|
MEKANISME DARWINISME
Menurut teori evolusi, makhluk hidup muncul menjadi ada
melalui berbagai kebetulan, dan berkembang lebih jauh sebagai sebuah
hasil dari berbagai dampak yang tidak disengaja. Sekitar 3,8 miliar
tahun lalu, ketika makhluk hidup tidak ada di bumi, makhluk bersel
satu sederhana (prokaryota) pertama muncul. Seiring dengan perjalanan
waktu, sel-sel yang lebih kompleks (eukaryota) dan organisme bersel
banyak muncul menjadi ada. Dengan kata lain, menurut Darwinisme, kekuatan
alam membangun unsur-unsur benda mati sederhana hingga membentuk rancangan
sangat rumit dan sempurna.
Dalam menilai pernyataan ini, seseorang pertama harus mengkaji
apakah kekuatan semacam itu benar-benar ada di alam. Lebih jelas lagi,
apakah benar-benar ada mekanisme alam yang mampu menghasilkan evolusi
sesuai dengan pemaparan Darwin?
Model neo-Darwinis, yang akan kita ambil sebagai penjelasan
teori evolusi yang paling banyak dianut saat ini, menyatakan bahwa kehidupan
berevolusi melalui dua mekanisme alamiah: seleksi alam dan mutasi. Pada
dasarnya teori ini menekankan bahwa seleksi alam dan mutasi adalah dua
mekanisme yang saling melengkapi. Sumber dari perubahan secara evolusi
terdapat pada mutasi acak yang terjadi pada struktur genetik makhluk
hidup. Sifat yang dihasilkan dari mutasi ini kemudian dipilah dengan
mekanisme seleksi alam, dan melalui cara inilah makhluk hidup berevolusi.
Akan tetapi jika kita kaji lebih dalam teori ini, kita akan menemukan
bahwa tidak ada mekanisme evolusi seperti itu. Baik seleksi alam maupun
mutasi tidak dapat menyebabkan spesies yang berbeda berkembang menjadi
spesies lain, dan pernyatan bahwa kedua mekanisme ini mampu melakukan
hal tersebut benar-benar tidak berdasar.
SELEKSI ALAM
Gagasan tentang seleksi alam adalah landasan utama
Darwinisme. Pernyataan ini ditegaskan bahkan pada judul buku di
mana Darwin mengajukan teorinya: The Origin of Species, by means
of Natural Selection [Asal usul Spesies, melalui Seleksi Alam]…
Seleksi alam didasarkan pada anggapan bahwa di alam
terdapat persaingan yang tiada hentinya untuk mempertahankan
kelangsungan hidup. Persaingan ini cenderung berpihak pada
makhluk-makhluk dengan sifat-sifat yang paling menjadikan mereka
mampu bertahan terhadap tekanan yang berasal dari lingkungan.
Pada akhir persaingan ini, yang terkuat, yang paling sesuai dengan
keadaan alam, akan bertahan hidup. Sebagai contoh, pada sekawanan
rusa yang berada di bawah ancaman pemangsa, mereka yang mampu
berlari lebih cepat secara alamiah akan tetap bertahan hidup.
Hasilnya, kawanan rusa tersebut pada akhirnya hanya akan terdiri
dari rusa-rusa yang mampu berlari cepat.
Meskipun demikian, betapapun lamanya
peristiwa ini berlangsung, ini tidak akan mengubah rusa tersebut
menjadi hewan jenis lain. Rusa lemah akan tersingkirkan, yang kuat
tetap bertahan hidup, tetapi, karena tidak ada perubahan yang terjadi
pada data genetik mereka, perubahan spesies pun tidak akan terjadi.
Meskipun proses seleksi ini terjadi terus-menerus, rusa tetap akan
menjadi rusa.
Contoh tentang rusa tersebut berlaku untuk semua spesies.
Dalam populasi mana pun, seleksi alam hanya menyingkirkan yang lemah,
atau individu yang tidak cocok yang tidak mampu menyesuaikan diri
dengan keadaan alam di tempat tinggal mereka. Seleksi alam tidak
menghasilkan spesies baru, informasi genetik baru, atau organ baru.
Artinya, seleksi alam tidak bisa menyebabkan apa pun berevolusi. Darwin
pun menerima fakta ini, dengan mengatakan bahwa "Seleksi alam
tidak mampu berbuat apa pun hingga perbedaan individu atau variasi
[keragaman] yang menguntungkan terjadi."7 Itulah
mengapa neo-Darwinisme harus menambahkan ke dalam teori seleksi alam
mekanisme mutasi sebagai faktor yang mengubah informasi genetik .
Kita akan membahas mutasi di bagian selanjutnya. Namun
sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu mengkaji lebih dalam gagasan
tentang seleksi alam untuk melihat pertentangan yang sangat melekat di
dalamnya.
PERSAINGAN UNTUK MEMPERTAHANKAN KELANGSUNGAN HIDUP?
 Darwin telah terpengaruh
oleh Thomas Malthus ketika mengembangkan teorinya mengenai
persaingan untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Namun,
segenap pengamatan dan percobaan membuktikan bahwa Malthus
keliru.
|
Anggapan mendasar dari teori seleksi alam adalah bahwa
terdapat persaingan sengit untuk mempertahankan kelangsungan hidup
di alam, dan setiap makhluk hidup hanya mempedulikan dirinya sendiri.
