|
BAB II
KEBENARAN PENTING YANG TERABAIKAN
OLEH KAUM MUSLIMIN YANG MENDUKUNG TEORI EVOLUSI
Dalam bab sebelumnya, telah kita bahas bagaimana kaum
Muslimin yang telah diyakinkan bahwa evolusi itu adalah sebuah fakta
(kenyataan), dan bukan teori, mungkin tak menyadari berbagai kemajuan
ilmiah terkait dan mutakhir, yang membantah paham Darwinisme. Tiadanya
kesadaran ini menghalau kaum evolusionis Muslim untuk terus menerima
gagasan dan kepercayaan yang sudah dibuktikan sebagai tak absah
oleh ilmu pengetahuan. Lebih jauh, mereka mengabaikan kenyataan
bahwa landasan yang mendasari evolusi mencerminkan tabiat pagan
(musyrik, atau tak beragama), menganggap bahwa kuasa ilahiah dimiliki
oleh unsur kebetulan atau ketidaksengajaan dan peristiwa alam, dan
telah menyebabkan amat banyak penindasan, pertikaian, perang, dan
berbagai malapetaka lain.
Bab ini akan khusus membahas kenyataan itu, yang terabaikan
oleh kaum evolusionis Muslim, dan menghimbau mereka agar menghentikan
dukungan bagi tabiat pagan yang memberikan landasan bagi paham pemikiran
materialis dan tak bertuhan.
Evolusi Adalah Gagasan Yunani
Kuno yang Tak Mengenal Agama
Gambar yang menunjukkan pemikiran Thales
(546 SM) tentang bumi datar yang mengambang di atas air.
Gambar tersebut menunjukkan udara dan api, dua dari empat
unsur dasar bumi.
|
Berlawanan dengan yang dinyatakan oleh para pendukungnya,
evolusi bukanlah sebuah teori ilmiah, melainkan sebuah kepercayaan
musyrik. Gagasan tentang evolusi muncul pertama kalinya dalam masyarakat
kuno, seperti Mesir, Babilonia, dan Sumeria, lalu mencapai para
filsuf Yunani kuno. Tugu peninggalan bangsa Sumeria yang musyrik
berisi pernyataan yang mengingkari penciptaan, dan menegaskan bahwa
makhluk hidup muncul dengan sendirinya sebagai bagian proses yang
bertahap. Menurut kepercayaan Sumeria, kehidupan muncul dengan sendirinya
dari kekacauan atau pergolakan air.
Sebagai bagian dari agama takhayul yang dianutnya,
orang Mesir kuno percaya bahwa "ular, katak, cacing, dan tikus timbul
dari lumpur banjir Sungai Nil". Sama seperti orang Sumeria, orang
Mesir kuno mengingkari keberadaan Sang Pencipta, dan mengira bahwa
"makhluk hidup muncul dari lumpur secara kebetulan atau tanpa sengaja."
Pernyataan terpenting
para filsuf Yunani seperti Empedocles (abad ke-5 SM), Thales (wafat
546 SM), dan Anaximander (wafat 547 SM) dari Miletus adalah bahwa
makhluk hidup pertama terbentuk dari zat-zat tak-hidup seperti udara,
api, dan air. Teori ini berpendapat makhluk hidup pertama muncul
tiba-tiba di air, dan lalu beberapa di antaranya meninggalkan air,
menyesuaikan diri hidup di darat, dan mulai menetap hidup di sana.
Thales percaya bahwa air adalah akar segenap kehidupan, bahwa tumbuhan
dan hewan mulai berkembang di air, dan bahwa manusia adalah hasil
akhir proses ini. Anaximander,4 filsuf sezaman
Thales yang lebih muda, berpendirian bahwa "manusia tumbuh dari
ikan" dan bahwa sumber kehidupan mulai dengan "segumpal massa purba".5
Karya puisi Anaximander Tentang Alam
merupakan karya tulis pertama yang ada yang berdasarkan teori evolusi.
Dalam puisi itu, ia menulis bahwa makhluk hidup muncul dari lendir
yang dikeringkan oleh matahari. Ia berpikir bahwa hewan pertama
berkulit sisik yang berduri, dan hidup di lautan. Sambil berubah
perlahan-lahan, makhluk mirip ikan ini pindah ke darat, melepaskan
kulit sisik durinya, dan akhirnya menjadi manusia.6
(Untuk lebih rinci, lihat The Religion of Darwinism, Harun Yahya,
Abu'l Qasim Publishers, Jeddah, 2003). Teorinya bisa dianggap sebagai
landasan pertama teori evolusi masa kini, karena memiliki banyak
kemiripan dengan paham Darwinisme.
Beberapa ahli filsafat, seperti Empedocles
(abad ke-5 SM), mempercayai bahwa bumi tersusun atas empat
unsur: tanah, udara, api, dan air. Dalam gambaran bumi abad
ke-17 ini, keempat unsur tersebut dilambangkan sebagai cincin-cincin
yang mengelilingi matahari.
|
Empedocles menyatukan gagasan-gagasan
awal, dan mengemukakan bahwa unsur-unsur dasar (yakni, tanah, udara,
api, dan air) bersatu menciptakan berbagai tubuh. Ia juga percaya
bahwa manusia berkembang dari kehidupan tumbuhan, dan hanya faktor
di luar kesengajaanlah yang berperan dalam proses ini.7Sebagaimana
telah disebutkan, pemikiran tentang ketidaksengajaan ini beserta
perannya dalam penciptaan, menjadi landasan utama ditegakkannya
teori evolusi.
Heraclitus (wafat abad ke-5 SM) menyatakan,
karena alam semesta selalu dalam proses perubahan yang terus-menerus,
tidak ada gunanya mempertanyakan dongeng uraian tentang awal alam
semesta. Ditandaskan olehnya bahwa alam semesta tidak berawal atau
berakhir. Sebaliknya, alam semesta ada begitu saja. Singkatnya,8
kepercayaan materialis, yang di atasnya berdiri evolusi, juga ada
di masa Yunani kuno.
Gagasan perkembangan seketika didukung oleh banyak
filsuf Yunani lain, khususnya Aristoteles (384-322 SM). Gagasan
ini mengatakan bahwa hewan, khususnya cacing, serangga, dan tumbuhan,
muncul dengan sendirinya di alam, dan tidak perlu melalui proses
pembuahan. Maurice Manquat, yang tersohor akan berbagai kajiannya
tentang gagasan Aristoteles mengenai sejarah alam, suatu kali berkata:
Aristoteles begitu memikirkan asal-muasal
kehidupan, sampai-sampai ia menerima kemunculan seketika (bersatunya
zat-zat tak-hidup untuk seketika membentuk makhluk hidup) untuk
menjelaskan peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak dapat diterangkan
dengan cara lain.9
Bila diperiksa dengan seksama, tampak ada cukup banyak
kemiripan antara gagasan-gagasan para pemikir evolusionis zaman
dulu dengan sekarang. Akar gagasan materialis, yaitu alam semesta
tak berawal dan tak berakhir, maupun pandangan evolusionis, yaitu
makhluk hidup muncul sebagai akibat faktor kebetulan, terdapat dalam
budaya Sumeria musyrik, dan umum di kalangan pemikir materialis
Yunani. Gagasan bahwa kehidupan muncul dari air dan adonan yang
disebut segumpal "massa purba", serta bahwa makhluk hidup muncul
hanya karena ketidaksengajaan, menjadi dasar kedua gagasan ini,
yang masih terkait sekalipun terpisah tenggang waktu yang amat panjang.
Heraclitus
|
Jadi, kaum evolusionis Muslim mendukung sebuah teori,
yang akarnya tertanam dalam gagasan kuno yang telah terbukti tidak
memiliki dasar ilmiah. Lebih lagi, gagasan serupa pertama kali diusulkan
oleh para pemikir materialis kuno, dan mengandung makna pagan atau
musyrik.
