CITA RASA SENI
YANG KHAS PADA BUAH DAN SAYUR-MAYUR
Buah-buahan
dan sayur-sayuran tumbuh dari tanah yang sama dan disirami dengan
air yang sama, tetapi semuanya beraneka-ragam memesonakan. Bila
kita memperhitungkan sedemikian banyaknya rasa dan aroma yang berlainan
dari buah-buahan dan sayur-mayur, tercetuslah pertanyaan tentang
bagaimana keanekaragaman ini mula-mula timbul. Apa yang menyebabkan
pusparagam rasa dan bau buah anggur, melon, kiwi, nenas dan sejenisnya,
yang menggunakan air dan mineral yang sama selama berabad-abad secara
terus-menerus, namun tidak pernah saling tercampur satu sama lain
dan tidak pula tertukar dan membingungkan? Allah memberikan rasa
dan rupa yang tak ada bandingnya kepada buah dan sayuran.
Baik hewan dan manusia memperoleh energi yang mereka perlukan untuk
bertahan hidup melalui nutrisi yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan.
Dengan kata lain, tumbuh-tumbuhan diciptakan sebagai nikmat untuk
kemashalatan semua makhluk hidup. Sebagian besar nikmat ini dirancang
khusus untuk manusia. Mari kita lihat ke sekeliling kita, yaitu
pada apa yang kita makan, dan kemudian pikirkanlah. Pertama, marilah
melihat batang yang sangat kering dan akar yang sangat tipis dari
tanaman anggur yang merambat. Struktur yang sangat kering ini, yang
tampak sangat rapuh sehingga dapat dipatahkan hanya dengan tarikan
yang sangat lemah, dapat menghasilkan berkilo-kilo anggur yang banyak
airnya, yang memiliki warna, aroma, dan rasa, dan telah dirancang
khusus untuk menyenangkan manusia. Sekarang marilah berpikir tentang
semangka. Buah yang berair ini, yang sekali lagi keluar dari tanah
yang kering, berkembang tepat pada musim saat orang mulai merasa
memerlukannya, yaitu pada musim panas. Sekarang mari berpikir tentang
aroma melon yang mengagumkan, yang sudah ada sejak dulu, saat buah
melon pertama kali ada, tanpa ada kerusakan dalam mutunya, dan tentang
rasanya yang terkenal. Dalam produksi wangi-wangian di pabrik, orang
menggunakan kendali mutu yang rumit dan bersusah-payah agar dapat
menghasilkan aroma seragam yang ditiru dari alam; padahal, untuk
melestarikan aroma alami buah-buahan, tidak perlu ada pemeriksaan
mutu.
Selain berbagai aroma yang menggiurkan ini, setiap buah juga mengandung
bahan-bahan penyusun yang sesuai untuk musimnya. Pada musim dingin,
misalnya, kita dapat memperoleh jeruk keprok dan jeruk manis, yang
penuh dengan vitamin C dan energi. Sayur-mayur juga memiliki setiap
dan semua jenis vitamin dan mineral yang diperlukan oleh makhluk
hidup.
Bila kita berpikir dengan cara ini, kita dapat memeriksa satu per
satu semua tanaman yang ada di alam. Dan pada akhir pemeriksaan
ini, kita akan sadar bahwa tumbuh-tumbuhan di sekitar kita telah
dirancang khusus untuk ummat manusia dan semua makhluk lainnya,
dengan kata lain, semua itu telah diciptakan. Allah, Yang Menguasai
seluruh alam, sudah mengadakan semua zat makanan bagi makhluk hidup
dan menciptakannya sedemikian sehingga rasa, bau, dan kegunaannya
masing-masing bervariasi secara mengagumkan. Hal ini mengungkapkan
kekuasaan-Nya dan kemampuan seni yang tak ada bandingannya dalam
penciptaan. Dia memberitakannya kepada kita di dalam Al-Quran:
… dan Dia (menundukkan pula)
apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan
macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (QS.
An Nahl, 16: 13)
RANCANGAN DAUN
YANG SEMPURNA: PORI-PORI
Ada
rancangan yang sempurna di dalam setiap milimeter persegi setiap
daun, sebuah objek yang biasanya kita anggap, sepintas lalu, sebagai
hal yang biasa, sekadar “keanekaragaman kebun.” Pori-pori,
yang merupakan salah satu struktur penting tanaman, adalah bagian
kunci dari rancangan ini. Lubang mikroskopis (pori-pori) yang terdapat
pada daun ini bertanggung jawab dalam fasilitasi perpindahan air
dan panas, begitu pula dalam pengambilan karbondioksida, yaitu gas
yang diperlukan untuk fotosintesis, dari atmosfer. Selain itu, pori-pori
memiliki struktur yang memungkinkannya terbuka dan tertutup sendiri
saat diperlukan.
