|
IRAMA ATOM
Jika pemikiran paling cemerlang
di dunia hanya dapat dengan susah payah menguraikan kerja alam yang misterius,
bagaimana mungkin kerja alam itu hanya merupakan suatu kebetulan tanpa
pemikiran, atau sebuah produk peristiwa acak?
(Paul Davies, profesor Fisika Teoretis) 31
Ilmuwan sepenuhnya sepakat bahwa, berdasarkan perhitungan,
Dentuman Besar terjadi sekitar 17 ribu miliar yang lalu. Semua materi
yang membentuk alam semesta diciptakan dari ketiadaan, namun dengan rancangan
luar biasa, seperti yang kita bicarakan pada dua bab pertama. Akan tetapi,
alam semesta yang muncul dari Dentuman Besar bisa saja berbeda dengan
alam semesta yang sudah terbentuk alam semesta kita.
Misalnya, andaikan nilai keempat gaya dasar berbeda, alam
semesta akan hanya terdiri dari radiasi dan menjadi jaringan cahaya tanpa
bintang, galaksi, manusia, atau lain-lainnya. Berkat keseimbangan sempurna
ke-empat gaya tersebut, "atom-atom" bahan pembangun untuk apa yang disebut
"materi" terbentuk.
Para ilmuwan juga bersepakat bahwa dua unsur pertama yang
paling sederhana hidrogen dan helium mulai terbentuk dalam empat belas
detik pertama setelah Dentuman Besar. Kedua unsur itu terbentuk sebagai
hasil reduksi/pengurangan dalam entropi alam semesta yang menyebabkan
materi tersebar ke mana-mana. Dengan kata lain, pada awalnya alam semesta
hanya sebuah kumpulan atom hidrogen dan helium. Jika tetap seperti itu,
lagi-lagi tidak akan ada bintang, planet, batu, tanah, pohon, atau manusia.
Alam semesta akan menjadi jagat raya tanpa kehidupan, yang terdiri hanya
dari kedua unsur itu.
Karbon, unsur dasar kehidupan, adalah unsur yang jauh lebih
berat daripada hidrogen dan helium. Bagaimana unsur tersebut terbentuk?
Ketika mencari jawaban untuk pertanyaan itu, para ilmuwan
tersandung pada sebuah penemuan paling mengejutkan di abad ini.
Struktur Unsur-Unsur
Kimia adalah ilmu alam yang mempelajari senyawa, struktur,
dan sifat-sifat zat dan perubahan yang mereka alami. Dasar kimia modern
adalah tabel periodik unsur. Pertama kali diperkenalkan oleh ahli kimia
Rusia, Dmitry Ivanovich Mendeleyev, unsur-unsur dalam tabel periodik disusun
menurut struktur atom mereka. Hidrogen menempati posisi pertama dalam
tabel karena hidrogen adalah unsur paling sederhana, yang terdiri dari
hanya satu proton dalam nukleus/intinya dan satu elektron yang mengitarinya.
Proton
adalah partikel subatomik yang membawa muatan listrik positif dalam nukleus
atom. Helium, dengan dua proton, menempati posisi kedua dalam tabel periodik.
Karbon mempunyai enam proton dan oksigen mempunyai delapan proton. Semua
unsur mengandung jumlah proton berbeda-beda.
Partikel lain yang terdapat di dalam inti atom adalah neutron.
Tidak seperti proton, neutron tidak membawa muatan listrik: dengan kata
lain mereka bermuatan netral, sehingga diberi nama neutron.
Partikel dasar ketiga yang membangun atom adalah elektron,
yang bermuatan negatif. Dalam setiap atom, jumlah proton sama dengan jumlah
elektron. Namun, tidak seperti proton dan neutron, elektron tidak berlokasi
dalam nukleus. Alih-alih, mereka bergerak mengelilingi nukleus dengan
kecepatan tinggi sehingga muatan positif dan negatif atom tetap terpisah.