Pada saat Darwin mengajukan teori ini, pemikiran Thomas Malthus,
seorang ahli ekonomi terkenal Inggris, berpengaruh penting pada dirinya.
Malthus menyatakan bahwa manusia tak terhindarkan dari persaingan dalam
mempertahankan kelangsungan hidupnya. Ia mendasari pandangannya pada
kenyataan bahwa populasi, yang berarti pula kebutuhan akan sumber makanan,
bertambah menurut deret ukur, sementara sumber makanan itu sendiri
bertambah menurut deret hitung. Alhasil, ukuran populasi mau tak mau
akan dibatasi oleh faktor-faktor lingkungan, seperti kelaparan dan
penyakit. Darwin menerapkan pandangan Malthus tentang persaingan sengit
untuk kelangsungan hidup antar manusia ini pada alam kehidupan secara
luas, dan menyatakan bahwa "seleksi alam" adalah sebuah
akibat dari persaingan ini.
Namun, penelitian lebih lanjut mengungkapkan
bahwa tidak terdapat persaingan untuk hidup di alam sebagaimana Darwin
rumuskan. Sebagai hasil dari penelitian menyeluruh terhadap kelompok-kelompok
hewan pada tahun 1960-an hingga 1970-an, V. C. Wynne-Edwards, seorang ahli
ilmu hewan Inggris, menyimpulkan bahwa makhluk hidup menyeimbangkan populasi
mereka melalui suatu cara yang menarik, yang mencegah persaingan untuk
memperoleh makanan. Kelompok-kelompok hewan secara sederhana mengatur
populasi mereka berdasarkan ketersediaan jumlah makanan mereka. Populasi
diatur tidak melalui penyingkiran yang lemah melalui hal-hal seperti
wabah penyakit atau kelaparan, tetapi oleh sebuah mekanisme pengatur
naluriah. Dengan kata lain, hewan mengatur jumlah mereka tidak dengan
persaingan sengit, sebagaimana dikemukakan Darwin, tetapi dengan
membatasi perkembangbiakan. 8
Bahkan tumbuh-tumbuhan memperlihatkan
contoh pengaturan populasi, yang menggugurkan pernyataan Darwin
tentang seleksi melalui persaingan. Pengamatan seorang ahli ilmu
tumbuhan, A. D. Bradshaw, menunjukkan bahwa selama berkembang biak,
tumbuhan menyesuaikan diri dengan "kepadatan" penanaman,
dan membatasi perkembangbiakan mereka jika daerah itu telah penuh
dengan tumbuhan.9 Di lain pihak, contoh-contoh
tentang pengorbanan yang teramati pada hewan-hewan seperti semut
dan lebah memperlihatkan sebuah gambaran yang sama sekali bertentangan
dengan gagasan persaingan untuk kelangsungan hidup menurut Darwinis.
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah mengungkap
penemuan mengenai "pengorbanan diri" pada bakteri sekalipun.
Makhluk hidup tanpa otak atau sistem saraf ini, yang sama sekali
tak berkemampuan untuk berpikir, membunuh diri mereka sendiri untuk
menyelamatkan bakteri lain ketika diri mereka terjangkiti oleh virus.
10
Contoh-contoh ini pastilah menggugurkan anggapan dasar
dari seleksi alam: persaingan mutlak untuk mempertahankan kelangsungan
hidup. Memang benar terdapat persaingan di alam; akan tetapi terdapat
pula gambaran yang jelas tentang "pengorbanan diri" dan
"kesetiakawanan".
PENGAMATAN DAN PERCOBAAN
Selain kelemahan secara teori sebagaimana tersebut di atas,
teori evolusi melalui seleksi alam kembali menemui kebuntuan mendasar
ketika berhadapan dengan penemuan-penemuan ilmiah yang nyata. Nilai
ilmiah sebuah teori harus dikaji berdasarkan berhasil atau tidaknya
teori ini dalam percobaan dan pengamatan. Evolusi melalui seleksi alam
gagal dalam keduanya.
Sejak masa Darwin, tidak pernah ada sepotong bukti pun yang
dikemukakan untuk menunjukkan bahwa seleksi alam menyebabkan makhluk
hidup berevolusi. Colin Patterson, seorang ahli fosil terkemuka di
Museum Sejarah Alam Inggris di London yang juga seorang evolusionis
terkemuka, menegaskan bahwa seleksi alam belum pernah teramati memiliki
kemampuan untuk menyebabkan sesuatu berevolusi:
Tak seorang pun pernah menghasilkan
satu spesies melalui mekanisme seleksi alam. Tak seorang pun pernah
mendekatinya, dan kebanyakan dari perdebatan saat ini di dalam
neo-Darwinisme adalah seputar pertanyaan ini. 11
Pierre-Paul Grassé, ahli ilmu hewan terkenal Prancis yang
juga penyanggah Darwinisme, melontarkan perkataan berikut dalam
Evolution and Natural Selection [Evolusi dan Seleksi
Alam], yang merupakan satu bab dari bukunya The Evolution of Living
Organisms [Evolusi Makhluk Hidup]:
"Evolusi yang sedang berlangsung" yang dikemukakan
J. Huxley dan ahli biologi lainnya hanyalah pengamatan atas fakta-fakta
demografi, keragaman genotip[j]
dalam suatu wilayah tertentu, dan sebaran
geografis. Seringkali spesies yang diamati hampir tidak berubah selama
ratusan abad! Keragaman yang ditimbulkan oleh berbagai keadaan, dengan
didahului perubahan genom[k], tidak berarti evolusi, dan kita memiliki
bukti nyata atas hal ini pada banyak spesies panchronic [yaitu
fosil hidup yang tetap tidak berubah selama jutaan tahun]. 12
Sebuah tinjauan lebih dekat pada beberapa "contoh
yang teramati dari seleksi alam" yang disajikan oleh para ahli
biologi yang mendukung teori evolusi, akan mengungkapkan bahwa, pada
kenyataannya, mereka tidak menyediakan bukti apa pun bagi evolusi.