Ahli filsafat Yunani, Aristoteles
|
Sebenarnya, evolusi tidak terbatas pada budaya Sumeria
kuno maupun filsuf Yunani kuno saja, sebab evolusi juga membentuk
saripati berbagai sistem kepercayaan mutakhir yang besar, seperti
Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Dengan kata lain, evolusi
tidak lebih daripada sebuah teori, yang sepenuhnya bertentangan
dengan keyakinan dalam Islam.
Sebagian evolusionis Muslim, sekalipun bertentangan
dengan bukti ilmiah, menyatakan bahwa Al Qur'an mendukung apa yang
disebut-sebut sebagai "teori evolusi penciptaan", dan mencoba menemukan
sumber evolusi di dunia Muslim. Mereka menyatakan bahwa gagasan
ini pertama kali muncul dari para pemikir Muslim dan, saat karya
mereka diterjemahkan ke dalam bahasa asing, gagasan evolusionis
timbul di dunia Barat.
Akan tetapi, beberapa contoh di atas jelas mengungkapkan
bahwa evolusi tidak lebih daripada sebuah kepercayaan kuno, yang
lahir di masyarakat kuno yang tak beragama. Sungguh suatu kesalahan
besar apabila kita mencoba membuktikan bahwa paham evolusionis,
yang dibangun di atas dasar kebendaan, bisa berasal dari kaum Muslimin,
padahal sama sekali tidak ada dasar ilmiah dan sejarah yang mendukung
pernyataan itu.
Ketidaksengajaan Bertentangan
dengan Kebenaran Penciptaan
Mereka yang berpendapat bahwa evolusi tidak bertentangan
dengan penciptaan, lupa akan satu hal penting: Orang seperti mereka
percaya bahwa pernyataan utama Darwinisme adalah, makhluk hidup
muncul melalui perubahan bertahap (evolusi) dari makhluk hidup lain.
Akan tetapi, sebenarnya bukan begitu, sebab kaum evolusionis menyatakan
bahwa kehidupan muncul sebagai hasil ketidaksengajaan, oleh pergerakan
tak-sadar. Dengan kata lain, kehidupan di Bumi lahir tanpa Sang
Pencipta, dan dengan sendirinya, dari zat-zat tak-hidup.
Prof. Fred Hoyle
|
Pernyataan seperti itu mengingkari keberadaan Sang
Pencipta sedari awal, dan karena itu tidak dapat diterima oleh kaum
Muslimin. Akan tetapi, sebagian orang Muslim, yang tidak menyadari
kebenaran ini, tidak melihat adanya bahaya apabila mendukung evolusi,
berdasarkan anggapan bahwa Allah bisa saja menggunakan perubahan
bertahap (evolusi) dalam penciptaan makhluk hidup.
Namun, mereka mengabaikan satu bahaya besar: walaupun
mereka sedang mencoba memperlihatkan bahwa evolusi tidak bertentangan
dengan agama, nyatanya mereka tengah mendukung dan menyetujui sebuah
gagasan yang amat tidak mungkin dari sudut pandang mereka sendiri.
Sementara itu, kaum evolusionis berpura-pura tidak melihat keadaan
ini, karena hal ini membantu mereka mencapai tujuan, yaitu agar
masyarakat menerima gagasan mereka.
Melihat masalah ini sebagai seorang Muslim yang taat,
dan mempertimbangkannya dalam petunjuk Al Qur'an, nyata-nyata bahwa
teori yang berlandasan utama ketidaksengajaan tidak memiliki kesamaan
apa pun dengan Islam. Evolusi menganggap ketidaksengajaan, waktu,
dan zat tak-hidup sebagai tuhan, dan menyematkan gelar "pencipta"
pada makhluk-makhluk tak-sadar dan lemah ini. Tak seorang Muslim
pun dapat menerima teori berdasar pagan serupa itu, sebab setiap
Muslim tahu bahwa Allah, satu-satunya Sang Pencipta, yang menciptakan
segalanya dari ketiadaan. Karena itu, Muslim menggunakan ilmu pengetahuan
dan nalar untuk membantah semua kepercayaan dan gagasan yang bertentangan
dengan fakta tersebut.
Evolusi adalah sebagian dari paham kebendaan (materialisme),
dan, menurut materialisme, alam semesta tidak berawal atau berakhir,
sehingga tidak memerlukan Sang Pencipta. Pemikiran anti-agama ini
mengajukan bahwa alam semesta, galaksi, bintang, planet, matahari,
dan benda-benda langit lainnya, beserta sistem dan keseimbangan
yang sempurna tanpa cacat di dalamnya, adalah hasil kebetulan (ketidaksengajaan).
Dengan cara yang sama, teori evolusi menyatakan bahwa protein yang
pertama dan sel yang pertama (yaitu blok atau satuan pembangun makhluk
hidup) berkembang dengan sendirinya sebagai hasil serangkai kebetulan
yang buta. Menurut pemikiran ini juga, semua keajaiban rancangan
pada semua makhluk hidup, baik yang hidup di darat, di laut, atau
di udara, adalah hasil ketidaksengajaan. Walaupun dikepung bukti-bukti
penciptaan, dimulai dari rancangan pada tubuhnya sendiri, penganut
teori evolusi bersikeras menganggap bahwa segenap kesempurnaan itu
dihasilkan ketidaksengajaan dan proses tak sadar. Dengan kata lain,
ciri utama mereka adalah menganggap ketidaksengajaan sebagai tuhan,
demi mengingkari keberadaan Allah. Akan tetapi, penolakan untuk
menerima atau melihat keberadaan dan keagungan Allah yang nyata
ini, tidaklah mengubah apa pun. Pengetahuan Allah yang tak berhingga,
dan seni Allah yang tak tertandingi, terungkap sendiri dalam apa
pun yang diciptakanNya.

Pendukung evolusi menyatakan bahwa sel
hidup pertama muncul pada lingkungan bumi purba, dari zat
tak hidup dan akibat peristiwa alam yang tak disengaja.
|
Kenyataannya, berbagai kemajuan ilmiah
mutakhir dengan gamblang menolak pernyataan-pernyataan tak berdasar
evolusionis bahwa kehidupan muncul dengan sendirinya dan melalui
proses alamiah. Rancangan agung pada makhluk hidup menunjukkan bahwa
Sang Pencipta, yang memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan agung,
yang menciptakan semua makhluk hidup. Fakta bahwa organisme yang
paling sederhana sekali pun ternyata adalah rumit tak teruraikan,
menempatkan setiap penganut teori evolusi dalam kebingungan yang
sangat, tanpa jalan keluar - sebuah kenyataan yang sering mereka
akui sendiri! Misalnya, matematikawan dan ahli astronomi Inggris
yang tersohor, Fred Hoyle, mengakui bahwa kehidupan tidak mungkin
ditimbulkan oleh ketidaksengajaan:
Akan tetapi, sekali waktu kita melihat bahwa besarnya
kemungkinan makhluk hidup berawal secara acak adalah begitu kecilnya,
sampai-sampai menjadi mustahil … 10
Evolusionis Pierre-Paul Grassé mengakui bahwa anggapan
sifat ketidaksengajaan memiliki daya cipta adalah murni khayalan:
Namun, teori Darwin bahkan lebih
sulit dipenuhi: sebatang tumbuhan, seekor hewan, mensyaratkan terjadinya
beribu-ribu peristiwa mujur yang tepat. Jadi, berbagai keajaiban
menjadi biasa: peristiwa dengan tingkat kemungkinan amat rendah
tidak mungkin tidak berlangsung … Tidak ada aturan yang melarang
orang berangan-angan, namun dalam ilmu pengetahuan hal itu tidak
boleh berlebihan.11
Kata-kata itu membuat kebingungan pemikiran yang dihadapi
kaum evolusionis menjadi benar-benar jelas: Sekalipun mereka lihat
bahwa teori ini tak bisa dipertahankan dan tak ilmiah, mereka tak
mau melepaskannya karena obsesi pemikiran mereka. Dalam pernyataan
lainnya, Hoyle mengungkapkan mengapa kaum evolusionis yakin pada
ketidaksengajaan:
Sungguh, teori itu (yakni bahwa makhluk
hidup dirancang oleh sebuah kecerdasan), sudah begitu jelasnya,
sehingga orang bertanya-tanya mengapa teori itu tidak diterima luas,
karena terbukti-benar dengan sendirinya. Sebabnya lebih berupa sebuah
alasan kejiwaan daripada ilmiah. 12
   
Pernyataan kaum evolusionis bahwa
"kehidupan terjadi dengan sendirinya secara kebetulan dari
unsur tak hidup merupakan hal yang tidak masuk akal dan tidak
sejalan dengan pikiran sehat. Hal ini sama dengan menyatakan
bahwa patung Liberty terbentuk karena tersusunnya secara tak
sengaja pasir dan batu-batu saat halilintar menyambar lautan.
|
Apa yang dilukiskan Hoyle sebagai alasan "psikologis"atau
kejiwaan telah menyiapkan kaum evolusionis untuk mengingkari penciptaan.