Perbedaan dalam struktur atom (jumlah proton/elektron) adalah
yang membuat unsur-unsur berbeda satu sama lain.
Aturan penting dalam kimia (klasik) adalah bahwa unsur-unsur
tidak bisa berubah menjadi unsur lain. Mengubah besi (dengan 26 proton)
menjadi perak (18 proton) akan mengharuskan penyingkiran delapan proton
dari nukleus. Namun proton terikat jadi satu oleh gaya inti/nuklir yang
kuat dan jumlah proton dalam nukleus hanya bisa diubah dengan reaksi nuklir.
Tetapi reaksi yang terjadi pada kondisi bumi adalah reaksi kimia yang
hanya bergantung pada pertukaran elektron dan tidak mempengaruhi nukleus.
Pada Abad Pertengahan muncul "sains" yang disebut alkimia
(alchemy)-cikal bakal kimia modern. Ahli alkimia, yang tidak mengetahui
tabel periodik atau struktur atom unsur-unsur, mengira bahwa mengubah
satu unsur menjadi unsur lain bisa saja dilakukan. (Tujuan yang paling
disukai, untuk alasan yang jelas, adalah mencoba mengubah besi menjadi
emas.) Kita tahu sekarang bahwa yang dilakukan para ahli alkimia tidak
mungkin tercapai di bawah kondisi normal seperti kondisi di bumi: Suhu
dan tekanan yang diperlukan agar perubahan seperti itu terjadi terlalu
besar untuk dicapai di laboratorium bumi. Namun perubahan itu mungkin
jika Anda punya tempat yang tepat untuk melakukannya.
Dan tempat yang tepat, ternyata, di jantung bintang-bintang.
Laboratorium Alkimia di Alam Semesta: Raksasa
Merah
Suhu yang diperlukan untuk melawan keengganan inti atom berubah
adalah mendekati 10 juta derajat Celsius. Inilah yang menyebabkan alkimia
hanya mungkin terjadi di bintang. Dalam bintang berukuran sedang seperti
Matahari, energi luar biasa banyaknya yang dipancarkan berasal dari hidrogen
yang bergabung menjadi helium.

Raksasa merah adalah bintang-bintang yang sangat besar, sekitar
lima puluh kali lebih besar daripada matahari. Jauh di tengah raksasa-raksasa
ini berlangsung proses yang luar biasa. |
Dengan mengingat ulasan singkat ilmu kimia unsur ini, mari
kita kaji kembali efek yang terjadi sesaat setelah Dentuman Besar. Telah
disebutkan bahwa hanya atom hidrogen dan helium yang ada di alam semesta
setelah Dentuman Besar. Para ahli astronomi percaya bahwa bintang sejenis
matahari terbentuk dari nebula (awan kosmis) yang terdiri dari hidrogen
dan helium yang dimampatkan sampai reaksi termonuklir hidrogen menjadi helium
terjadi. Jadi, sekarang kita memiliki bintang-bintang. Namun alam semesta
masih tanpa kehidupan. Untuk kehidupan, unsur yang lebih berat-khususnya,
oksigen dan karbon diperlukan. Diperlukan proses lain untuk mengubah
hidrogen dan helium menjadi unsur lain lagi.
"Pabrik pengolahan" unsur-unsur berat ini ternyata adalah
raksasa-raksasa merah jenis bintang yang lima puluh kali lebih besar daripada
matahari.
Raksasa merah jauh lebih panas
daripada bintang jenis matahari dan sifat ini menjadikan mereka berkemampuan
melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan bintang lain: mengubah helium
menjadi karbon. Bahkan, ini juga tidak mudah bagi raksasa merah. Seperti
diungkapkan oleh ahli astronomi Greenstein: "Bahkan sekarang, setelah
jawaban (seperti untuk pertanyaan bagaimana mereka melakukannya) diketahui,
metode yang diperlukan begitu mencengangkan." 32
Nomor atom helium adalah 2: yaitu memiliki dua proton dalam
intinya. Nomor atom karbon adalah 6. Dalam suhu yang begitu tinggi pada
raksasa merah, tiga atom helium bergabung menjadi atom karbon. Inilah
"alkimia" yang menyediakan unsur lebih berat bagi alam semesta setelah
Dentuman Besar.