KISAH SEBENARNYA TENTANG MELANISME INDUSTRI
Ketika sumber-sumber tulisan evolusionis dikaji, seseorang
pasti akan melihat bahwa contoh ngengat di Inggris selama Revolusi
Industri dikutip sebagai contoh evolusi melalui seleksi alam. Hal ini
dikemukakan sebagai contoh paling nyata dari evolusi yang teramati, dalam
buku-buku acuan, majalah dan bahkan sumber-sumber di lembaga pendidikan
tinggi. Namun pada kenyataanya, contoh tersebut tidak ada kaitannya sama
sekali dengan evolusi.
Pertama, mari kita mengingat kembali apa yang dikatakan: Menurut
pemaparan ini, menjelang kemunculan Revolusi Industri di Inggris, warna kulit
pohon di sekitar Manchester cukup terang. Oleh sebab itu, ngengat berwarna
gelap yang hinggap di pohon itu akan lebih mudah terlihat oleh burung yang
memangsa mereka, dan karenanya mereka berkemungkinan kecil untuk bertahan
hidup. Lima puluh tahun kemudian, di daerah-daerah yang dipenuhi pepohonan
di mana polusi industri telah membunuh lumut kerak, kulit pohon menjadi
lebih gelap, dan sekarang ngengat berwarna terang menjadi paling banyak
diburu, karena mereka paling mudah terlihat. Akibatnya, perbandingan
antara ngengat berwarna terang dengan berwarna gelap menurun. Evolusionis
mempercayai hal ini sebagai satu bukti besar bagi teori mereka. Mereka
berlindung dan menghibur diri dengan bangga, menunjukkan bagaimana
ngengat berwarna terang "berevolusi" menjadi ngengat
berwarna gelap.
|
Gambar
di samping menunjukkan pohon-pohon dengan ngengat yang
hinggap di atasnya sebelum Revolusi Industri, dan
gambar bawah menunjukkan keadaan sesudahnya. Karena
pohon-pohon ini menjadi lebih gelap warnanya,
burung-burung dapat lebih mudah menangkap ngengat
berwarna terang sehingga jumlah ngengat ini berkurang.
Akan tetapi, ini bukan contoh “evolusi”, sebab tidak
ada spesies baru yang muncul. Yang terjadi hanyalah
berubahnya perbandingan dua ragam ngengat yang sudah
ada sejak awal; dan dua ragam ngengat ini termasuk
dalam satu spesies ngengat yang juga memang sudah
ada sebelumnya.
|
Namun demikian, walaupun
kita percaya bahwa kenyataan ini
benar, seharusnya sudah jelas sekali bahwa ngengat-ngengat ini tidak
dapat dijadikan bukti apa pun bagi teori evolusi, karena tidak ada
kemunculan bentuk baru yang sebelumnya tidak ada. Ngengat berwarna
gelap telah ada dalam populasi ngengat sebelum Revolusi Industri.
Hanya perbandingan antar varietas[l]
[ragam] ngengat yang sudah ada
saja yang berubah. Ngengat tidak memperoleh suatu sifat atau organ
baru, yang menyebabkan "spesiasi" [pembentukan spesies baru
melalui evolusi]. 13 Agar satu spesies ngengat berubah menjadi satu
spesies makhluk hidup lain, misalnya burung, harus ada penambahan baru
pada gen-gennya. Artinya, sebuah program genetik yang benar-benar
berbeda harus dimasukkan agar memuat informasi tentang ciri-ciri
fisik dari burung.