Ciri khas menarik lainnya dari pori-pori adalah letaknya yang kebanyakan
di dasar daun. Dengan cara ini, efek sinar matahari yang membahayakan
ditekan serendah mungkin. Jika pori-pori, yang mengeluarkan air
dari tanaman, memenuhi permukaan bagian atas daun, akibatnya pori-pori
akan diterpa sinar matahari dalam waktu yang lama. Dalam keadaan
ini, pori-pori akan secara terus-menerus mengeluarkan air untuk
mencegah tumbuhan mati karena panas. Akibatnya, karena terlalu banyak
kehilangan air, tanaman justru akan layu dan mati. Allah, yang telah
menciptakan segala sesuatu secara sempurna dan lengkap, menciptakan
pori-pori sebagai suatu rancangan eksklusif bagi tanaman dan karenanya
mencegahnya dari bahaya akibat kehilangan air.
Pori-pori, yang terletak berpasang-pasangan di permukaan jaringan
daun, berbentuk seperti kacang merah. Pori yang berhadapan berposisi
cembung yang mengatur bukaan pori sehingga menjaga transmisi atau
pengiriman gas antara daun dan atmosfer. Bukaan ini, yang disebut
bukaan pori, berubah-ubah sesuai keadaan lingkungan (cahaya, kelembapan,
suhu, kadar karbon dioksida) dan keadaan di bagian dalam tanaman,
terutama menyangkut air. Transmisi air dan gas dari tanaman diatur
dengan memperbesar atau memperkecil bukaan pori.
Ada perincian yang sangat halus dan cermat dalam struktur pori-pori
ini, yang telah dirancang dengan mempertimbangkan semua dampak dari
lingkungan luar. Kita semua tahu bahwa kondisi lingkungan luar dipengaruhi
perubahan yang terus-menerus: perbandingan gas dan kelembapan, kualitas
suhu dan kualitas udara… Tetapi pori-pori daun dapat melakukan
adaptasi atau penyesuaian terhadap semua faktor ini.
Sistem dalam tumbuh-tumbuhan ini, seperti juga berbagai sistem lainnya,
dapat berfungsi hanya jika semua bagiannya ada sekaligus. Karenanya,
jelaslah tidak mungkin pori-pori tanaman muncul melalui kebetulan
yang evolusioner (berangsur-angsur). Allah menciptakan pori-pori
dengan struktur yang sangat khusus, dan merancangnya terutama agar
dapat menjalankan fungsinya.
BENIH KELAPA
Benih
atau biji beberapa janis tumbuhan menyebar melalui air. Benih seperti
ini memiliki ciri khas yang berbeda dari benih tanaman lainnya.
Misalnya, tanaman yang benihnya disebarkan lewat air memiliki struktur
yang mempunyai berat sekecil mungkin dan luas permukaan yang sebesar
mungkin. Selain itu, jaringan yang mengapung ini bisa memiliki beberapa
bentuk. Sel-sel yang berisi udara mungkin punya
struktur berpori-pori—bila tidak, udara dapat terkurung di
dalam benih sedemikian sehingga tidak ada lagi celah-celah di antara
sel—yang membuatnya bisa mengapung. Selain itu, dinding sel
jaringan yang mengapung ini tersusun sedemikian rupa, sehingga dapat
mencegah masuknya air. Di samping semua itu, terdapat sebuah wilayah
bagian dalam tambahan pada tanaman ini yang melindungi embrio, tempat
terkandungnya semua informasi genetik tanaman tersebut.2
Di antara benih yang terbawa air, ada yang dapat bertahan di air
sampai sekitar 80 hari tanpa tercemar ataupun berkecambah, berkat
struktur atau susunannya yang kuat. Yang paling terkenal di antaranya
adalah benih pohon kelapa. Benih kelapa berada dalam kulit yang
kuat agar aman dalam perjalanannya. Dalam kulit yang keras ini,
segala sesuatu yang diperlukan untuk perjalanan panjang, termasuk
air, sudah tersedia. Bagian luarnya juga dilapisi dengan bahan yang
kuat sehingga dapat mencegah rusaknya biji akibat air.