Namun seperti kami sebutkan, ini tidaklah mudah. Hampir tidak
mungkin untuk menggabungkan dua atom helium, dan sangat tidak mungkin
menggabungkan tiga atom. Lantas, bagaimana enam proton yang diperlukan
karbon dapat bergabung?
Ini adalah proses dua langkah. Pertama, dua atom helium berfusi
menjadi unsur antara yang memiliki empat proton dan empat neutron. Selanjutnya,
helium ketiga berfusi dengan unsur antara ini untuk membentuk karbon
dengan enam proton dan enam neutron.
|
|
|
|
|
Inti Helium
|
Inti Carbon
|
Isotop berilium yang sangat tidak stabil yang terbentuk di raksasa
merah
|
Berilium normal yang ditemukan di bumi
|
Unsur antara tersebut adalah berilium. Berilium biasa ditemukan di bumi,
namun berilium yang ada di raksasa merah berbeda dalam hal yang sangat
penting: terdiri dari empat proton dan empat neutron, sementara berilium
di bumi memiliki lima neutron. "Berilium raksasa merah" merupakan jenis
yang berbeda. Inilah yang disebut "isotop" dalam ilmu kimia.
Sekarang muncullah kejutan sesungguhnya. Isotop tersebut
rupanya sama sekali tidak stabil. Para ilmuwan telah meneliti isotop
ini bertahun-tahun dan mendapati bahwa setelah terbentuk, isotop ini akan
meluruh dalam waktu 0,000000000000001 (satu per-juta-miliar) detik.
Bagaimana isotop berilium yang begitu tidak stabil, yang
terbentuk dan meluruh dalam waktu sangat singkat, mampu bergabung dengan
helium menjadi atom karbon? Ini seperti meletakkan batu bata ketiga di
atas dua lainnya yang akan berpencar dalam waktu satu per-juta-miliar
detik jika mereka sempat saling bertumpuk dalam susunan tertentu. Bagaimana
proses ini berlangsung di raksasa merah? Para ahli fisika telah berusaha
memecahkan teka-teki ini selama beberapa dekade tanpa jawaban. Ahli astrofisika
Amerika, Edwin Salpeter, akhirnya menemukan petunjuk untuk misteri ini
dalam konsep "resonansi atomik".
Resonansi dan Resonansi Ganda
Resonansi didefinisikan sebagai frekuensi (getaran) selaras
dari dua materi yang berbeda.
Contoh sederhana dari pengalaman sehari-hari akan menjelaskan
apa yang disebut para ahli fisika sebagai "resonansi atomik". Bayangkan,
Anda bermain ayunan bersama anak Anda di taman bermain. Si kecil duduk
di atas ayunan dan Anda mendorongnya untuk memulai ayunan. Untuk menjaga
ayunan terus mengayun, Anda harus mendorongnya dari belakang. Namun, waktu
memberikan dorongan ini sangat penting. Setiap kali ayunan mendekat,
Anda harus memberikan dorongan tepat pada waktunya: ketika ayunan berada
pada titik tertinggi dari gerakannya menuju Anda. Jika Anda mendorong
terlalu awal, hasilnya adalah tabrakan yang mengganggu irama ayunan; jika
Anda terlambat mendorong, usaha tersebut akan sia-sia karena ayunan telah
bergerak menjauh. Dengan kata lain, frekuensi dorongan harus selaras dengan
frekuensi ayunan menuju Anda.