Semua alasan ini adalah bukti yang cukup bagi evolusionis Muslim,
untuk menganggap evolusi sebagai tidak lebih daripada sebuah teori
yang diciptakan untuk mengingkari Allah.
Seleksi Alam dan Mutasi Tidak
Memiliki Daya untuk Menyebabkan Perubahan Bertahap (Evolusi)
Kaum evolusionis Muslim, yang mengabaikan fakta bahwa
ilmu pengetahuan telah menggugurkan evolusi, juga menghadapi permasalahan
sulit lainnya: pernyataan bahwa 1,5 juta jenis makhluk hidup di
alam muncul sebagai akibat peristiwa alam yang tak-sadar.
Menurut para evolusionis, sel hidup
pertama terbentuk akibat berbagai reaksi kimia dalam zat tak-hidup.
(Marilah kita ingat bahwa cukup banyak bukti ilmiah yang menunjukkan
bahwa hal ini tidak mungkin. Lebih lagi, para peneliti yang melakukan
percobaan menyatukan gas-gas penyusun lapisan atmosfer awal Bumi,
sekaligus berbagai keadaan lapisan atmosfer yang sesuai, tidak mampu
"menghasilkan" satuan blok pembangun kehidupan yang terkecil sekali
pun, yakni protein.13 ) Karena mereka gagal memunculkan
organisme hidup, walaupun semua pengetahuan dan teknologi tersedia
bagi mereka, secara ilmiah adalah lebih tak masuk akal lagi apabila
dinyatakan bahwa ketidaksengajaan buta mampu menghasilkannya.
Evolusi juga menyatakan bahwa kehidupan berawal dari
sel pertama tersebut, yang tumbuh kian rumit, dan yang semakin lama
semakin kaya dan beragam, sampai manusia dihasilkan. Singkatnya,
lanjut teori itu, berbagai pergerakan tak-sadar di alam terus mengembangkan
makhluk hidup. Contohnya, satu bakteri mengandung kode genetik untuk
sekitar 2.000 protein, sementara manusia mengandung kode genetik
untuk sekitar 200.000 protein. Dengan kata lain, suatu pergerakan
tak-sadar telah "menghasilkan" data genetik untuk 198.000 protein
baru, seiring dengan berlalunya waktu.

Informasi dalam satu molekul DNA manusia
sudah cukup untuk memenuhi 1000 buku. Ensiklopedia raksasa
ini diketahui meliputi 3 juta huruf. Penciptaan DNA yang sempurna
ini merupakan bukti kekuasaan dan kehebatan Allah yang tak
terbatas.
|
Itu yang dinyatakan evolusi. Namun, benarkah alam berisi
mekanisme atau pergerakan yang dapat menambah data genetik pada
suatu makhluk hidup?
Teori evolusi modern - juga dikenal sebagai neo-Darwinisme,
yaitu versi perbaikan atas teori asli Darwin, yang ikut memperhitungkan
berbagai temuan terbaru dalam ilmu genetika - mengusulkan dua mekanisme:
seleksi alam dan mutasi.
Seleksi alam berarti bahwa makhluk yang kuat, dan dapat
menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan alam, akan memenangkan
pertarungan demi mempertahankan hidup, sementara yang lainnya tersisih
dan lenyap. Misalnya, penurunan suhu yang terus-menerus di suatu
wilayah berarti populasi hewan tertentu, yang tidak tahan terhadap
suhu rendah, akan terpangkas. Pada jangka panjang, hanya hewan yang
tahan suhu dingin yang bertahan hidup, dan akhirnya menjadi seluruh
populasi.
Contoh lain, dalam kasus kelinci yang hidup terus-menerus
dalam ancaman hewan pemangsa, hanya yang terbaik menyesuaikan diri
dengan lingkup keadaan itu (misalnya, yang dapat berlari paling
cepat), bertahan hidup dan mewariskan ciri atau sifatnya kepada
generasi berikutnya. Akan tetapi, pemeriksaan seksama mengungkapkan
bahwa tidak ada ciri baru yang muncul di sini, karena kelinci ini
tidak berubah menjadi jenis hewan atau spesies yang baru, atau pun
memperoleh sifat baru. Jadi, orang tidak dapat berkata bahwa seleksi
alam menyebabkan evolusi.
Karena itu, evolusionis hanya tinggal memiliki mutasi.
Agar pernyataan evolusi dapat diterima, mutasi harus mampu menambah
data genetik pada suatu makhluk hidup. Mutasi dijabarkan sebagai
kesalahan dalam gen makhluk hidup, yang terjadi akibat pengaruh
luar (misalnya, radiasi atau penyinaran,) atau pun akibat kesalahan
penyalinan DNA. Tentu saja, mutasi dapat menyebabkan perubahan,
namun perubahan itu selalu merusak. Dengan kata lain, mutasi tidak
bisa mengembangkan makhluk hidup; bahkan sebaliknya, selalu membahayakannya.
 |
Menurut
paham seleksi alam, makhluk hidup yang kuat dan yang mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya akan bertahan
hidup, sementara lainnya akan punah. Para evolusionis
berpendapat bahwa seleksi alam menyebabkan makhluk hidup
berevolusi dan menghasilkan jenis makhluk baru. Akan tetapi,
seleksi alam tidaklah berpengaruh apa pun. Semua "bukti"
yang diajukan sejauh ini menegaskan hal itu. |
|
Genetika mencapai kemajuan besar selama abad ke-20.
Dengan mempelajari berbagai penyakit keturunan pada makhluk hidup,
berdasarkan ilmu pengetahuan yang berkembang cepat, para ilmuwan
memperlihatkan bahwa mutasi bukanlah perubahan hayati yang dapat
menyumbangkan sesuatu bagi evolusi. Ini bertentangan dengan pernyataan
evolusionis. Kemajuan-kemajuan dalam genetika khususnya menghasilkan
pengetahuan bahwa sekitar 4.500 penyakit yang diduga sebagai penyakit
keturunan sebenarnya disebabkan oleh mutasi.
Agar dapat diwariskan kepada keturunan, mutasi harus
terjadi pada organ perkembangbiakan (sel sperma pada lelaki, indung
telur pada perempuan). Hanya perubahan genetik jenis ini yang dapat
diwariskan kepada generasi berikutnya. Banyak penyakit keturunan
disebabkan justru oleh perubahan pada sel-sel tersebut. Mutasi,
di sisi lain, terjadi di organ tubuh lainnya (misalnya, hati atau
otak), sehingga tidak bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Mutasi yang demikian, disebut "somatik", menyebabkan banyak penyakit
kanker melalui kemunduran dalam DNA sel.
Kanker merupakan salah satu contoh paling tepat tentang
kerusakan yang disebabkan oleh mutasi. Banyak faktor karsinogenik
(penyebab kanker), misalnya zat kimia dan sinar ultra-ungu, sebenarnya
menyebabkan mutasi. Setelah adanya temuan mutakhir tentang gen onkogenik
(pendorong kanker) dan gen pencegah tumor, yang apabila tidak bekerja
dengan benar, mampu menimbulkan kanker, para peneliti menyadari
bagaimana mutasi menyebabkan kanker. Kedua jenis gen ini penting
bagi sel untuk memperbanyak diri, serta bagi tubuh untuk memperbaharui
diri. Jika salah satunya rusak karena mutasi, sel-sel mulai tumbuh
tak terkendali dan kanker pun mulai terbentuk. Kita dapat membandingkan
keadaan ini dengan pedal gas yang macet atau rem yang blong pada
sebuah mobil. Dalam kedua kasus tersebut, akan terjadi tabrakan.