Ini adalah jawaban atas kisah evolusionis tentang Melanisme
Industri. Namun, masih ada sisi yang lebih menarik dari kisah ini:
Tidak hanya penjelasannya, tetapi kisah itu sendiri tidak sepenuhnya
benar. Sebagaimana yang dipaparkan ahli biologi molekuler Jonathan Wells
dalam bukunya Icons of Evolution [Lambang-Lambang Evolusi],
cerita ngengat berbintik ini, yang dimasukkan pada setiap buku biologi
evolusi dan karenanya telah menjadi sebuah "lambang" dalam
pengertian ini, tidak mencerminkan kebenaran. Wells mengkaji di dalam
bukunya bagaimana percobaan Bernard Kettlewell, yang dikenal sebagai
"bukti percobaan" tentang hal tersebut, sebenarnya merupakan
skandal ilmiah. Sejumlah unsur mendasar dari skandal ini adalah:
- Banyak percobaan yang dilakukan setelah Kettlewell mengungkap bahwa
hanya ada satu ragam dari ngengat ini yang hinggap pada batang pokok
pohon, dan semua ragam lainnya lebih suka hinggap di bawah dahan-dahan
kecil yang mendatar. Sejak tahun 1980 menjadi teranglah bahwa ngengat
berbintik umumnya tidak hinggap pada batang pokok pohon. Selama 25
tahun kerja di lapang, banyak ilmuwan seperti Cyril Clarke dan Rory
Howlett, Michael Majerus, Tony Liebert, dan Paul Brakefield menyimpulkan
bahwa dalam percobaan Kettlewell, ngengat-ngengat dipaksa berperilaku
tidak lazim, karenanya, hasil percobaan tersebut tidak bisa diterima
secara ilmiah. 14
- Para Ilmuwan yang menguji kesimpulan Kettlewell muncul dengan
hasil yang bahkan lebih menarik: Walaupun jumlah ngengat berwarna
terang diperkirakan akan lebih banyak di daerah-daerah yang kurang
terkena polusi di Inggris, ngengat berwarna gelap di sana jumlahnya
empat kali lebih banyak dari yang terang. Ini berarti tidak terdapat
hubungan antara populasi ngengat dan batang pokok pohon seperti yang
dinyatakan Kettlewell dan diulang-ulang oleh hampir semua sumber
evolusionis.
Ketika pengujian diperdalam, besarnya skandal ini semakin
nyata: "Ngengat pada batang pohon" yang dipotret oleh Kettlewell,
sebenarnya adalah ngengat mati. Kettlewell menggunakan ngengat mati yang
direkatkan atau ditusukkan pada batang pokok pohon dan kemudian memotretnya.
Pada kenyataannya, sulit sekali untuk mengambil gambar seperti itu karena
ngengat tidak hinggap di batang pokok pohon, melainkan di permukaan bawah
dari dedaunan. 15
Kenyataan-kenyataan ini diungkapkan oleh masyarakat ilmiah
baru di akhir 1990-an. Runtuhnya kisah Melanisme Industri, yang telah
menjadi salah satu bahasan paling penting dalam kuliah-kuliah "Mengenal
Evolusi" di berbagai universitas selama puluhan tahun, sangat
mengecewakan para evolusionis. Salah satu dari mereka, Jerry Coyne,
bertutur:
Reaksi saya sendiri mirip dengan kekecewaan yang menyertai
temuan saya, pada umur 6 tahun, bahwa ternyata ayah sayalah dan bukan
Santa yang membawa hadiah pada Malam Natal. 16
Demikianlah, "contoh paling terkenal dari seleksi
alam" telah terbuang ke tumpukan sampah sejarah sebagai sebuah
skandal ilmiah—sebuah hal yang tak terhindarkan, karena, berkebalikan
dengan apa yang dinyatakan evolusionis, seleksi alam bukanlah sebuah
"mekanisme evolusi".
Singkatnya, seleksi alam tidak mampu menambahkan organ baru
pada makhluk hidup, atau menghilangkan salah satunya, ataupun mengubah
organisme dari satu spesies menjadi spesies lain. Bukti "terbesar"
yang dikemukakan sejak masa Darwin hanya beranjak tidak lebih jauh dari
"Melanisme Industri" ngengat di Inggris.
MENGAPA SELEKSI ALAM TIDAK MAMPU MENJELASKAN KOMPLEKSITAS
Seperti yang kami tunjukkan pada bagian awal, masalah
terbesar bagi teori evolusi melalui seleksi alam adalah ketidakmampuannya
memunculkan organ atau sifat baru pada makhluk hidup. Seleksi alam tidak
bisa mengembangkan data genetik suatu spesies; karenanya, seleksi alam tidak
dapat digunakan untuk menjelaskan kemunculan spesies baru. Pembela terbesar
teori Punctuated Equilibrium [Keseimbangan Tersela][m],
Stephen Jay Gould, menyatakan kebuntuan seleksi alam ini sebagai berikut:
Intisari Dawinisme terdapat dalam sebuah kalimat tunggal:
seleksi alam adalah daya cipta yang menggerakkan perubahan secara evolusi.
Tak seorang pun menyangkal bahwa seleksi alam akan memainkan peran negatif
dengan menyingkirkan yang lemah. Teori Darwin mensyaratkan seleksi alam
menciptakan yang kuat juga. 17
Cara menyesatkan lainnya yang diterapkan para evolusionis dalam
masalah seleksi alam adalah usaha mereka untuk menghadirkan mekanisme ini
sebagai sebuah perancang cerdas. Namun, seleksi alam tidak
memiliki kecerdasan. Seleksi alam tidak memiliki kehendak yang dapat
menentukan mana yang baik dan buruk bagi makhluk hidup. Akibatnya, seleksi
alam tidak bisa menjelaskan sistem-sistem dan organ-organ biologis yang
memiliki "kompleksitas [kerumitan] yang tak tersederhanakan
". Sistem-sistem dan organ-organ ini tersusun atas banyak
bagian yang bekerja sama, dan tidak akan berguna jika satu saja bagiannya
hilang atau rusak. (Sebagai contoh, mata manusia tidak akan berfungsi
kecuali jika mata tersebut memiliki semua bagiannya secara utuh).