Para ahli fisika menyebut "keselarasan frekuensi"
seperti itu sebagai "resonansi". Ayunan memiliki frekuensi: misalnya mendekati
Anda setiap 1,7 detik. Anda mendorong ayunan setiap 1,7 detik juga. Tentu
saja jika Anda menghendaki, Anda dapat mengubah frekuensi gerakan ayunan,
namun jika demikian, Anda harus mengubah frekuensi dorongan juga, jika
tidak, ayunan tidak akan berayun dengan nyaman.33
Seperti halnya dua benda atau lebih yang
bergerak dapat beresonansi, resonansi juga dapat terjadi ketika satu
benda bergerak menyebabkan gerakan pada benda lain. Resonansi jenis ini
sering terlihat pada alat musik dan disebut "resonansi akustik". Ini dapat
terjadi, misalnya, di antara dua biola yang telah disetel selaras. Jika
salah satu dari biola ini dimainkan di dalam satu ruangan dengan biola
yang lain, senar biola kedua akan bergetar walaupun tidak ada seorang
pun yang menyentuhnya. Karena kedua alat musik telah disesuaikan dengan
teliti sampai pada frekuensi yang sama, getaran pada satu biola menyebabkan
getaran pada biola yang lain. 34
Resonansi dalam kedua contoh di atas adalah bentuk resonansi
yang sederhana dan mudah untuk dipahami. Ada bentuk resonansi lain dalam
ilmu fisika yang tidak sederhana, dan dalam kasus inti atom, resonansi
dapat begitu rumit dan peka.
Setiap inti atom memiliki tingkat energi
alamiah yang telah berhasil diketahui setelah penelitian panjang para
ahli fisika. Tingkat energi ini sangat berbeda antara satu atom dan atom
yang lain, namun dalam beberapa kejadian yang sangat jarang dapat diamati
adanya resonansi di antara beberapa inti atom. Ketika resonansi tersebut
terjadi, gerakan inti atom saling selaras seperti halnya pada contoh ayunan
dan biola. Hal yang penting dari kejadian ini adalah resonansi mendorong
reaksi nuklir yang mempengaruhi inti atom. 35
Ketika menyelidiki bagaimana karbon dibuat oleh raksasa
merah, Edwin Salpeter menyarankan adanya resonansi antara inti atom helium
dan berilium yang mendorong reaksi tersebut. Resonansi ini, menurutnya,
membuat atom-atom helium lebih mudah berfusi menjadi berilium, dan ini
menyebabkan reaksi di raksasa merah. Namun, penelitian selanjutnya gagal
untuk mendukung gagasan ini.

Fred Hoyle adalah orang pertama yang menemukan keseimbangan luar
biasa pada reaksi nuklir yang terjadi di raksasa merah. Meskipun ateis,
Hoyle mengakui bahwa keseimbangan ini tidak dapat dijelaskan sebagai
kebetulan dan merupakan sebuah pengaturan yang disengaja. |
Fred Hoyle adalah ahli astronomi kedua yang menjawab pertanyaan
ini. Hoyle mengembangkan gagasan Salpeter lebih lanjut, dengan memperkenalkan
gagasan "resonansi ganda". Hoyle menyebutkan harus terdapat dua resonansi:
satu yang menyebabkan dua helium berfusi menjadi berilium, dan satu lagi
menyebabkan helium ketiga bergabung dengan formasi yang tidak stabil ini.
Tak seorang pun percaya kepada Hoyle. Gagasan resonansi selaras yang terjadi
sekali saja sudah sulit untuk diterima; apalagi resonansi tersebut terjadi
dua kali, sama sekali tidak terpikirkan. Hoyle menekuni penelitiannya
selama bertahun-tahun, dan pada akhirnya dia membuktikan bahwa gagasannya
benar: Sungguh-sungguh terjadi resonansi ganda pada raksasa merah. Tepat
pada saat dua atom helium beresonansi untuk bergabung, atom berilium muncul
dalam satu per-juta-miliar detik yang diperlukan untuk menghasilkan karbon.