Begitu pula, pertumbuhan sel yang tak terkendali akan menyebabkan
kanker, lalu kematian. Jika mutasi merusak gen-gen ini pada saat
kelahiran, seperti dalam kasus retinoblastoma (kanker sel mata),
bayi yang terkena akan segera meninggal dunia.
Kerusakan yang diakibatkan oleh mutasi pada makhluk
hidup tidak terbatas pada contoh-contoh ini saja. Hampir semua mutasi
yang dapat teramati sejauh ini bersifat merusak; hanya beberapa
saja yang tidak berpengaruh apa-apa. Walaupun demikian, kaum evolusionis,
termasuk yang Muslim, masih mencoba mempertahankan anggapan bahwa
mutasi adalah mekanisme yang berlaku dalam evolusi. Jika satu makhluk
hidup memang berubah menjadi makhluk hidup lain, sebagaimana dinyatakan
kaum evolusionis, mestinya terjadi berjuta-juta mutasi yang menguntungkan,
dan terdapat pada semua sel benih dan peranakan.
Ilmu pengetahuan, seiring dengan kemajuan yang terus-menerus
dicapainya, telah menemukan berjuta-juta mutasi jahat, dan telah
mengenali berbagai penyakit yang diakibatkannya. Akan tetapi, teori
evolusi menghadapi kebingungan yang mengenaskan: para ilmuwan evolusionis
tidak bisa menyebutkan satu pun mutasi yang benar-benar menambah
data genetik. Pierre Paul Grassé, seorang ahli zoologi terkemuka
Perancis, penyunting buku 35 jilid Traite de Zoologie, dan mantan
ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis, mengibaratkan mutasi dengan
huruf yang salah diketik saat menyalin naskah tertulis. Dan, sebagaimana
huruf salah ketik, mutasi tidak menambah keterangan; bahkan, merusak
data yang sudah ada. Grassé menyatakan fakta ini dengan cara berikut:
Mutasi, dalam sejarah, terjadi secara
acak. Mutasi tak saling melengkapi satu sama lain, tidak juga bertambah
pada generasi selanjutnya menuju arah tertentu. Mutasi mengubah
apa yang sudah menetap, namun secara kacau dan salah, walaupun bagaimana
… Begitu ada kekacauan, sekalipun kecil, timbul pada makhluk yang
tersusun dan teratur, maka penyakit, lalu kematian, pun mengikuti.
Tidak ada jalan tengah yang bisa tercipta antara gejala kehidupan
dan kekacauan. 14

Gempa bumi menghancurkan sebuah kota,
dan tidak membangunnya. Demikian halnya, mutasi acak tak sengaja
pun akan mengakibatkan penyakit, kerusakan, dan kelumpuhan
makhluk hidup
|
Menimbang fakta ini, mutasi, sebagaimana dijelaskan
Grassé, "betapa pun banyaknya, tidaklah menghasilkan evolusi jenis
apa pun." Kita dapat membandingkan akibat mutasi dengan gempa bumi.
Sama seperti gempa bumi, yang tidak membantu membangun atau memperbaiki
sebuah kota melainkan malah memorak-porandakannya, mutasi pun selalu
berpengaruh buruk. Dari sudut pandang ini, pernyataan evolusionis
tentang mutasi adalah sepenuhnya tanpa dasar. (Untuk rincian, lihat
The Evolution Deceit oleh Harun Yahya, Taha Publishers, London,
1999).
"Kaum kami telah menjadikan selain Dia
sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak
mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?)
Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah?" (QS. Al Kahfi, 18:15)
|
Penelitian Fosil Membuktikan
Penciptaan
Melihat fakta-fakta di atas, kemajuan ilmiah menunjukkan
bahwa seleksi alam dan mutasi tidak berdaya evolusi. Karena tidak
ada mekanismenya, evolusi tidak mungkin pernah terjadi di masa lalu.
Akan tetapi, kaum evolusionis masih bersikeras bahwa semua makhluk
berevolusi dari satu ke lainnya, lewat proses yang lambat selama
ratusan juta tahun. Kesalahan mereka disembunyikan dalam jalan pikiran
ini, karena jika skenario mereka memang benar, makhluk tahap peralihan,
yang tak terhitung banyaknya, dari rentang waktu tersebut seharusnya
sudah terbentuk. Lebih lagi, kita seharusnya menemukan sisa-sisa
fosilnya.
Pernyataan kaum evolusionis yang
tak masuk akal tampak mencolok dalam setiap perkara. Coba kita lihat
perihal munculnya ikan, yang dikatakan kaum evolusionis, berasal
dari invertebrata (hewan tak bertulang belakang), seperti bintang
laut dan cacing laut. Jika pernyataan ini benar, seharusnya ada
contoh makhluk peralihan yang jumlahnya berlimpah ruah, demi membolehkan
terjadinya sebuah evolusi yang lamban. Dengan kata lain, kita seharusnya
dapat melihat sisa fosil dari berjenis-jenis hewan (spesies) yang
memiliki baik ciri-ciri ikan mau pun ciri-ciri invertebrata. Akan
tetapi, walaupun banyak fosil ikan dan invertebrata ditemukan para
ilmuwan, tidak pernah ada fosil makhluk peralihan, yang dapat membenarkan
pernyataan evolusionis, yang ditemukan. Ketiadaan demikian, pada
gilirannya, berarti evolusi tidak pernah terjadi. (Ternyata, ikan
pertama di Bumi muncul di zaman geologis yang sama dengan invertebrata
rumit yang pertama dikenal. Fosil ikan berasal dari 530 juta tahun
yang lampau.15 Pada saat itu, yang dikenal sebagai
zaman Kambrium, semua kelompok utama hewan invertebrata tiba-tiba
muncul di Bumi.)
Sebagai contoh, kaum evolusionis menyatakan
bahwa bintang laut berevolusi menjadi ikan sejati setelah
jutaan tahun. Berdasarkan pernyataan ini, seharusnya terdapat
banyak bentuk peralihan di antara kedua jenis ikan tersebut.
Akan tetapi, tidak satu pun fosil yang memiliki bentuk peralihan
pernah ditemukan. Ditemukan bintang laut dan ikan dalam catatan
fosil, tetapi tidak ada bentuk peralihan di antara keduanya.
|
Walaupun sadar betul akan hal ini,
kaum evolusionis menggunakan cara seperti hasutan atau demagogi
dan bukti palsu, untuk membuat orang percaya pada evolusi. 16
Bahkan Darwin sendiri tahu bahwa catatan fosil tidak mendukung teorinya;
ia cuma berharap bahwa catatan itu akan semakin berlimpah seiring
berlalunya waktu, dan berbagai makhluk tahap peralihan akan ditemukan.