Oleh karena itu, kehendak yang menyatukan semua bagian ini
seharusnya mampu memperkirakan masa depan dan secara langsung mengarahkan
pada manfaat yang akan didapat pada tahapan terakhirnya. Karena seleksi
alam tidak memiliki kesadaran atau kehendak, seleksi alam tidak dapat
melakukan hal seperti itu. Fakta ini, yang menghancurkan dasar berpijak
teori evolusi, juga mengkhawatirkan Darwin, yang menulis: "Jika
dapat dibuktikan bahwa ada organ kompleks, yang tidak
mungkin dapat terbentuk melalui banyak perubahan kecil bertahap,
maka teori saya akan sepenuhnya runtuh." 18
MUTASI
Kaki yang cacat, hasil mutasi.
|
Mutasi diartikan sebagai kerusakan atau penggantian yang
terjadi pada molekul DNA, yang ditemukan dalam inti sel dari setiap
makhluk hidup dan memuat seluruh informasi genetik darinya. Kerusakan
atau penggantian ini diakibatkan oleh pengaruh-pengaruh luar seperti
radiasi atau reaksi kimiawi. Setiap mutasi adalah sebuah "kecelakaan",
dan merusak atau mengubah kedudukan nukleotida-nukleotida penyusun DNA.
Hampir selalu, mereka menyebabkan kerusakan dan perubahan yang sedemikian
besar sehingga sel tidak bisa memperbaikinya.
Mutasi, yang sering dijadikan tempat berlindung evolusionis,
bukanlah sebuah tongkat sulap yang bisa mengubah makhluk hidup ke bentuk
yang lebih maju dan sempurna. Dampak langsung dari mutasi adalah membahayakan.
Perubahan-perubahan yang dihasilkan oleh mutasi hanya akan serupa dengan
apa yang dialami penduduk Hiroshima, Nagasaki, dan Chernobyl: yaitu kematian,
cacat, dan kelainan tubuh…
Alasan di balik ini sangatlah sederhana: DNA memiliki bentuk
dan rancang bangun yang sangat kompleks, dan perubahan-perubahan acak
hanya akan merusaknya. Ahli biologi B. G. Ranganathan menyatakan:
Pertama, mutasi asli sangat jarang terjadi di alam. Kedua,
kebanyakan mutasi adalah berbahaya karena terjadi secara acak, dan bukan
perubahan-perubahan tertata pada struktur gen-gen; setiap perubahan acak
apa pun dalam suatu sistem yang tertata sangat rapi hanya akan memperburuk,
bukan memperbaiki. Sebagai contoh, jika gempa bumi mengguncang struktur
yang tertata rapi seperti gedung, akan terjadi perubahan acak pada kerangka
bangunan tersebut yang, dapat dipastikan, tidak akan merupakan suatu
perbaikan. 19
Tidak mengherankan, tak satu pun mutasi bermanfaat telah
teramati sejauh ini. Semua mutasi telah terbukti berbahaya. Ilmuwan
evolusionis, Warren Weaver, mengulas laporan yang disusun oleh
Committee on Genetic Effects of Atomic Radiation [Komite
Dampak Genetik dari Radiasi Atom], yang dibentuk untuk menyelidiki
mutasi yang mungkin terjadi akibat senjata nuklir yang digunakan
pada Perang Dunia Kedua:
Banyak yang akan tercengang oleh pernyataan bahwa
hampir semua gen termutasi yang telah dikenal ternyata membahayakan.
Sebab mutasi adalah bagian yang sangat diperlukan dari proses
evolusi. Bagaimana mungkin suatu pengaruh baik—[dengan kata lain]
evolusi ke bentuk kehidupan yang lebih tinggi—dihasilkan dari
mutasi yang hampir semuanya membahayakan? 20
Setiap usaha yang dilakukan untuk "menghasilkan
mutasi yang bermanfaat" berakhir dengan kegagalan. Selama
puluhan tahun, evolusionis melakukan berbagai percobaan untuk
menghasilkan mutasi pada lalat buah, karena serangga ini berkembang
biak sedemikian cepat sehingga mutasi akan lebih cepat terlihat.
Keturunan demi keturunan lalat buah ini dimutasikan, namun tak satu
pun mutasi bermanfaat yang teramati. Ahli genetika evolusionis,
Gordon Taylor, akhirnya menulis:
Sejak awal
abad ke-20, ahli biologi evolusi telah mencari-cari contoh mutasi
menguntungkan dengan menciptakan lalat mutan [lalat hasil mutasi].