Salah satu ciri yang paling mencolok dari benih
kelapa yaitu biji ini punya ruang udara yang membuatnya ringan dan
dapat mengapung di air. Karena ciri inilah, biji kelapa dapat terbawa
arus air laut sampai beribu-ribu kilometer. Saat tersapu ke darat,
biji mulai berkecambah dan tumbuh menjadi pohon kelapa.3
Adalah istimewa bahwa benih kelapa berkecambah tepat sesudah sampai
di daratan, karena, seperti diketahui, biji tumbuhan biasanya berkecambah
segera setelah bertemu air. Namun, tidak demikian dengan biji kelapa.
Dengan strukturnya yang berbeda, tumbuh-tumbuhan yang bijinya tersebar
melalui air mempunyai keistimewaan dalam hal ini. Jika tumbuhan
ini juga berkecambah begitu bertemu dengan air, jenisnya sudah akan
punah sejak dulu. Tetapi, dengan mekanisme yang sesuai dengan lingkungannya,
jenis tanaman ini tetap bertahan. Nyatalah bahwa ciri dan rancangan
yang saksama tidak mungkin ada di dunia melalui metode yang diklaim
para evolusionis.
Jumlah zat makanan dan air yang dicadangkan di dalam biji, masa
yang ditempuhnya sebelum mencapai daratan, pendeknya semua perhitungan
teliti yang dibuat dalam penentuan ciri makhluk hidup yang seperti
ini, telah secara sempurna ditentukan oleh Allah, Yang menjadi pemilik
kekuatan dan kebijaksanaan abadi.
MAKHLUK HIDUP
YANG DICIPTAKAN SELARAS SATU SAMA LAIN
Pada
beberapa tumbuhan, cairan nektar terdapat jauh di dalam bunga. Hal
ini tampaknya tidak menguntungkan, karena serangga dan burung akan
sulit mengumpulkan cairan tersebut dan bunga pun akan sulit diserbuki.
Tetapi, Allah telah mengatur agar tumbuh-tumbuhan ini dapat diserbuki
pula dengan menciptakan makhluk hidup yang memiliki struktur sangat
sesuai dengan karakteristik bunga yang cairan nektarnya tersimpan
jauh di dalam. Hubungan yang selaras antara pohon kandil dan ngengat
bunga yuka adalah salah satu contoh.
Bunga yuka memiliki kelopak yang daunnya berbentuk mata tombak dan,
di bagian tengahnya, ada tangkai yang menopang bunga-bunga berwarna
krim. Salah satu ciri khas bunga yuka adalah serbuk sari-nya terdapat
di wilayah yang melengkung. Karena itulah, hanya jenis ngengat tertentu,
yang dikaruniai belalai melengkung, yang dapat mengumpulkan serbuk
sari yang terdapat di organ reproduksi jantan tanaman ini.
Dengan cara menumpukkan serbuk sari, ngengat menggumpalkan
serbuk sari yang telah dikumpulkannya menjadi bola, dan membawa
serbuk sari tersebut ke bunga yuka lain. Mula-mula ngengat turun
ke bagian dasar bunga itu dan bertelur. Ngengat kemudian memanjat
ke bagian atas bunga dan memukul bola serbuk sari tersebut sehingga
serbuk sari tumpah. Setelah beberapa waktu, ulat ngengat akan keluar
dari telur dan memakan serbuk sari ini. Sementara itu, dengan memukul
bola serbuk sari yang telah dikumpulkan dari bunga sebelumnya di
bagian atas bunga baru, ngengat menyerbuki bunga itu. Jika tidak
ada ngengat, bunga yuka tidak dapat menyerbuki dirinya sendiri.4
Seperti yang kita lihat, cara ngengat mencari makan dan penyerbukan
bunga yuka terjadi dengan cara yang sangat selaras. Yang menciptakan
keselarasan ini bukanlah bunga yuka atau ngengat itu sendiri. Tidak
mungkin tanaman atau serangga menyadari kebutuhan makhluk yang lain
atau mengatur siasat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Makhluk-makhluk
ini tidak memiliki kecakapan berpikir dan karenanya tidak dapat
menemukan metode lalu mengajarkannya kepada makhluk yang lain. Allah
sendirilah yang telah menciptakan keselarasan sempurna ini di antara
makhluk-makhluk hidup. Kedua makhluk adalah karya Allah, Yang mengetahui
mereka dengan sangat sempurna, Tuhan semesta alam dan Yang Maha
Mengetahui. Dan mereka lalu menjalankan fungsi untuk memperkenalkan
manusia kepada kebesaran, kekuasaan dan kesempurnaan karya seni
Allah. Allah mengungkapkan ini di dalam Al-Quran:
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya
bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih
dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS.