Akan tetapi, kaum evolusionis masa kini tidak lagi memiliki harapan
seperti itu. Bahkan mereka akui, catatan fosil begitu kaya dan sudah
memadai untuk mengungkapkan sejarah kehidupan. Prof N. Heribert
Nillson, ahli botani evolusionis yang ternama berkebangsaan Swedia
dari Universitas Lund, mengatakan hal berikut tentang catatan fosil:
Upaya saya untuk menunjukkan peristiwa
evolusi, melalui sebuah percobaan yang sudah dilangsungkan selama
lebih dari 40 tahun, sudah sepenuhnya gagal … Bahan fosil kini sudah
begitu lengkap, sehingga bahkan dapat disusun berbagai kelas (makhluk
hidup) baru, dan ketiadaan rangkaian makhluk tahap perantara tidak
bisa dijelaskan sebagai akibat kurangnya bahan (fosil). Kekosongan
itu memang ada, (dan) tidak akan pernah terisi. 17
T. Neville George, guru besar ilmu paleontologi Universitas
Glasgow, menyatakan bahwa sekalipun catatan fosil sangat berlimpah,
bentuk peralihan yang sudah lama dicari-cari belum juga ditemukan:
Tidak perlu lagi meminta maaf atas
kekurangan dalam catatan fosil. Dalam segi tertentu, catatan fosil
itu sudah demikian berlimpah, hampir tak terkelola, dan kecepatan
penemuan fosil sudah melebihi kecepatan penyusunannya … Meskipun
demikian, catatan fosil tetap saja masih lebih banyak terdiri atas
celah dan kesenjangan. 18
Para evolusionis bahkan melangkah terlalu jauh, sampai-sampai
mengakui bahwa bukan saja menyangkal evolusi, catatan fosil juga
memberikan bukti ilmiah bagi kebenaran penciptaan. Misalnya, evolusionis
ahli paleontologi Mark Czarnecki mengakui:
Masalah besar dalam membuktikan teori
ini ialah catatan fosil; jejak-jejak makhluk hidup yang sudah punah,
yang terawetkan dalam lapisan batuan Bumi. Catatan ini tidak pernah
mengungkapkan tanda-tanda adanya makhluk perantara yang diduga Darwin
- bahkan, berbagai jenis makhluk hidup muncul dan menghilang dengan
tiba-tiba, dan kejanggalan ini amat memperkuat paham penciptaan
bahwa setiap jenis makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan ... 19
Seperti telah kita lihat, kaum evolusionis menderita
kekecewaan mengenaskan menyangkut makhluk tahap perantara. Tidak
ada satu pun penggalian di dunia ini yang telah menghasilkan jejak
adanya bentuk peralihan, sekalipun yang paling samar, sejak Darwin
kali pertama mengajukannya. Temuan itu semua adalah dari jenis yang
seakan bermaksud menghancurkan harapan kaum evolusionis, dan menunjukkan
bahwa makhluk hidup di Bumi muncul tiba-tiba, berkembang sempurna,
dan tanpa cela.
Akan tetapi, sekalipun mengetahui bahwa bentuk peralihan
tidak pernah ada, para ilmuwan evolusionis tak mau meninggalkan
teori mereka. Mereka memberikan uraian berprasangka tentang sejumlah
fosil. Dalam karangannya In Search of Deep Time, Henry Gee, anggota
redaksi majalah termasyhur di dunia, Nature, melukiskan seberapa
ilmiah sebenarnya uraian-uraian tentang fosil semacam itu:
… kita menyusun fosil-fosil dalam
suatu urutan yang mencerminkan pemerolehan bertahap dari apa saja
yang kita lihat pada diri sendiri. Kita tidak mencari kebenaran,
kita menciptakannya setelah kejadian, untuk disesuaikan dengan prasangka
kita sendiri … Untuk mengambil sederet fosil, dan menyatakan bahwa
deretan itu melambangkan satu garis keturunan, bukanlah sebuah dugaan
(hipotesis) ilmiah yang dapat diuji, melainkan sebuah pernyataan
yang mengandung keabsahan setara dengan dongeng sebelum tidur -
menghibur, bahkan mungkin berisi pelajaran, namun tidak ilmiah.
20
Itulah sebabnya, mengapa mereka yang beriman kepada
Allah tidak boleh teperdaya oleh permainan kata dan kebohongan yang
berjubah ilmiah. Salah besar, jika percaya bahwa sekelompok orang,
hanya karena mereka ilmuwan, pasti berkata benar dan patut dipercaya.
Ilmuwan evolusionis tidak punya rasa bersalah menyembunyikan kebenaran,
memelintir fakta ilmiah, dan bahkan membuat bukti-bukti palsu untuk
membela pemikiran mereka. Sejarah Darwinisme penuh dengan contoh
semacam itu.
Bila kita tinjau garis-garis besar Darwinisme yang
paling dasar sekalipun, segera terlihat ketidak-absahan dan landasannya
yang lapuk habis. Bila kita periksa rinciannya, keadaan ini semakin
jelas. (Lihat The Evolution Deceit, Taha Publishers, London, 1999
dan Darwinism Refuted, Goodword Publishers, New Delhi, 2003 untuk
keterangan lebih lanjut.)
Berlawanan dengan apa yang dinyatakan kaum evolusionis,
kita melihat suatu perancangan dan perencanaan agung dalam ciri
semua makhluk hidup dan tak-hidup, ke mana pun kita memandang. Itulah
tanda bahwa Allah telah menciptakan semuanya. Kaum evolusionis terus
mengibarkan perlawanan sia-sianya, karena tidak ingin menerima kenyataan
ini. Sebagai penganut paham materialisme sejati, mereka sedang mencoba
menghidupkan kembali sesosok mayat.
Semua ini membawa ke hanya satu kesimpulan: Darwinisme
menyesatkan orang dari akal sehat, ilmu pengetahuan, dan kebenaran,
serta menggiring mereka ke arah ke cara berpikir tanpa akal sehat.
Orang-orang yang percaya kepada evolusi tak bersedia mengikuti jalur
nalar dan ilmu pengetahuan, dan termakan omong kosong penuh takhayul
yang disampaikan turun-temurun sejak tahun 1880-an saat Darwin masih
hidup. Akhirnya, mereka mulai percaya bahwa ketidaksengajaan atau
kebetulan bisa memainkan peran bersifat ilahiah, walaupun segenap
alam semesta penuh dengan tanda-tanda penciptaan. Cukup melihat
satu saja mekanisme tanpa cacat di langit dan di laut, pada tumbuhan
dan hewan, untuk menyadari hal ini. Mengatakan bahwa semua ini karya
ketidaksengajaan merupakan pelecehan nalar, akal, dan ilmu pengetahuan.
Yang diperlukan adalah pengakuan atas kekuatan dan keagungan Allah,
dan setelah itu, penyerahan diri kepadaNya.
Keliru Jika Mengira Charles Darwin
Taat Beragama

Ernst Mayr
|
Sebagian besar kaum beragama yang mendukung teori evolusi
berpendapat bahwa Charles Darwin taat beragama. Akan tetapi, sungguh
mereka keliru, karena di masa hidupnya Charles Darwin mengungkapkan
pandangan buruknya tentang Tuhan dan agama.
Darwin memang percaya
kepada Tuhan semasa mudanya, namun perlahan imannya menipis dan
digantikan oleh paham ateisme di saat usianya setengah baya. Akan
tetapi, tidak ia umumkan fakta ini, karena tidak ingin memancing
tentangan, khususnya dari istrinya yang taat, maupun dari kerabat
dekat dan lembaga agama. Dalam bukunya Darwin and the Darwinian
Revolution, ahli sejarah Darwinis Gertrude Himmelfarb menulis: "Karena
itu, gambaran menyeluruh tentang keingkaran Darwin [akan keberadaanTuhan]
tidak dapat diketahui pada karya maupun riwayat hidupnya yang diterbitkan,
namun terlihat hanya dalam versi asli riwayat hidup tersebut."21
Buku Himmelfarb juga mengungkapkan bahwa ketika putra Darwin, Francis,
hendak menerbitkan bukunya The Life and Letters of Charles Darwin,
istri Darwin, Emma, menentang sengit rencana itu, dan tidak hendak
memberikan izin, takut surat-surat itu menimbulkan heboh setelah
kematian Darwin. Emma memperingatkan puteranya untuk membuang bagian-bagian
yang langsung mengacu ke paham tak bertuhan (ateisme). Seluruh keluarga
khawatir bahwa pernyataan seperti itu akan menghancurkan nama harum
Darwin. 22
Darwin and Darwinian Revolution, karya
sejarawan pendukung Darwin, Gertrude Himmelfarb.
|
Menurut ahli biologi Ernst Mayr,
pendiri neo-Darwinisme; "Jelas bahwa Darwin kehilangan imannya di
tahun 1836-1839, sebagian besar nyata-nyata sebelum membaca Malthus.