George Greenstein menjelaskan mengapa resonansi ganda merupakan mekanisme
yang luar biasa:
Terdapat tiga struktur yang sama sekali
terpisah dalam cerita ini-helium, berilium dan karbon dan dua resonansi
yang sama sekali terpisah. Sulit untuk melihat mengapa inti-inti atom
ini harus bekerja sama dengan mulus... Reaktor nuklir lain tidak berlangsung
dengan serangkaian kebetulan yang luar biasa... Ini seperti menemukan
resonansi yang dalam dan rumit antara mobil, sepeda, dan truk. Mengapa
struktur yang sama sekali berbeda dapat bersatu dengan begitu sempurna?
Keberadaan kita, dan seluruh bentuk kehidupan di alam semesta, bergantung
pada proses ini. 36
Pada tahun-tahun berikutnya, ditemukan bahwa
unsur lain seperti oksigen juga terbentuk dari resonansi yang begitu mengagumkan.
Temuan penganut materialis tulen Fred Hoyle atas "transaksi luar biasa"
ini memaksanya untuk mengakui dalam bukunya Galaxies, Nuclei and Quasar,
bahwa resonansi ganda seperti itu pastilah hasil rancangan dan bukan kebetulan.37
Dalam makalah lain, dia menulis:
Jika Anda ingin menghasilkan karbon dan
oksigen dalam jumlah yang hampir sama dengan cara sintesis-inti bintang,
ini adalah dua tingkat yang harus Anda tetapkan, dan penetapan Anda harus
tepat pada tingkat di mana tingkat ini ditemukan.... Penafsiran yang masuk
akal atas fakta ini menyarankan bahwa kecerdasan super telah mempermalukan
para ahli fisika, juga ahli kimia dan biologi, dan bahwa tidak ada kekuatan
buta yang layak disebutkan di alam. Angka yang dihitung dari fakta itu
begitu menyesakkan saya sehingga hampir tidak mungkin mengeluarkan kesimpulan
ini. 38
Hoyle menyatakan bahwa kesimpulan yang tak terpungkiri dari
kebenaran nyata ini jangan sampai diabaikan oleh ilmuwan lain.
Saya tidak percaya ilmuwan yang mempelajari
kenyataan ini akan gagal menarik kesimpulan bahwa hukum fisika nuklir
telah dirancang dengan sengaja dengan memperhatikan konsekuensi-konsekuensi
yang mereka hasilkan di dalam bintang.39
Kebenaran nyata ini telah disebutkan dalam Al Quran 1400
tahun yang lalu. Allah menunjukkan keserasian dalam penciptaan langit
dalam ayat:
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan
langit bertingkat-tingkat?" (QS. Nuh, 71: 15)
Laboratorium Alkimia yang Lebih Kecil: Matahari
Perubahan helium menjadi karbon yang telah dijelaskan merupakan
alkimia raksasa merah. Di dalam bintang yang lebih kecil seperti matahari
kita, bentuk alkimia yang lebih sederhana terjadi. Matahari mengubah hidrogen
menjadi helium dan reaksi ini merupakan sumber energinya.
Reaksi ini tidak kurang penting bagi keberadaan kita dibandingkan
dengan reaksi di raksasa merah. Lebih lanjut, reaksi nuklir di matahari
juga merupakan proses yang dirancang, seperti halnya di raksasa merah.
Hidrogen, unsur masukan reaksi ini, adalah unsur paling sederhana
di alam semesta dengan hanya memiliki proton tunggal dalam intinya. Inti
helium memiliki dua proton dan dua neutron. Proses yang terjadi di matahari
adalah penggabungan empat atom hidrogen menjadi satu atom helium.

Matahari adalah reaktor nuklir raksasa yang terus-menerus mengubah
atom hidrogen menjadi atom helium dan menghasilkan panas dari proses
tersebut. Namun yang penting untuk proses ini adalah ketepatan luar
biasa yang membuat reaksi-reaksi ini seimbang di dalam matahari.
Perubahan sedikit saja pada salah satu gaya yang mengatur reaksi
ini akan menyebabkan kegagalan reaksi atau ledakan berkelanjutan
yang menghancurkan. |
Sejumlah besar energi dilepaskan dari proses ini. Hampir
semua energi panas dan cahaya yang mencapai bumi merupakan hasil dari
reaksi nuklir matahari ini.