Al Israa‘, 17: 44)
SIASAT ANGGREK
CORYANTHES
Apakah
mungkin sekuntum bunga bisa menyadari kecenderungan seekor serangga?
Apakah mungkin bunga membuat rencana agar serangga jatuh ke dalam
perangkapnya serta mengubah dirinya agar cocok dengan tujuan ini?
Tidak dapat diragukan lagi, tidak mungkin bunga atau serangga menjalankan
taktik atau siasat sedemikian hanya berdasarkan keinginan dan akalnya
sendiri. Namun demikian, bila kita mengamati makhluk-makhluk di
alam ini, kita tahu bahwa mereka sering menerapkan jenis-jenis taktik
semacam itu.
Anggrek Coryanthes adalah salah satu tumbuhan yang mampu menjebak
serangga agar jatuh ke dalam perangkapnya dengan menggunakan taktik
yang menarik. Sistem reproduksi anggrek ini didasarkan pada memikat
serangga dan memanfaatkannya untuk membawa serbuk sarinya. Bunga-bunga
anggrek jenis ini tumbuh berkelompok. Setiap bunga memiliki dua
helai kelopak yang mirip sayap dan tepat di belakang kedua helai
ini terdapat sebuah “ember” kecil. Bila bunga membuka,
cairan khusus yang dikeluarkan oleh dua kelenjar khusus mulai menetes
ke dalam ember tersebut. Tak lama kemudian bunga pun mulai memancarkan
wangi-wangian yang sangat menarik bagi lebah.
Sejalan dengan mekarnya anggrek, lebah jantan bereaksi terhadap
aroma wangi tersebut dan mulai terbang di sekitar bunga. Sewaktu
lebah mencoba hinggap di sisi tegak pada anggrek, lebah juga mencari
tempat untuk bergantung dengan kakinya, seperti bagian berbentuk
tabung dari bunga yang menghubungkan ember dengan batangnya. Bagian
ini licin dan miring. Karena itu, lebah yang merangkak pada bunga
pasti akan terjatuh ke dalam ember yang terisi cairan di dasar bunga.
Hanya ada satu jalan keluar bagi lebah yang telah
terjatuh ke dalam bunga. Sebuah lorong sempit yang menuju ke dinding
bunga bagian depan, yaitu, yang menuju cahaya matahari di luar.
Selama serangga mencari-cari jalan keluar ini, yang berada pada
ketinggian yang sama dengan tinggi cairan yang dimasukinya, lebah
tetap berenang di cairan. Saat mencoba menemukan jalan keluar, lebah
melewati bagian bawah stigma, yang mengandung serbuk sari, dan organ
jantan bunga. Pada saat itu, dua kantung serbuk sari tertempel di
bagian belakang serangga. Lalu serangga bergegas menuju jalan keluar
dan akhirnya meninggalkan bunga. Saat lebah menghampiri bunga yang
lain, kali ini yang terjadi adalah stigma bunga itu menarik serbuk
sari dari serangga, dan dengan cara ini, penyerbukan pun dimulai.5
Namun, situasi ini tidak cuma membawa manfaat bagi bunga saja. Cairan
yang ada dalam ember bunga tempat jatuhnya lebah juga sangat penting
bagi lebah, karena lebah jantan akan menggunakan keharuman cairan
yang melumuri tubuhnya itu untuk menarik lebah betina selama perkawinan.
Seperti yang telah kami sebutkan di depan, sama sekali tidak mungkin
bunga mengembangkan siasat untuk memperdaya seekor serangga dan
merancang strukturnya agar sesuai dengan taktik ini. Begitu pula
halnya, tentulah tidak mungkin seekor serangga mengembangkan taktik
untuk memperoleh zat yang diperlukannya dari sekuntum bunga dengan
hanya mengandalkan kemauannya sendiri. Kerjasama yang mengagumkan
antara dua makhluk ini adalah bukti nyata akan fakta bahwa keduanya
diciptakan oleh Pencipta yang tiada duanya.
KETERAMPILAN LEBAH PEKERJA
Lebah
pekerja (mason bee) adalah makhluk hidup yang menarik perhatian
karena ketelitian yang ditunjukkannya dalam membangun sarang. Saat
lebah betina yang ingin membangun sarang menemukan tempat yang sesuai,
dia membersihkan tempat itu. Tetapi, untuk membangun sarang, lebah
ini harus menemukan sumber lumpur lebih dulu. Jika tidak dapat menemukan
lumpur, lebah mencari tanah yang bertekstur halus dan mengubahnya
menjadi adonan lembut dengan cara mencampurkan tanah itu dengan
air liurnya.