Agar tidak melukai perasaan teman-teman dan istrinya, Darwin sering
menggunakan bahasa ilahiah dalam buku-bukunya, namun banyak bagian
dalam buku catatannya yang menandakan, saat itu ia telah menjadi
seorang 'materialis'." 23
Darwin selalu memerhatikan tanggapan keluarganya, dan
sepanjang hidupnya berhati-hati menyembunyikan gagasannya tentang
agama. Ia bertindak demikian, menurut kata-katanya sendiri, karena:
Isteri Charles Darwin, Emma
|
Beberapa tahun silam aku sungguh-sungguh
dinasehati oleh seorang kawan agar jangan pernah memasukkan apa-apa
tentang agama dalam tulisan-tulisanku jika ingin memajukan ilmu
pengetahuan di Inggris; dan nasehat ini mendorongku untuk tidak
mempertimbangkan pembahasan yang terkait dengan kedua hal itu. Jika
sebelumnya kutahu bahwa dunia akan menjadi sedemikian bebas, mungkin
seharusnya aku bertindak lain. 24
Sebagaimana bisa kita lihat dari
kalimat terakhir, jika sudah merasa yakin ia tidak akan memancing
tentangan, Darwin tidak akan sedemikian berhati-hati. Ketika Karl
Marx (1818-1883) mengusulkan untuk mempersembahkan Das Kapital kepadanya,
tegas Darwin menolak penghormatan itu dengan alasan beberapa anggota
keluarganya akan merasa sakit hati jika ia dikaitkan dengan buku
ateistis semacam itu. 25
Akan tetapi, kita masih bisa mengetahui
sikap Darwin terhadap pokok dan kepercayaan ruhani dan agama, dalam
kata-kata kepada sepupunya ini: "Kupikir semua perasaan manusia
dapat ditelusuri sampai ke benihnya pada hewan." 26
Darwin juga menentang pengajaran
agama kepada anak-anak karena keyakinannya bahwa mereka harus dibebaskan
dari keyakinan agama 27
Pandangan anti-agama ini menurun ke kaum evolusionis
masa kini seolah-olah sejenis warisan. Sama seperti Darwin tidak
ingin anak-anak belajar tentang Tuhan selagi bersekolah, para evolusionis
mutakhir menentang mati-matian pengajaran tentang penciptaan di
sekolah-sekolah. Mereka giat berusaha di seluruh dunia agar penciptaan
dikeluarkan dari kurikulum pendidikan.
Paham Tak Bertuhan yang Dianut
Darwin dan Upaya Menyembunyikannya
Darwin membuat pernyataan berikut
tentang ketiadaan imannya, "pengingkaran [kepada Tuhan] merayapi
diriku dengan pelan-pelan sekali, tetapi pada akhirnya menjadi sempurna
…" 28
Buku yang sama menggambarkan, bagaimana ayah Darwin
mengajaknya bicara secara diam-diam saat ia akan melangsungkan pernikahan,
dan menyarankan agar Darwin menyembunyikan keraguan imannya dari
istrinya. Akan tetapi, sejak semula Emma sadar akan iman Darwin
yang terus menipis. Ketika buku Darwin Descent of Man diterbitkan,
Emma mengakui kepada putrinya tentang pandangan anti-agama buku
itu:
Aku akan amat membencinya karena
lagi-lagi mengesampingkan Tuhan kian jauh. 29
|
|
|
Darwin mengaku sebagai
seorang ateis dalam surat dan buku riwayat hidupnya.
|
|
Dalam sepucuk surat yang ditulisnya pada tahun 1876,
Darwin menyatakan bagaimana keyakinannya menipis:
… Kesimpulan ini (paham bertuhan,
atau teisme) kuat di benakku di sekitar saat, sejauh yang dapat
kuingat, kutulis "Origin of Species"; dan sejak itu secara perlahan,
dengan berkali-kali naik-turun, menipis… 30
Pada saat yang sama, ia merasa aneh bahwa orang-orang
selainnya mesti memiliki kepercayaan agama, dan menyatakan bahwa
manusia, yang diyakininya berasal dari hewan tingkat rendah, tidak
dapat meyakini kepercayaan-kepercayaan itu:
Dapatkah pikiran manusia, yang kuyakin
sepenuhnya, berkembang dari pikiran serendah yang dimiliki hewan
terendah, dipercaya saat menarik kesimpulan agung seperti itu? 31
Alasan dasar Darwin mengingkari adanya Tuhan adalah
keangkuhan. Kita dapat melihatnya dalam pernyataan berikut:
Dalam pengertian bahwa sesosok Tuhan
yang mahakuasa dan mahatahu harus mengatur dan mengetahui segalanya,
hal ini mesti diakui; namun, sejujur-jujurnya, aku hampir tidak
bisa mengakuinya. 32
Dalam sebuah lampiran singkat yang ditulis tangan pada
kisah hidupnya, ia menulis:
Aku tidak merasakan penyesalan dari
melakukan dosa besar apa pun.33
Pernyataan Darwin, yang mengingkari keberadaan Allah
dan agama, sesungguhnya mengikuti sebuah pola pikir yang tak mengenal
Allah dari zaman kuno. Ayat Al Qur'an melukiskan bagaimana mereka
yang mengingkari Allah sesungguhnya menyadari bahwa Dia ada, namun
masih juga mengingkariNya karena keangkuhan:
Dan mereka mengingkarinya* karena kezaliman dan
kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.
Maka, perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.
(QS.An Naml, 27: 14)
*mukjizat-mukjizat Allah; lihat ayat ke-13.
Hal terpenting di sini adalah: keyakinan ateisme Darwin
adalah yang paling berpengaruh dalam pembentukan teorinya. Ia memelintir
fakta, pengamatan, dan bukti untuk mempertahankan prasangkanya bahwa
kehidupan tidak diciptakan. Saat membaca The Origin of Species,
orang melihat jelas, bagaimana Darwin bersusah-payah menolak semua
bukti penciptaan (misalnya, struktur makhluk hidup yang rumit, bagaimana
catatan fosil mengarah kepada kemunculan seketika, dan berbagai
fakta yang menunjuk seberapa jauh batas kemungkinan makhluk hidup
di alam untuk dapat menjadi berbeda satu sama lain), dan caranya
menunda hal-hal yang tidak segera dapat dijelaskannya dengan mengatakan:
"Mungkin hal ini akan terpecahkan suatu hari di masa datang." Jika
ia ilmuwan yang tak memihak, ia tidak akan menampakkan sikap taklid
atau dogmatis demikian. Gaya dan cara Darwin sendiri menunjukkan
bahwa ia seorang ateis yang memijakkan teorinya pada paham ateisme.
|
"Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat
kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dan
Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya
mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki,
tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Al An'am,
6: 111)
|
Ternyata, kaum yang tak mengenal Allah
(ateis) telah mendukung Darwin selama 150 tahun terakhir ini, dan
berbagai paham pemikiran anti-agama menyokong Darwin justru karena
paham ateisme yang dianutnya. Oleh sebab itu, dengan menimbang kenyataan
ateisme Darwin, kaum Muslimin tidak boleh keliru mengira ia orang
yang taat beragama, atau setidaknya tidak menentang agama, dan terus
mendukungnya, teorinya, serta semua orang yang sepikiran dengannya.
Jika seorang Muslim melakukan hal itu, berarti ia menempatkan dirinya
bersama kaum ateis.
Darwinisme Menggiring Umat Manusia
dari Satu Bencana ke Bencana Lainnya
Di awal buku ini, telah kita lihat bagaimana kaum evolusionis
Muslim memandang Darwinisme sebagai sebuah kenyataan yang secara
ilmiah terbukti, dan mengabaikan wajahnya yang asli. Darwinisme,
yang memberikan dukungan "ilmiah" bagi paham fasisme dan komunisme,
yakni paham pemikiran paling bengis di abad ke-20, berwajah "asli"
yang bahkan lebih kelam.