Seperti reaksi yang terjadi di raksasa merah, reaksi nuklir
matahari ternyata melibatkan sejumlah aspek yang mengejutkan yang tanpanya
reaksi tersebut tidak akan berjalan. Anda tidak dapat begitu saja mencampur
empat atom hidrogen menjadi sebuah atom helium. Agar hal ini terjadi,
diperlukan proses dua tahap, seperti yang terjadi di raksasa merah. Pada
langkah pertama, dua atom hidrogen bergabung membentuk inti antara yang
disebut deuteron terdiri dari sebuah proton dan sebuah neutron.
Gaya apa yang cukup besar untuk menghasilkan deuteron dengan
mencampurkan dua inti bersama? Gaya ini disebut "gaya nuklir kuat", salah
satu dari empat gaya dasar alam semesta yang telah disebutkan pada bab
sebelumnya. Ini adalah gaya fisik yang paling kuat di seluruh alam semesta
dan besarnya bermiliar-miliar-miliar-miliar kali lebih besar daripada
gaya gravitasi. Hanya gaya ini, bukan lainnya, yang mampu menyatukan dua
inti seperti ini.
Sekarang, hal paling aneh dari peristiwa ini
adalah penelitian telah menunjukkan bahwa, sebegitu kuatnya gaya nuklir
kuat ini, namun hanya cukup kuat untuk melakukan tepat apa yang selama
ini telah dilakukannya. Jika hanya sedikit lebih lemah, maka gaya ini
tidak mampu menyatukan dua inti. Sebaliknya, dua proton yang saling berdekatan
akan segera saling menjauh, dan reaksi di matahari akan berhenti sebelum
dimulai. Dengan kata lain, matahari tidak akan ada sebagai bintang yang
memancarkan energi. Tentang hal ini, Greenstein menyatakan "Andai saja
gaya nuklir kuat sedikit lebih lemah, cahaya bagi dunia tidak akan pernah
menyala." 40
Bagaimana jika sebaliknya, gaya nuklir kuat sedikit lebih
kuat? Untuk menjawabnya, mula-mula kita harus mempelajari proses perubahan
dua inti hidrogen menjadi inti deuteron dengan lebih terperinci. Pertama,
salah satu proton membuang muatannya untuk menjadi neutron. Neutron ini
bergabung dengan proton menjadi deuteron. Gaya yang menyebabkan penyatuan
ini disebut "gaya nuklir kuat"; gaya yang mengubah proton menjadi neutron
adalah gaya yang berbeda yang disebut "gaya nuklir lemah". Tetapi lemah
hanya dalam perbandingan, dan memerlukan sepuluh menit untuk melakukan
pengubahan. Pada tingkat atom, ini adalah waktu yang begitu lama dan berakibat
memperlambat laju reaksi di matahari.
Mari kita kembali ke pertanyaan kita: Apa yang akan terjadi
jika gaya nuklir kuat sedikit lebih kuat? Jawabannya adalah reaksi di
matahari akan jauh berubah sebab gaya nuklir lemah akan lenyap dari reaksi.