Lebah pekerja memulai pembangunan sarangnya dengan meraup sepotong
lumpur dari tanah dengan rahangnya. Lebah membawa lumpur di antara
kaki-kakinya dan mencetaknya menjadi bentuk pelet (butiran). Lebah
menambahkan lumpur lagi ke pelet. Kemudian, sambil membawa pelet
dengan rahangnya, lebah betina kembali ke sarangnya.
Setibanya di tempat yang telah dipilihnya untuk membangun sarang
dengan lumpur itu, dia tidak segera memulai pekerjaan dengan acak-acakan
dan serampangan. Para lebah pekerja selalu bekerja menurut rencana
yang jelas saat membangun sarangnya yang mirip terowongan. Sejalan
dengan rencana ini, lebah pekerja menggunakan muatan lumpur yang
pertama untuk membangun sekat belakang dari ruang atau sel pertama
yang akan menjadi ujung buntu terowongan. Kemudian, lebah akan menyusun
lumpur dalam bentuk bulan sabit pada jarak tertentu dari sekat tadi.
Ini menandai tempat bagi sekat berikut yang akan dibangunnya setelah
lebah menempatkan telurnya di lubang sel yang pertama.
Setelah lubang ini selesai dibangun, lebah pekerja mulai mengumpulkan
makanan untuk disimpan di sana. Dalam perjalanan pertamanya, lebah
ini menempatkan serbuk sari di bagian belakang sarang. Pada perjalanan
berikutnya, lebah meninggalkan madu berbentuk pasta tebal yang dibuatnya
dengan rahangnya, di atas serbuk sari yang ditinggalkannya dari
perjalanan sebelumnya. Dengan cara ini, lebah merampungkan persiapan
awal untuk telur yang akan diletakkannya.
Segera setelah meninggalkan muatan serbuk sari terakhir di sarang,
lebah mulai bertelur. Setelah bertelur, lebah betina mulai membangun
dinding untuk sekat lumpur lain yang telah ditandai sebelumnya.
Secara berurutan, lebah melanjutkan proses bertelur dan pembangunan
sel sampai lubang-lubang sel tersebut membentuk barisan. Lubang-lubang
sel ini memiliki struktur yang standar. Setiap lubang berisi sebutir
telur dan persediaan makanan dan dipisahkan dari lubang di sebelahnya
dengan dinding lumpur.
Setelah lubang yang terakhir selesai dan ditutup,
lebah betina membangun ruang kosong di antara lubang telur yang
terakhir dengan jalan masuk ke sarang, dan akhirnya menutup jalan
masuk ini dengan sumbat yang lebih tebal daripada sekat lubang biasa.
Sumbat ini menghalangi makhluk lain bersarang di depan sarang lebah
ini, karena dapat mengurung bayi-bayi lebah di dalam lubang dan
menyebabkan mereka mati.6
Pada setiap tahap pembangunan sarang ini kita dapat melihat adanya
kebijaksanaan dan kecerdasan yang nyata di balik perilaku lebah
tukang batu [bricklayer bees] ini. Dalam sebuah ayat, Allah memberitakan
kepada kita bahwa lebah adalah makhluk yang bertindak dengan ilham
dari Allah. Sebenarnya, bukan hanya lebah, tetapi semua makhluk
hidup di alam semesta diberi ilham oleh Allah, Yang Mahakuasa, Yang
Maha Bijaksana.
MENARA SI RAYAP
BUTA
Mungkinkah
pekerja yang buta mendirikan bangunan setinggi Gedung Empire State?
Prestasi sedemikian adalah tidak mungkin bagi manusia. Tetapi, rayap
yang buta, sepanjang hidupnya, sanggup membangun sarang setinggi
Gedung Empire State, pada perbandingan yang setara dengan ukuran
tubuh mereka.
Salah satu ciri penting rayap adalah mereka membuat sarang yang
begitu kuat sehingga manusia pun hanya dapat menghancurkannya dengan
susah-payah. Rayap-rayap membangun berbagai jenis sarang disesuaikan
dengan kebutuhan mereka. Ada yang membangun sarang sebagai perlindungan
terhadap panas yang membakar, ada pula yang membangun sarangnya
untuk berteduh dari hujan. Sarang-sarang ini dapat dibangun di bawah
maupun di atas tanah atau bahkan di dalam pohon.