Paham-paham pemikiran ini, yang mencapai puncak kekerasannya
pada abad lalu, bertanggung jawab atas revolusi komunis dan tindakan
kudeta fasis, juga pertarungan, pertikaian, perang saudara, dan
pembagian dunia menjadi dua blok. Diktator-diktator bengis seperti
Lenin, Stalin, Mao, Pol Pot, Hitler, Mussolini, dan Franco, semuanya
meninggalkan bekas yang menetap. Sekitar 120 juta orang tewas akibat
kekejaman rejim-rejim komunis saja, dan dua perang dunia saja telah
meminta tumbal 65 juta jiwa. Perang Dunia II, yang dimulai dengan
serbuan Hitler ke Polandia di tahun 1939, sungguh sebuah bencana
bagi kemanusiaan. (Untuk rincian, lihat buku Harun Yahya, The Disasters
Darwinism Brought to Humanity, Al-Attique Publishers Inc., Ontario,
2001 dan Fascism: Bloody Ideology of Darwinism, Arastirma Publishing,
Istanbul, 2002).
Darwinisme terdapat pada akar pemikiran semua malapetaka
politik, ekonomi, dan akhlak ini, sebab ia memupuk dan memperkuat
semua itu.
Paham Komunisme, Fasisme, dan
Darwinisme
Karl Marx dan Friedrich Engels, dua bapak pendiri komunisme,
menyebutkan dalam buku-buku mereka, betapa kuat pengaruh paham Darwinisme
pada mereka. Marx menunjukkan rasa simpatinya kepada Darwin, dengan
menghadiahinya salinan buku Das Kapital yang telah diberinya catatan
pribadi. Terbitan bahasa Jermannya bahkan berisi pesan yang ditulis
dengan tangannya sendiri, sebagai berikut: "Untuk Charles Darwin,
dari seorang pengagum sejati, dari Karl Marx."
|
|
 |
 |
|
Lenin
|
Stalin
|
Mao
|
 |
 |
|
|
Mussolini
|
Franco
|
Hitler
|
|
Begitu pentingnya Darwinisme bagi
paham komunisme, sehingga segera setelah buku Darwin diterbitkan,
Engels menyurati Marx: "Darwin, yang baru saja kubaca, sungguh bagus."
34

Friedrich Engels, salah satu
pemikir awal komunisme.
|
Seorang komunis Rusia terkemuka,
Georgi Valentinovich Plekhanov, memandang paham Marxisme sebagai
"Darwinisme dalam penerapannya pada ilmu-ilmu sosial." 35

Marx ingin mempersembahkan bukunya Das
Kapital kepada Darwin.
|
Guru pembimbing
paham pemikiran Hitler yang terpenting, sejarawan Jerman yang rasis
Heinrich von Treitshcke, mengatakan: "Bangsa-bangsa tidak bisa makmur
tanpa persaingan ketat, seperti pertarungan demi mempertahankan
hidup [gagasan] Darwin,"36 yang menunjukkan asal-muasal
kekerasan pada akar-akar Nazisme. Hitler sendiri seorang Darwinis.
Memperoleh ilham dari gagasan "pertarungan demi bertahan hidup"
yang dipakai Darwin, ia memberi judul karyanya yang terkenal Mein
Kampf (Perjuanganku). Pada rapat umum partai di Nuremberg tahun
1933, Hitler mengumandangkan bahwa: "Ras yang lebih tinggi memperbudak
ras yang lebih rendah … hak yang dapat kita lihat di alam, dan yang
dapat dianggap satu-satunya hak yang dapat terpikirkan, karena berdasarkan
ilmu pengetahuan." Ini memperlihatkan betapa terpengaruhnya ia oleh
Darwin.37
Mussolini, pemimpin fasisme Italia, juga menyukai Darwinisme
sebagai pandangan dunia, dan mencoba menggunakannya untuk membenarkan
serbuan Italia ke Etiopia. Franco, diktator Spanyol pada saat itu,
juga menunjukkan pemikiran Darwinis baik dalam teori maupun praktik.
(Lihat Harun Yahya, Fascism: Bloody Ideology of Darwinism, Arastirma
Publishing, Istanbul, 2002).
Dengan mengatakan bahwa hidup adalah sebuah pertarungan
yang ditakdirkan untuk dimenangi oleh si kuat, dan si lemah terkutuk
untuk kalah, Darwin membuka jalan bagi kekuatan biadab, kekerasan,
perang, pertikaian, dan pembantaian pada skala besar. Diktator-diktator
yang menindas rakyat, di negerinya sendiri atau di mancanegara,
begitu diilhami oleh Darwinisme sehingga mereka mematut diri dengan
ajaran-ajarannya. Dalam pandangan mereka, hukum alam menghendaki
si lemah dihancurkan dan dimusnahkan, dan manusia tidak mesti memiliki
nilai bawaan apa pun, karena ia berasal dari hewan.
Membela Darwinisme
Mempermudah Penyebaran Paham Komunisme

Hitler: Mein Kampf.(Perjuanganku)
|
Komunisme merupakan suatu paham pemikiran yang bersikap
bermusuhan, baik dalam segi dasarnya yang berupa filsafat materialis,
maupun telaah sejarah yang disajikannya. Pemikiran ini mulai dengan
mengingkari keberadaan Allah, dan telaah sejarahnya, yang melukiskan
agama sebagai "candu masyarakat", menyerukan pembasmian agama untuk
menegakkan masyarakat komunis yang diidamkannya.
Karena itu, semua rejim komunis memerangi agama, menyerang
nilai-nilai keagamaan, menghancurkan berbagai tempat ibadah, dan
melarang pelaksanaan kewajiban agama. Rejim di negara-negara seperti
bekas Uni Soviet, Cina, Kamboja, Bulgaria, dan Albania telah mengikuti
kebijakan yang begitu anti-agama sampai-sampai merapat ke batas,
dan kadang sampai, ke pemusnahan ras (genosida).
Darwinisme memainkan peran penting dalam paham Marxisme
tentang kebencian terhadap agama. Darwin menyumbangkan bagi paham
ateisme Marxis, apa yang disebut-sebut sebagai dasar ilmiah, yang
menjelaskan sebab Marx dan Engels merasa amat berterima kasih kepadanya.
Pujian Engels terutama mencolok:
"Ia (Darwin) melontarkan pukulan
paling telak kepada gagasan alam yang bersifat metafisis, dengan
buktinya bahwa semua makhluk organik, tumbuhan, hewan, dan manusia
sendiri, merupakan hasil proses evolusi yang berlangsung jutaan
tahun." 38

Robert Shapiro
|
Pertikaian terletak pada inti filsafat
Marxis (materialisme dialektik), yang menyatakan bahwa alam semesta
bekerja menurut hukum benturan antar-lawan. Dengan kata lain, pertarungan
demi bertahan hidup di alam yang dinyatakan Darwin kini diterapkan
pada masyarakat manusia. Darwinisme adalah dukungan terbesar bagi
pemikiran komunisme, yang memandang sejarah manusia sebagai medan
perang dan menyiapkan lahan bagi pertikaian lebih lanjut.
Evolusionis PJ Darlington menjelaskan bahwa kekerasan
adalah akibat alamiah dari kepercayaan pada teori ini:
Pertama, pementingan diri sendiri dan kekerasan adalah
sifat bawaan dalam diri kita, diwarisi dari moyang hewan kita yang
paling tua … Karena itu, kekerasan adalah alamiah pada manusia;
sebuah hasil evolusi.39
Kaum Marxis percaya bahwa masyarakat akan menerima
paham pemikiran mereka, jika mereka membawa masyarakat agar percaya
pada Darwinisme. Mereka begitu mementingkan prinsip Darwin bahwa
"kekerasan dan pertikaian merupakan hukum alam yang tak berubah."
Inilah sebabnya, semua organisasi teroris berhaluan komunis memberikan
pelatihan berbulan-bulan tentang komunisme, materialisme dialektik,
dan Darwinisme kepada para anggota setianya. Teori Darwin mendorong
mereka agar percaya bahwa mereka sebenarnya hewan, dan bahwa seperti
hewan, manusia harus bertarung demi bertahan hidup. Jadi, banyak
pemuda menjadi makhluk mengerikan, yang amat mampu membunuh dan
bahkan menjagal dengan kejam anak-anak dan bayi.