Jika gaya nuklir kuat lebih kuat dari yang ada, ini akan
mampu menggabungkan dua proton seketika tanpa menunggu sepuluh menit
yang diperlukan bagi proton untuk berubah menjadi neutron. Hasilnya akan
terbentuk sebuah inti dengan dua proton bukannya deuteron. Ilmuwan menyebut
inti seperti itu sebagai diproton. Sejauh ini, diproton adalah unsur teoretis
sebab belum pernah teramati terjadi secara alamiah. Namun jika gaya nuklir
kuat lebih kuat daripada sesungguhnya, maka akan terbentuk diproton nyata
di matahari. Lantas apa? Dengan menghilangkan perubahan proton menjadi
neutron, kita akan menghilangkan "penyumbatan" yang menjaga "mesin" matahari
bekerja selambat sekarang. George Greenstein menjelaskan apa yang akan
terjadi:
Matahari akan berubah, sebab tahap pertama
dalam pembentukan helium bukan lagi pembentukan deuteron. Ini akan menjadi
pembentukan di-proton. Dan reaksi ini sama sekali tidak memerlukan pengubahan
proton menjadi neutron. Peran gaya nuklir lemah akan berakhir, dan hanya
gaya nuklir kuat yang terlibat... dan sebagai hasilnya, bahan bakar matahari
tiba-tiba akan menjadi sangat ampuh. Matahari dalam keadaan ini akan begitu
kuat, begitu reaktif sehingga matahari dan setiap bintang yang lain akan
meledak seketika. 41
Ledakan matahari akan menyebabkan dunia dan isinya terbakar,
membuat planet biru kita beserta isinya hangus dalam beberapa detik. Disebabkan
gaya nuklir kuat yang telah disesuaikan dengan tepat untuk tidak lebih
kuat atau lebih lemah, laju reaksi nuklir matahari melambat dan matahari
mampu memancarkan energi untuk bermiliar-miliar tahun. Penyesuaian yang
teliti ini memungkinkan manusia untuk hidup. Jika terdapat sedikit saja
penyimpangan dalam pengaturan ini, bintang-bintang (termasuk matahari)
tidak akan terbentuk, kalaupun terbentuk akan segera meledak.
Dengan kata lain, struktur matahari bukanlah
kebetulan atau ketidaksengajaan. Sungguh kebalikannya: Matahari telah
diciptakan bagi kehidupan manusia, sebagaimana dinyatakan dalam ayat:
"Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan." (QS.
Ar-Rahmaan, 55: 5)
REAKSI KRITIS DI MATAHARI
1. Bawah: Empat atom hidrogen di matahari bergabung menjadi
sebuah atom helium.

| Inti hidrogen dengan proton tunggal |
Inti helium dengan dua proton dan
dua neutron |
2.Bawah: Ini adalah proses dengan dua
langkah. Mula-mula dua atom hidrogen berfusi membentuk sebuah deuteron.
Perubahan ini sangat pelan dan yang membuat matahari terbakar terus-menerus.
| Inti hidrogen dengan
proton tunggal |
Inti deuteron dengan
sebuah proton dan neutron |
3.Jika gaya nuklir sedikit lebih kuat, sebuah di-proton
akan terbentuk bukannya sebuah deuteron. Tetapi, reaksi seperti itu tidak
dapat dipertahankan untuk waktu lama: Ledakan berkelanjutan yang menghancurkan
akan terjadi hanya dalam beberapa detik.
| Single-proton hydrogen
nuclei |
Di-proton nucleus with
two proton |
Proton dan Elektron
Sejauh ini kita telah mengkaji hal-hal yang terkait dengan
gaya yang mempengaruhi inti atom. Terdapat keseimbangan lain dalam atom
yang harus diperhatikan: keseimbangan antara inti dan elektron.

Baik massa maupun volume sebuah proton jauh lebih besar daripada
elektron, namun anehnya, kedua partikel ini memiliki muatan listrik
yang besarnya sama (meskipun berlawanan). Karena kenyataan ini, atom
bermuatan listrik netral. |
Dalam bahasa paling sederhana, elektron mengitari inti. Penyebabnya
adalah muatan listrik. Elektron memiliki muatan negatif dan proton memiliki
muatan positif. Muatan yang berlawanan saling tarik, sehingga elektron
sebuah atom akan tertarik ke inti. Namun elektron juga berputar dengan
kecepatan sangat tinggi yang dalam keadaan normal akan melontarkannya
dari inti atom. Dua gaya ini (saling tarik dan daya lontar) seimbang sehingga
elektron bergerak pada orbit mengitari inti.
Atom juga seimbang dalam hal muatan listrik: Jumlah elektron
yang mengorbit sama dengan jumlah proton dalam inti (misalnya, oksigen
memiliki delapan proton dan delapan elektron.). Dengan cara ini gaya listrik
dalam atom seimbang, dan dari sisi listrik, atom bermuatan netral.