Bila kita melihat ke dalam sarang rayap, kita dapat melihat penampilannya
yang seperti spons. Sarang itu terdiri dari banyak lubang yang lebarnya
sekitar 2,5 cm (1 inci) atau kurang dari itu. Lubang-lubang ini
terhubungkan satu sama lain oleh lorong yang hanya dapat dilewati
oleh rayap. Bahan mentah yang digunakan rayap saat membuat bangunan
yang mengagumkan ini hanya terdiri dari tanah, air liurnya, dan
kotoran atau zat buangan tubuh. Dengan menggunakan bahan-bahan sederhana
tersebut, sebagian rayap membuat sarang yang sangat kuat sehingga
hanya dapat dihancurkan dengan menggunakan dinamit, dan sarang ini
juga memiliki sistem yang begitu teperinci seperti labirin, saluran
peredaran udara, dan lorong.
Segi utama paling menakjubkan dari rayap yang dapat membangun sarang
berupa menara yang hebat ini, sebagaimana telah disebutkan di atas,
adalah karena rayap sama sekali buta. Ini hal yang paling penting.
Rayap tidak dapat melihat terowongan yang dibuatnya, tidak juga
bahan dan tanah yang digunakannya, maupun lubang-lubang yang dibangunnya.
Bila hasil karya rayap dan manusia dibandingkan, keajaiban pada
apa yang dilakukan rayap bahkan dapat lebih jelas dilihat. Maka,
agar kita bisa membuat penilaian yang lebih baik atas “pencakar
langit” yang dibangun rayap, Gedung Empire State di New York,
Amerika, bisa menjadi pembanding yang cocok. Gedung tersebut tingginya
443 meter (1453 kaki). Rayap adalah serangga berukuran 1-2 cm (0,4-0,8
inci). Walaupun tubuhnya amat kecil, rayap membangun sarang raksasa
yang menjulang hingga 7 meter (23 kaki) tingginya. Jika rayap sama
tingginya dengan manusia, sarang spektakuler buatan mereka akan
berukuran empat kali lebih tinggi daripada Gedung Empire State.
Rayap telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, yang bahkan tidak
dapat dicapai oleh manusia, selama berjuta-juta tahun sejak mereka
diciptakan.
Dia Yang telah menciptakan rayap dengan semua karakteristiknya adalah
Allah. Dengan mengaruniai rayap kemampuan untuk membuat bangunan
yang hebat, Dia, Penguasa segala sesuatu, memperkenalkan kepada
kita kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya yang tidak terbatas. Seperti
yang diungkapkan-Nya dalam Al Qur‘an:
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara
segala sesuatu. (QS. Az Zumar, 39: 62)
TEKNIK MENYELAM
LABA-LABA LONCENG
Dan tidak ada suatu binatang melata
pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia
mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya.
Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS. Huud,
11: 6)
Laba-laba
air yang hidup di daerah bersuhu hangat di Asia dan Eropa menghabiskan
sebagian besar hidupnya di dalam air karena mereka membuat sarang
di dalam air.
Untuk pembangunan sarangnya, laba-laba mula-mula mendirikan semacam
panggung dengan merentangkan jaring-jaring di antara daun-daun atau
tumbuhan air. Laba-laba mengaitkan panggung ini ke batang tanaman
yang terdekat dengan benang sutra. Benang ini menjadi tanda bagi
laba-laba untuk menunjukkan sarangnya, sebagai tali yang mengukuhkan
panggung dan sebagai sistem “radar” yang memberitahukan
kepadanya bila ada mangsa yang datang mendekat.
Setelah mendirikan panggung, laba-laba membawa gelembung-gelembung
udara ke bawahnya dengan menggunakan kaki dan tubuhnya. Maka jaring-jaring
tersebut menggelembung ke atas dan, dengan ditambahnya udara lagi,
menjadi berbentuk seperti lonceng. Lonceng ini adalah sarang tempat
laba-laba bernaung selama dia berada di bawah air. (gambar di kiri
bawah).
Pada siang hari, laba-laba menunggu di sarang. Bila ada hewan kecil
yang lewat, khususnya seekor serangga atau larva, laba-laba segera
keluar untuk menangkap dan membawanya ke dalam sarang sehingga dapat
dimakan. Seekor serangga yang jatuh ke air menyebabkan getaran.
Karena merasakan adanya getaran ini, si laba-laba keluar, mengambil
serangga tersebut dan membawanya ke dalam air. Laba-laba menggunakan
permukaan air seolah-olah itu jaring-jaring. Keadaan yang dialami
serangga saat jatuh ke air ini tak berbeda dengan keadaan mangsa
apa yang terjebak di jaring.