Dengan cara ini, pemikiran komunis menyebabkan perang
gerilya, perang saudara, dan tindakan terorisme berdarah di banyak
negara sepanjang abad ke-20. Itulah sebabnya perang pemikiran melawan
paham Darwinisme adalah begitu penting: Jika Darwinisme tersingkap
sebagai gagasan sesat sebagaimana adanya dan lalu runtuh, filsafat-filsafat
Marxis yang berdasar Darwinisme akan hancur. Karena Darwinisme berperan
begitu penting dalam pemikiran anti-agama komunis, maka mendukung
yang satu sama dengan mendukung yang lain. Mencoba membenarkan Darwinisme,
dengan cara menyelaraskannya dengan agama, dan menyatakan Allah
menggunakan evolusi untuk menciptakan makhluk hidup, adalah sama
dengan membenarkan komunisme. Kaum komunis tahu bahwa agama dan
Darwinisme saling bertentangan, namun berdiam diri saat menghadapi
orang beriman yang menyetujui gagasan penciptaan melalui evolusi,
agar kedua paham tersebut dapat menyebar dengan mudah dan semakin
jauh. Yang penting adalah membuka dulu pintu menuju diterimanya
Darwinisme.
Kepercayaan komunis pada evolusi berasal dari taklid
pemikiran mereka. Misalnya, seorang evolusionis guru besar kimia
dan pakar DNA, Robert Shapiro, berkata bahwa pernyataan dasar teori
ini (yaitu, zat tak-hidup mengatur dan menyusun diri serta membentuk
DNA dan RNA) tidak berlandaskan fakta ilmiah sama sekali. Ia melanjutkan:
Karena itu, sebuah prinsip evolusi
lain harus ada untuk membawa kita menyeberangi jurang yang membentang
di antara adonan kimia alamiah yang sederhana dengan pengganda (replikator)
pertama yang berfungsi. Prinsip ini belum dijelaskan secara rinci
atau dipertunjukkan, namun sudah diperkirakan, dan disebut dengan
nama-nama seperti evolusi kimiawi dan penyusunan materi secara mandiri.
Keberadaan prinsip ini diterima tanpa pertanyaan dalam filsafat
materialisme dialektik… 40
Sebagaimana telah dinyatakan Shapiro, kaum evolusionis
terus membela teori evolusi karena kepatuhan buta kepada filsafat
materialis. Ini menandakan bahwa dukungan apa pun bagi teori ini
merupakan juga dukungan langsung bagi filsafat materialis, yang
penyebarannya akhirnya pasti menyiapkan lahan pijakan bagi masuknya
paham komunis ke dalam masyarakat. Kaitan ini mengungkapkan bagaimana
paham komunis memperoleh kekuatannya dari paham Darwinisme.
Kaum Muslimin yang mendukung teori evolusi perlu memikirkan
kebenaran ini. Seorang Muslim tidak boleh berbagi sudut pandang
dengan kaum komunis, yang telah dan terus menjadi musuh agama yang
paling sengit, dan/atau mendukung sebuah pandangan yang merupakan
dasar "ilmiah" bagi paham komunisme. Hal ini semakin penting jika
kita menimbang bahwa komunisme belum mati, tetapi masih bertahan
dalam rejim-rejim tangan besi seperti Korea Utara, dan, yang paling
berbahaya, masih menguasai sistem dan budaya politis negeri Cina,
sekalipun pandangannya seolah-olah "kapitalis".
Rasisme Darwin
Gerakan Rasis Neo-Nazi merebak di banyak
negara. Akar dari gerakan ini adalah kebencian suatu bangsa
kepada bangsa lain. Di balik gagasan ini terdapat paham Darwinisme,
yang berpendapat bahwa kelemahan beberapa ras dibandingkan
dengan ras lainnya adalah hal yang sangat wajar.
|
Salah satu segi terpenting namun
paling sedikit diketahui tentang Darwin adalah rasismenya: Darwin
menganggap orang kulit putih Eropa lebih "maju" daripada ras manusia
lainnya. Karena beranggapan bahwa manusia berevolusi dari makhluk
serupa kera, ia berkesimpulan bahwa ada beberapa ras yang lebih
berkembang daripada ras-ras yang lain, dan ras-ras yang lain itu
masih memiliki sifat-sifat kera. Dalam bukunya The Descent of Man,
yang ia terbitkan setelah The Origin of Species, dengan terus terang
Darwin menguraikan "perbedaan besar di antara manusia dari ras-ras
yang berlainan."41 Dalam bukunya, Darwin berpendapat
orang kulit hitam dan Aborigin Australia adalah setara dengan gorila,
dan menyimpulkan bahwa keduanya, pada saatnya, akan "disingkirkan"
oleh "ras-ras beradab". Ia mengatakan:
Suatu saat nanti, tidak terlalu lama
sampai ukuran abad, ras-ras manusia yang beradab hampir pasti akan
memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab di seluruh dunia. Pada
saat yang sama, kera-kera antropomorf (mendekati manusia) …. pasti
akan punah. Jarak antara manusia dan padanan-padanan terdekatnya
akan lebih lebar, karena hal tersebut akan terjadi dalam keadaan
lebih beradab sebagaimana bisa kita harapkan, bahkan daripada jarak
orang Kaukasia dan beberapa jenis kera serendah babon, tidak seperti
sekarang, antara negro atau pribumi Australia dan gorila. 42
Gagasan-gagasan Darwin yang tak masuk akal bukan hanya
diteorikan, melainkan juga dianugerahi derajat kehormatan ilmiah
dan sosial, yang memungkinkan semua gagasan itu memberikan "landasan
ilmiah" terpenting bagi paham rasisme. Dengan menganggap makhluk
hidup berevolusi dalam pertarungan demi bertahan hidup, Darwinisme
langsung diterapkan dalam ilmu sosial. Disebut dengan "Darwinisme
Sosial", pemikiran baru ini berpendapat bahwa ras manusia yang ada
saat ini menempati tingkat yang berbeda pada "tangga evolusi", bahwa
ras Eropa adalah yang paling "maju", dan bahwa banyak ras lainnya
masih memiliki ciri dan sifat "mirip kera".
Lebih jauh, Darwinisme tidak berhenti dengan menyediakan
landasan bagi serangan rasis, namun juga membolehkan segala jenis
tindakan pemberontakan dan perusakan. Prinsip "hidup itu pertarungan"
ini telah menciptakan pendapat yang membenarkan penempatan bangsa
lain, yang hidup damai di satu negeri yang sama, ke pusat-pusat
penawanan, maupun penggunaan kekerasan dan kekuatan biadab, perang,
maut, dan pembunuhan.
Akan tetapi, Muslim yang menyadari bahwa Allah telah
menciptakan dirinya dan segala yang lain, bahwa Allah telah meniupkan
ruhNya ke dalam dirinya, bahwa dunia adalah tempat bagi kedamaian
dan persaudaraan, bahwa semua orang adalah setara, dan bahwa tiap
orang akan diadili di hari kemudian atas semua perbuatannya di dunia,
tak mungkin menganiaya orang lain. Hanya mereka yang percaya bahwa
mereka terwujud oleh ketidaksengajaan, tidak bertanggung jawab kepada
siapa pun, tidak pernah harus bertanggung jawab atas perbuatannya,
dan percaya bahwa dunia adalah tempat bagi pertikaian, yang bisa
melakukan tindakan demikian.
Itulah sebabnya, seorang Muslim harus menyimak nuraninya,
sebelum menerima Darwinisme, dan apa sebabnya ia harus mengerti
harga sesungguhnya jika ia mendukung sebuah teori yang telah ditolak
oleh ilmu pengetahuan sendiri. Kerusakan yang diperbuat Darwinisme
atas kemanusiaan sungguh nyata. Kepedihan, penderitaan, dan pertikaian
yang dibawanya sudah begitu dikenal. Seperti telah kita lihat di
sepanjang bab ini, cara orang dibuat agar percaya kepada gagasan
dan pemikiran yang jau dari nalar dan tak masuk akal ini, seharusnya
meyakinkan kita bahwa Darwinisme adalah suatu bahaya besar.
|