Tetapi, usaha keras ini selalu menghasilkan makhluk yang berpenyakit
dan cacat. Gambar kiri menunjukkan kepala seekor lalat buah yang
wajar, dan gambar kanan menunjukkan kepala lalat buah dengan kaki
yang keluar darinya, akibat mutasi.
|
|
Adalah sebuah kenyataan menarik, tetapi tidak sering
disebutkan bahwa, meskipun para ahli genetika telah mengembangbiakkan
lalat buah selama 60 tahun atau lebih di laboratorium-laboratorium
seluruh dunia—lalat yang menghasilkan keturunan baru setiap sebelas
hari—mereka belum pernah melihat munculnya satu spesies baru atau
bahkan satu enzim baru. 21
Katak mutan
terlahir dengan kaki pincang.
|
Peneliti lainnya, Michael Pitman, bertutur tentang
kegagalan percobaan-percobaan yang dilakukan pada lalat buah:
Morgan, Goldschmidt, Muller, dan para ahli genetika
lain telah memperlakukan keturunan demi keturunan lalat buah dalam
pengaruh panas, dingin, terang, gelap yang berlebihan, dan perlakuan
dengan zat kimia serta radiasi. Segala bentuk mutasi, yang semuanya
hampir tak berdampak atau benar-benar merusak, telah dihasilkan.
Inikah evolusi buatan manusia? Tidak juga: Sejumlah kecil dari
binatang mengerikan buatan para ahli genetika tersebut mampu
bertahan hidup di luar botol tempat mereka dikembangbiakkan.
Pada kenyataannya mutan-mutan tersebut mati, mandul,
atau cenderung kembali ke jenis asalnya. 22
Hal yang sama berlaku bagi manusia. Semua mutasi
yang teramati pada manusia menghasilkan kerugian. Semua mutasi
yang terjadi pada manusia berakibat pada cacat tubuh, penyakit
seperti mongolisme[n],
sindroma Down[o],
albinisme[p], cebol atau kanker.
Jelaslah, sebuah proses yang membuat manusia cacat atau sakit
tidak mungkin dianggap sebagai "mekanisme evolusi" -
evolusi seharusnya menghasilkan bentuk-bentuk yang lebih baik dan
lebih sesuai untuk mempertahankan kelangsungan hidup.
Lalat mutan dengan sayap cacat.
|
Ahli ilmu penyakit asal Amerika David A. Demick
menulis sebagai berikut dalam sebuah tulisan ilmiah tentang mutasi:
Ribuan penyakit manusia yang berhubungan dengan
mutasi genetik telah dicatat pada beberapa tahun terakhir, dan
lebih banyak lagi yang sedang dikaji. Sebuah buku rujukan
terbaru genetika kedokteran mendaftar sekitar 4.500 penyakit
genetik yang berbeda. Sejumlah gejala penyakit menurun yang
diketahui berdasarkan ilmu pengobatan di masa sebelum penelitian
secara genetika molekuler (seperti sindroma Marfan[q]) ternyata
sekarang diketahui heterogen; yaitu berhubungan dengan banyak
mutasi yang berbeda… Dengan sederetan penyakit manusia yang
disebabkan oleh mutasi ini, apakah dampak baiknya? Dengan
ribuan contoh mutasi berbahaya yang sudah ada, tentunya
dimungkinkan memperlihatkan beberapa mutasi berguna jika
evolusi makro memang benar terjadi. Hal ini diperlukan bukan
hanya untuk evolusi ke bentuk lebih kompleks, tapi juga untuk
mengurangi dampak buruk dari banyak mutasi berbahaya.
Tetapi, ketika tiba saatnya untuk menunjukkan mutasi
yang berguna, ilmuwan-ilmuwan evolusionis anehnya bungkam
. 23
Satu-satunya contoh "mutasi berguna" yang
diberikan oleh ahli biologi evolusi adalah penyakit yang dikenal
sebagai sickle cell anemia [anemia sel sabit].
Pada penyakit ini, molekul hemoglobin, yang bertugas membawa oksigen
dalam darah, mengalami kerusakan akibat mutasi, dan mengalami perubahan
bentuk. Akibatnya, kemampuan molekul hemoglobin untuk mengangkut oksigen
benar-benar terganggu. Karena alasan ini, penderita anemia sel sabit
mengalami kesulitan bernapas yang semakin parah. Namun demikian,
contoh mutasi ini, yang dijabarkan dalam bab kelainan darah pada
buku-buku acuan di bidang kedokteran, anehnya dinilai oleh sebagian
ahli biologi evolusi sebagai "mutasi berguna". Mereka
mengatakan bahwa kekebalan hingga tingkat tertentu terhadap malaria
pada penderita anemia sel sabit adalah sebuah "hadiah"
dari evolusi. Dengan alur berpikir yang sama, seseorang bisa saja
mengatakan bahwa, karena orang yang terlahir dengan kelumpuhan kaki
secara genetik tidak mampu berjalan, dan karenanya selamat dari
kematian akibat kecelakaan lalu lintas, maka kelumpuhan kaki genetik
tersebut adalah sebuah "sifat genetik yang menguntungkan".
Pemikiran seperti ini jelas sama sekali tidak berdasar.
Bentuk dan
fungsi sel darah merah mengalami kerusakan akibat anemia sel-sabit.
Karenanya, daya ikat oksigen sel berkurang.
|
Jelaslah bahwa mutasi hanyalah suatu mekanisme yang
merusak. Pierre-Paul Grassé, mantan ketua French Academy of
Sciences [Lembaga Ilmu Pengetahuan Prancis], menjelaskan
dengan gamblang dalam pendapatnya tentang mutasi. Grassé,
mengibaratkan mutasi sebagai "membuat sejumlah
kesalahan pada huruf-huruf ketika menyalin sebuah tulisan."