Menjelang musim dingin, laba-laba perlu mengambil
tindakan pencegahan untuk melindungi dirinya sendiri agar tidak
membeku. Karena itulah, laba-laba air masuk lebih dalam lagi ke
air. Kali ini, laba-laba membangun lonceng untuk musim dingin dan
mengisinya dengan udara. Beberapa jenis laba-laba tinggal di dalam
cangkang siput laut yang mereka temukan di kedalaman air. Laba-laba
tetap diam tidak bergerak di dalam lonceng dan nyaris tidak menghabiskan
energi sedikitpun selama melewati musim dingin. Laba-laba melakukan
hal ini agar tidak kehilangan energi dan untuk menekan kebutuhan
oksigen. Dengan tindakan yang disertai perhitungan ini, oksigen
dalam gelembung udara yang dibawa laba-laba ke sarang dapat mencukupi
kebutuhan hidup laba-laba selama musim dingin sampai 4-5 bulan.7
Nyatalah bahwa teknik berburu laba-laba dan gelembung yang diciptakannya
sudah dirancang dengan cara yang paling sempurna agar laba-laba
dapat hidup di dalam air. Makhluk yang biasa hidup di darat jelas
tidak mungkin bisa menemukan cara tinggal di dalam air secara kebetulan.
Jika makhluk ini tidak memiliki sifat dan alat yang dibutuhkan untuk
hidup di dalam air, makhluk ini akan mati begitu dia memasuki air.
Maka, Allah menciptakan makhluk daratan, yang dapat tinggal di dalam
air karena dilengkapi kemampuan yang sesuai untuk itu, beserta semua
ciri khasnya, dalam sekejap mata.
Dengan menciptakan contoh yang tiada taranya seperti laba-laba air
ini, Allah memperkenalkan kepada kita pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya
yang tak terbatas.
KITIN: ZAT PELAPIS
YANG SEMPURNA
Serangga
merupakan makhluk yang paling banyak tersebar dan paling ulet di
bumi. Alasannya adalah karena serangga diciptakan sedemikian sehingga
sangat tahan terhadap berbagai kondisi yang tidak menguntungkan.
Salah satu hal yang menjadikan serangga begitu kuat adalah kitin
(zat tanduk) yang menutupi tubuhnya.
Kitin adalah zat yang tipis dan sangat ringan. Karena itulah, serangga
tidak mengalami kesulitan membawanya. Walaupun zat ini menutupi
tubuh serangga di bagian luar, zat ini begitu kuatnya sehingga dapat
berfungsi pula sebagai kerangka dan, sekaligus pula, luar biasa
lentur. Lapisan ini dapat bergerak saat otot-otot—yang ujung-ujungnya
terhubung dengan tubuh serangga dari dalam—berkontraksi (mengerut)
dan mengendur. Hal ini tidak hanya mempercepat gerakan serangga
tetapi juga meredam benturan dari luar. Lapisan kitin ini tahan
air karena adanya lapisan bagian luar yang khusus. Zat ini juga
mencegah cairan tubuh bocor ke luar.8 Kitin tidak terpengaruh oleh
keadaan yang paling sulit, suhu tinggi atau bahkan penyinaran. Sifat
lain dari lapisan ini adalah warna yang dimilikinya, yang sangat
sesuai dengan lingkungan tempat tinggal serangga; contoh-contohnya
dapat dilihat pada gambar. Dengan cara ini, serangga dapat hidup
tanpa menarik perhatian musuh-musuhnya. Kadang-kadang, warna lapisan
ini begitu hidup sehingga mereka bahkan menghalangi pemangsa di
lingkungan tersebut.
Kitin, yang menyusun cangkang luar pada sebagian besar serangga,
merupakan bahan yang sempurna dalam hal kekuatan, elastisitas (kekenyalan)
dan sifat insulasi (penyekatan). Zat dengan sifat yang begitu luar
biasa ini, tidak dapat tidak, membuat orang berpikir, jika pesawat
terbang dan pesawat luar angkasa dibuat dari bahan yang bersifat
seperti kitin, bagaimanakah bentuknya? Sebenarnya, struktur zat
ini adalah bahan yang diimpikan para insinyur aeronotika. Namun,
walaupun teknologi kita sudah maju, ummat manusia belum dapat menandingi
rancangan yang berkelas tinggi ini.
Kitin, zat yang padanannya masih terus dicari dengan menggunakan
teknologi abad ke duapuluh satu, telah ada sejak terciptanya serangga
pertama. Bahan ini, sebagaimana disebutkan sebelumnya, merupakan
zat pelapis paling sempurna yang pernah dimiliki seekor serangga.