Sejauh ini, begitu banyak perihal kimia dasar. Namun terdapat
satu hal dalam struktur yang kelihatan sederhana ini yang diabaikan banyak
orang. Proton jauh lebih besar daripada elektron dari sisi ukuran dan
berat. Seandainya elektron adalah biji kacang, maka proton akan sebesar
manusia. Secara fisik mereka jauh berbeda.
Namun muatan listrik mereka besarnya sama!
Meskipun muatan mereka (elektron negatif, proton positif)
berlawanan, besarnya sama. Tidak ada alasan jelas kenapa hal ini terjadi.
Lebih meyakinkan (dan "masuk akal") jika sebuah elektron memiliki muatan
yang jauh lebih kecil.
Jika hal ini benar, apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apa yang akan terjadi adalah setiap atom dalam alam semesta
akan bermuatan positif bukannya netral. Dan karena muatan yang sama saling
tolak, setiap atom di alam semesta akan mencoba dan menolak setiap atom
yang lain. Alam seperti yang kita ketahui tidak akan ada.
Apa yang akan terjadi jika hal itu tiba-tiba terjadi sekarang?
Apa yang akan terjadi jika setiap atom mulai saling tolak?
Hal yang sangat luar biasa akan terjadi. Mari kita mulai
dari perubahan tubuh kita sendiri. Begitu hal ini terjadi, tangan dan
lengan yang memegang buku ini akan seketika berantakan. Dan tidak hanya
tangan, melainkan juga kaki, mata, gigi, dan setiap bagian tubuh akan
meledak dalam kurang dari satu detik.
Ruangan tempat Anda duduk dan dunia sekitar akan meledak
dalam sesaat. Seluruh lautan, gunung, planet dalam tata surya, bintang
serta galaksi di alam semesta akan berantakan menjadi debu atom. Dan tidak
akan ada sesuatu pun di alam semesta yang dapat diamati. Alam semesta
akan menjadi sekumpulan atom tak beraturan yang saling tolak.
Seberapa besar perbedaan muatan listrik antara proton dan
elektron untuk menjadikan hal mengerikan tersebut terjadi? Satu persen?
Seper-sepuluh persen? George Greenstein menjawab pertanyaan ini dalam
buku The Symbiotic Universe:
Benda kecil seperti batu, manusia, dan
sebagainya akan terbang berantakan jika kedua muatan berbeda sekecil satu
bagian dalam 100 miliar. Struktur lebih besar seperti bumi dan matahari
memerlukan keseimbangan yang lebih sempurna untuk keberadaan mereka sampai
satu bagian dari semiliar-miliar. 42
Ini adalah keseimbangan lain yang dengan
tepat disesuaikan, yang membuktikan bahwa alam semesta dengan sengaja
dirancang dan diciptakan untuk tujuan tertentu. Seperti diungkapkan John
D. Barrow dan Frank J. Tipler dalam buku "The Anthropic Cosmological Principle",
"terdapat rancangan besar dalam alam semesta yang memungkinkan perkembangan
makhluk hidup berkecerdasan". 43
Tentu saja setiap rancangan membuktikan keberadaan "perancang"
dengan kesadaran. Dialah Allah, "Penguasa seluruh alam", dijelaskan dalam
Al Quran sebagai satu-satunya Kekuatan yang menciptakan alam semesta dari
kehampaan, merancang, dan membentuknya atas kehendak-Nya. Sebagaimana
disebutkan dalam Al Quran:
"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit?
Allah telah membinanya. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya."
(QS. An-Naazi'aat, 79: 27-28)
Berkat keseimbangan luar biasa yang kita pelajari dalam bab
ini, materi mampu bertahan dengan stabil, dan kestabilan ini merupakan
bukti kesempurnaan ciptaan Allah sebagaimana disebutkan dalam Al Quran:
"Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan
di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk." (QS. Ar-Rum, 30: 26)
|