Dan sebagaimana mutasi, kesalahan huruf tidak dapat menghasilkan suatu
informasi baru, tetapi hanya merusak informasi yang telah ada. Grassé
menjelaskan kenyataan ini sebagai berikut:
Mutasi, pada satu waktu, terjadi secara terpisah. Mutasi
tidak saling melengkapi satu sama lain, ataupun menumpuk pada
keturunan berikutnya menuju satu arah tertentu. Mutasi-mutasi itu
mengubah apa yang telah ada sebelumnya, tetapi dengan cara yang
tidak tertata, bagaimana pun caranya... Segera setelah sejumlah
kesemrawutan, meskipun kecil, terjadi pada makhluk yang tertata,
maka penyakit, lalu kematian, akan menyusul. Tidak mungkin ada
penyatuan antara peristiwa kehidupan dengan kekacauan. 24
Jadi berdasarkan alasan tersebut, seperti yang Grassé
kemukakan, "Tidak peduli seberapa banyak terjadi, mutasi
tidak menghasilkan satu bentuk evolusi apa pun." 25
DAMPAK PLEIOTROPIK
Bukti terpenting bahwa mutasi hanya membawa pada kerusakan
adalah proses penyandian genetik. Hampir semua gen pada makhluk hidup
yang sepenuhnya berkembang membawa lebih dari satu macam informasi.
Sebagai contoh, satu gen mungkin mengatur sifat tinggi sekaligus warna
mata pada organisme itu. Ahli mikrobiologi, Michael Denton, menjelaskan
sifat gen pada organisme tingkat tinggi seperti manusia ini, sebagai
berikut:
Pengaruh dari gen pada perkembangan secara tak terduga
seringkali beragam. Pada tikus rumah, hampir semua gen warna kulit
memiliki pengaruh pada ukuran tubuh. Dari tujuh belas mutasi warna
mata yang dipicu sinar X pada lalat buah Drosophila melanogaster,
empat belas di antaranya mempengaruhi bentuk organ kelamin betina,
sifat yang dianggap orang sama sekali tidak berhubungan dengan warna
mata. Hampir setiap gen yang telah dipelajari pada organisme tingkat
tinggi diketahui mempengaruhi lebih dari satu sistem organ, sebuah
dampak beragam yang dikenal sebagai pleiotropi. Seperti pendapat Mayr
dalam Population, Species and Evolution [Populasi, Spesies
dan Evolusi]: "Terdapat keraguan apakah ada gen yang tidak
pleiotropik pada organisme tingkat tinggi." 26
1. Sayap-sayap tidak berkembang.
2. Tungkai belakang tumbuh sewajarnya, namun ruas jari-jemarinya tak berkembang sempurna.
3. Tiada bulu halus yang menutupi permukaan tubuh.
4. Walaupun saluran pernapasan ada, paru-paru dan kantung udara tidak ada.
5. Saluran kemih tidak tumbuh, dan tidak mendorong perkembangan ginjal.
Pada belahan gambar sebelah kiri,
kita dapat melihat perkembangan wajar unggas hasil penangkaran,
dan belahan gambar kanan menunjukkan pengaruh merugikan dari
mutasi pada gen pleiotropik. Pemeriksaan saksama menunjukkan
bahwa mutasi pada satu gen saja dapat merusak banyak organ.
Bahkan jika kita berpendapat bahwa mutasi dapat berdampak
menguntungkan, "pengaruh pleiotropik" akan merusak lebih
banyak organ sehingga kerugian yang ditimbulkan lebih besar
daripada keuntungannya.
|
|
Pada belahan gambar sebelah kiri, kita dapat melihat
perkembangan wajar unggas hasil penangkaran, dan belahan gambar
kanan menunjukkan pengaruh merugikan dari mutasi pada gen pleiotropik.
Pemeriksaan saksama menunjukkan bahwa mutasi pada satu gen saja dapat
merusak banyak organ. Bahkan jika kita berpendapat bahwa mutasi dapat
berdampak menguntungkan, "pengaruh pleiotropik" akan merusak
lebih banyak organ sehingga kerugian yang ditimbulkan lebih besar
daripada keuntungannya.
Karena sifat struktur genetik makhluk hidup ini, setiap
perubahan tak disengaja karena mutasi, pada gen mana saja dalam DNA,
akan berdampak pada lebih dari satu organ. Akibatnya, mutasi ini tidak
akan terbatas pada satu bagian tubuh saja, tetapi akan memperlihatkan
lebih banyak dampak merusaknya. Bahkan jika satu dari dampak ini ternyata
menguntungkan, sebagai hasil dari suatu kebetulan yang sangat jarang
terjadi, pengaruh-pengaruh tak terhindarkan dari kerusakan lain yang
disebabkannya akan jauh lebih besar daripada manfaat tersebut.
Sebagai rangkuman, ada tiga alasan utama mengapa mutasi
tidak memungkinkan terjadinya evolusi:
1- Pengaruh langsung dari mutasi adalah
membahayakan: Karena terjadi secara acak, mutasi hampir selalu merusak
makhluk hidup yang mengalaminya. Nalar kita mengatakan bahwa campur tangan
tanpa sengaja pada sebuah bentuk dan rancang bangun yang sempurna dan
kompleks tidak akan memperbaiki rancang bangun tersebut, tetapi malah
merusaknya. Dan memang, tidak ada "mutasi berguna" yang pernah
teramati.
