika pada Oxford University;
Michael J. Behe, profesor biologi pada Lehigh University;
David Menton, profesor anatomi pada Washington University,
S. Jocelyn Bell Burnell, profesor fisika pada Universitas
Terbuka di Inggris; dan William Dembski, profesor rekanan
dalam dasar pandangan ilmu pengetahuan pada Baylor University.
|
Lebih lagi, evolusi tidaklah
diterima oleh seluruh masyarakat ilmiah, seperti yang diupayakan
oleh para pendukungnya agar diyakini orang. Selama 20-30 tahun terakhir,
jumlah ilmuwan yang menolaknya telah meningkat secara luar biasa.
Kebanyakan dari mereka meninggalkan kepercayaan buta kepada Darwinisme,
sesudah melihat rancangan yang tanpa cacat di alam semesta dan dalam
makhluk hidup. Mereka telah menerbitkan karya tulis yang tak terhitung
jumlahnya, yang membuktikan ketidak-absahan teori itu. Lebih penting
lagi, mereka merupakan anggota berbagai perguruan tinggi terkemuka
di seantero dunia, khususnya Amerika Serikat dan Eropa, dan pakar
serta peneliti karir dalam bidang biologi, biokimia, mikrobiologi,
anatomi, paleontologi, dan bidang ilmu lainnya.3
Karena itu, sangat keliru berkata bahwa jumlah terbanyak dalam masyarakat
ilmiah mempercayai evolusi.
Karena itu, tidak akan bermakna apa-apa, sekalipun
jika kaum evolusionis sungguh menjadi jumlah terbanyak. Tidak ada
pandangan mayoritas yang sepenuhnya benar hanya karena itu pandangan
mayoritas. Kaum Muslimin yang mempercayai evolusi perlu tahu bahwa
Al Qur'an membahas masalah ini ketika menceritakan nasib banyak
masyarakat zaman dahulu, yang berpandangan serupa, dan akhirnya
mengingkari Allah dan agamaNya dengan cara membiarkan diri tersesat
dari jalan yang lurus. Allah memperingatkan kaum mukmin agar tidak
mengikuti orang-orang yang penuh tipu-daya demikian, dan mengabarkan
kepada umat manusia bahwa berjalan bersama jumlah terbanyak, atau
mayoritas, bisa mengakibatkan manusia tergiring ke arah kesalahan
yang mengerikan:
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang
di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka
tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS. Al An'aam, 6:
116)
|