Jelas tidak mungkin zat yang berkemampuan melindungi makhluk terhadap
segala jenis bahaya ini muncul begitu saja karena kebetulan. Tidak
ada satu serangga pun yang dapat menghasilkan bahan pelindung seperti
ini berdasarkan keinginannya sendiri. Allah menciptakan zat yang
memiliki rancangan khas ini, bersamaan dengan perlengkapan luar
biasa lain dari serangga yang dilapisinya. Di dalam Al-Quran, Allah
menarik perhatian kita terhadap ciptaan-Nya sebagai berikut:
Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya
ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata
yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan
semuanya apabila dikehendaki-Nya. (QS. Asy Syuura, 42: 29)
HOTEL SEMUT
Sesungguhnya pada langit dan bumi
benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang
yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang
yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini. (QS. Al Jaatsiyah, 45:
3-4)
Jika
satu makhluk membantu makhluk yang lain, dan mempersiapkan lingkungan
yang nyaman sesuai dengan kebutuhan makhluk tersebut, tentu kita
tidak dapat mengklaim kerjasama ini terjadi dengan begitu saja.
Kecocokan yang tepat satu dengan yang lain di antara makhluk yang
tidak memiliki akal pikiran, dan tindakan yang mereka jalankan untuk
menguntungkan satu sama lain, menunjukkan bukti bahwa mereka diciptakan
dengan terencana. Makhluk-makhluk yang hidup bersama telah diciptakan
dengan sifat atau ciri yang saling menguntungkan melalui perantaraan
Pencipta yang tunggal, yaitu Allah. Kita dapat mengambil tanaman
dan semut tertentu sebagai contoh khusus dari jenis pasangan makhluk
yang saling menguntungkan ini.
Pada sejumlah tanaman terdapat lubang-lubang dalam
yang disebut “domatia” dalam istilah biologi (gambar
kecil). Satu-satunya fungsi domatia adalah sebagai tempat berlindung
bagi koloni semut. Tumbuh-tumbuhan yang seperti itu memiliki lubang
atau jaringan berupa jendela tipis yang memungkinkan semut masuk
dan keluar tanaman dengan mudah. Di dalam ruang-ruang ini, ada makanan
yang diproduksi oleh tumbuhan, yang tidak punya fungsi selain untuk
memberi makan semut. Tidak tampak manfaat makanan ini bagi tanaman.9
Singkatnya, domatia merupakan struktur khusus yang telah diciptakan
agar semut dapat bertahan hidup. Keseimbangan suhu dan kelembapan
di lingkungan ini juga sangat ideal bagi semut. Di tempat-tempat
yang seolah dipersiapkan khusus bagi semut ini, semut dapat hidup
senyaman orang yang tinggal di hotel mewah.
Kita dapat memberikan contoh yang lain, yaitu
Philidris, sejenis semut, dengan tanaman inangnya Dischidia major.
Mereka membuat “produksi zat kimia” kolektif sepanjang
hidupnya. Tanaman yang dibicarakan ini tidak punya akar yang menembus
tanah, karenanya ia mendapat dukungan dari tanaman yang lain dengan
cara melilitnya. Tanaman ini memiliki cara yang sangat menarik untuk
meningkatkan perolehan karbon dan nitrogen. Semut punya wilayah
pada tanaman ini, yang disebut “daun semut”, tempat
semut merawat anak-anaknya dan menyimpan sisa-sisa organik (semut
mati, bagian tubuh serangga lain, dll.). Tanaman dapat memanfaatkan
sisa-sisa ini sebagai sumber nitrogen. Selain itu, permukaan-dalam
dari ruang daun menyerap karbon dioksida yang dihasilkan oleh semut,
sehingga mengurangi penguapan air melalui pori-pori.10
Pencegahan dehidrasi ini sangat penting bagi tanaman semut yang
tumbuh di iklim tropis ini, karena, tanaman ini tidak memiliki akar
dan tidak dapat mengambil air dari dalam tanah. Dengan demikian,
semut memasok dua kebutuhan penting tanaman ini, sebagai imbalan
atas tempat berlindung yang disediakan tanaman bagi mereka.
Kita tidak mungkin mengklaim bahwa struktur yang terlihat pada dua
contoh ini terjadi karena kebetulan. Tanaman tidak mungkin menghasilkan
zat makanan yang sesuai bagi semut dan mencocokkan kondisinya dengan
semut secara kebetulan. Kerjasama antara semut dan tanaman ini adalah
satu bukti lagi tentang keseimbangan mengagumkan yang diciptakan
di bumi oleh Allah, sang Pencipta satu-satunya.
|