2- Mutasi tidak menambahkan informasi baru
pada DNA suatu organisme: Unsur-unsur penyusun informasi genetik tersebut
tercabik dari tempatnya, hancur atau terbawa ke tempat lain. Mutasi tidak
dapat menyebabkan makhluk hidup mendapatkan suatu organ atau sifat baru.
Mutasi hanya mengakibatkan cacat seperti kaki yang menempel pada punggung
atau telinga yang tumbuh keluar dari perut.
3- Agar dapat diwariskan kepada keturunan
selanjutnya, mutasi harus terjadi pada sel-sel perkembangbiakan organisme
tersebut: Perubahan acak yang terjadi pada sel atau organ tubuh tidak
dapat diwariskan ke keturunan berikutnya. Sebagai contoh, mata manusia
yang berubah akibat pengaruh radiasi, atau sebab lain, tidak akan diwariskan
kepada keturunan berikutnya.
Bakteri Escherichia coli tak berbeda dengan contoh
sejenisnya yang berumur satu miliar tahun. Mutasi yang tak terhitung
jumlahnya selama waktu yang panjang ini tidak mendorong ke perubahan
struktur apa pun.
Bakteri
Escherichia coli tak berbeda dengan contoh sejenisnya
yang berumur satu miliar tahun. Mutasi yang tak terhitung
jumlahnya selama waktu yang panjang ini tidak mendorong ke
perubahan struktur apa pun.
|
Semua penjelasan yang diberikan di atas menunjukkan bahwa
seleksi alam dan mutasi tidak memiliki pengaruh evolusi sama sekali.
Sejauh ini, belum ada contoh yang dapat diamati dari "evolusi"
yang diperoleh dengan cara ini. Kadang kala, ahli biologi evolusi
menyatakan bahwa "mereka tidak bisa mengamati pengaruh evolusi dari
mekanisme seleksi alam dan mutasi karena mekanisme ini hanya terjadi
dalam jangka waktu yang sangat panjang". Namun, alasan ini, yang
hanya merupakan cara mereka menghibur diri, tidaklah berdasar, dalam
arti bahwa hal demikian tidak memiliki landasan ilmiah. Selama hidupnya,
seorang ilmuwan bisa mengamati ribuan keturunan makhluk hidup dengan
masa hidup singkat seperti lalat buah atau bakteri, dan tetap tidak
mengamati adanya "evolusi". Pierre-Paul Grassé menyatakan
hal berikut tentang sifat alamiah bakteri yang tidak berubah, sebuah
kenyataan yang menggugurkan evolusi:
Bakteri… adalah organisme yang, karena jumlah besar mereka,
menghasilkan paling banyak mutan. Bakteri… menunjukkan kesetiaan besar
pada spesies mereka. Bakteri Escherichia coli, yang mutannya
telah dipelajari dengan sangat teliti, adalah contoh terbaik. Pembaca
akan setuju bahwa adalah aneh, paling tidak, jika ingin membuktikan
evolusi dan mengungkap mekanismenya tapi kemudian memilih bahan untuk
penelitian ini suatu makhluk yang pada kenyataannya tidak pernah
berubah selama miliaran tahun! Apa gunanya mutasi mereka yang
terus menerus, jika tidak [menghasilkan perubahan secara evolusi]?
Pada intinya, mutasi pada bakteri dan virus hanyalah perubahan
genetik di seputar kedudukan pertengahan; berayun ke kanan, ke kiri,
tanpa ada dampak yang berujung pada evolusi. Kecoak, yang merupakan
salah satu kelompok serangga paling dikenal yang masih hidup, sedikit
banyak tetap tidak berubah sejak zaman Permian, tetapi mereka telah
mengalami mutasi sebanyak Drosophila, serangga zaman Tersier. 27
Singkatnya, mustahil bagi makhluk hidup mengalami evolusi,
karena tidak terdapat mekanisme di alam yang bisa menyebabkan evolusi.
Lebih jauh lagi, kesimpulan ini sesuai dengan bukti catatan fosil, yang
tidak menunjukkan adanya proses evolusi, tetapi malah sebaliknya.
----------------------------------
[Catatan]:
j] Genotip: susunan genetik suatu makhluk hidup.
X
k] Genom: pelengkap kromosom haploid yang terdapat pada
sel sperma, sel telur atau inti sel.
X
l] Varietas: ras, subspesies, bagian dari satu spesies,
dengan sifat-sifat khas yang tidak cukup memenuhi syarat
untuk digolongkan sebagai satu spesies tersendiri.
X
m] Punctuated equilibrium: teori yang mengatakan bahwa
evolusi terjadi melalui perubahan besar secara cepat;
dijelaskan dalam bab selanjutnya dalam buku ini.
X
n] Mongolism:
X
o] Sindroma Down: kelainan kromosom yang mengakibatkan
wajah dan hidung yang rata, jari-jemari pendek dan lebar,
lipatan vertikal pada kulit di tepi bagian dalam dari
mata, dan gangguan mental.
X
p] Albinism: kelainan sejak lahir berupa ketiadaan zat
warna atau pigmen pada kulit, mata, dan rambut.
X
q] Sindroma Marfan:
X
|